Are you the publisher? Claim this channel


Embed this content in your HTML

Search

Report adult content:

click to rate:

Account: (login)

More Channels


Channel Catalog


Channel Description:

Kumpulan Cerita Dewasa, Seks, Hot, 17 tahun, Lucu, Sex, Serem. Hanya Khusus Dewasa
  • 10/28/10--19:28: Bonus Bermain Playstation
  • Cerita Dewasa - Aku bernama Joe dan aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang lumayan terkenal di bilangan Jakarta Selatan karena banyak orang asing yang tinggal di sana. Hobbiku adalah bermain Play Station dan karena hobbiku ini aku dapat bercinta dengan sesama Play Station fans.

    Mungkin para pembaca akan mengira bahwa hanya cowok yang bermain Play Station. Aku berani menyebutkan bahwa cewek juga gemar bermain Play Station karena aku mengenal seorang gadis penunggu arena permainan Play Station di dekat rumahku yang gemar sekali bermain Play Station. Setiap kali aku datang ke tokonya, dia selalu memainkan game favoritnya yang berjudul Final Fantasy 8.

    Karena aku sering datang bermain di rumahnya yang sekaligus menjadi tokonya, aku mengenal dia lebih akrab. Dia adalah Melly, salah seorang mahasiswa dari sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku sering datang bermain Play Station di rumahnya ketika dia tidak membuka tokonya sehingga aku tidak mendapat gangguan dari konsumennya yang biasanya tergolong anak-anak kampung yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

    Aku dan Cik Melly sudah akrab meskipun dia lebih tua dariku setahun. Cik Melly bahkan sering menceritakan kisah pribadinya di mana dia ditinggal oleh Irwan, kekasihnya karena Irwan menikah dengan cewek lain dan yang lebih gilanya, Irwan telah mengambil perawan Cik Melly dengan paksa dan mencampakkannya begitu saja.

    Suatu ketika, aku datang ke rumahnya ketika dia telah menutup tokonya karena hari sudah sore dan aku melihat dia sedang asyik memencet-mencet joystick sambil berteriak-teriak kesal setiap kali karakter jagoannya kena tembakan dari musuhnya. Aku memanggil namanya dari belakang yang membuatnya kaget dan berteriak histeris. Aku cuma tersenyum ketika dia marah-marah karena permainannya telah berakhir dalam sekejap akibat gangguanku saat itu.

    Melly kemudian menyuruhku untuk tidak menganggunya karena dia sedang serius untuk menamatkan game Final Fantasy 8 tersebut. Aku hanya duduk di lantai di dekat TV sambil memperhatikan TV dan gerakan-gerakan tangannya yang memencet joystick dengan lihainya. Lama-lama aku menjadi bosan karena melihat dia asyik bermain dan aku mencoba menganggunya dengan cara yang lain.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Aku mendekati dia yang sedang bermain dan aku duduk tepat di depan selangkangannya karena dia duduk di kursi sementara aku berada di bawah kursi. Aku memperhatikan celana dalam warna merah mudanya yang tertutup oleh roknya yang sangat mini. Aku mendadak menjadi terangsang dan mencoba memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dengan lihainya, aku memasukkan tanganku dan jari-jariku bermain di sekitar kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya. Gerakan-gerakan jari-jariku memberikan respon yang sangat kuharapkan karena aku dapat merasakan basahnya liang kenikmatannya karena gerakan jari-jariku. Cik Melly mendesah kenikmatan sambil terus memencet joystick-nya dan karena dia tidak konsentrasi, dia akhirnya mematikan Power Play Station dan mendekatiku yang sedang duduk di depan selangkangannya.

    “Joe, kamu nakal yah sama Cik Melly, sekarang Cicik mesti membalas kamu”, dia berkata sambil menunjukkan telunjuknya ke arahku. Aku hanya tersenyum saja dan dia tiba-tiba menciumku yang masih berada di bawah kursi di mana dia barusan duduk. Aku kaget bercampur senang dan tanpa membuang kesempatan, aku langsung menelanjanginya di dekat TV karena aku juga sudah terangsang memperhatikan dia sewaktu dia bermain Play Station barusan.

    Aku mencium bibir Cik Melly dan Cik Melly juga memainkan lidahnya di dalam mulutku, sementara tanganku secara refleks bermain-main di daerah selangkangannya yang membuat nafasnya semakin memburu dan aku tahu bahwa dia menuntut lebih dari sekedar cumbuan. Aku kemudian berpindah posisi karena sekarang wajahku mendekati liang kewanitaannya dan mulai menjilatinya dengan liar sementara tanganku mulai memencet puting payudaranya dan seakan-akan aku sedang memainkan “tuts joystick” milik Cik Melly. Cik Melly menjawabnya dengan desahan-desahan kecil sehingga membuat batang kemaluanku semakin menegang dan aku semakin ingin merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang “Play Station” girl.

    Dengan nafsu dan tanpa aba-aba dari Cik Melly, aku memasukkan batang kemaluanku yang telah menegang ke dalam liang kenikmatannya sehingga matanya yang sipit menjadi besar dari biasanya dan dia menggigit bibirnya seakan-akan sedang menahan sesuatu yang nikmat bercampur sakit karena batang kemaluanku yang termasuk besar di saat aku sedang terangsang. Aku terus menggenjot tubuh Cik Melly karena aku sangat menyukai jepitan-jepitan liang kewanitaan tubuh cewek penggemar Play Station ini. Aku merasakan nikmat sekali dan tak berapa lama, Cik Melly bergetar hebat dan melenguh dengan hebatnya dan di saat yang bersamaan, aku dapat merasakan batang kemaluanku dibanjiri oleh cairan kenikmatan Cik Melly dan tentunya aku merasakan nikmatnya cairan Cik Melly dan aku langsung mencium bibirnya yang ranum.

    Aku masih belum puas dan Cik Melly nampaknya sudah kelelahan. Aku kemudian mencoba ide yang aneh di saat Cik Melly sedang kecapaian. Aku memang pernah praktikum Fisika Listrik sewaktu di SMP sehingga aku memiliki cukup pengetahuan mengenai listrik dan alirannya. Dengan ide tersebut, aku memasang kembali power plug dari Play Station yang baru saja dia matikan dan aku mencabut kabel main power dari Play Station tersebut. Dengan sedikit keahlianku di bidang listrik, aku berhasil meredam kekuatan listriknya sehingga main power yang bisa menyetrum orang sekarang menjadi tidak bahaya lagi. Kemudian, aku mendekatkan kabel tersebut ke liang kewanitaan Cik Melly. Aku melihat adanya percikan-percikan listrik yang kecil kekuatannya akibat tercampurnya kabel main power tersebut dengan cairan kewanitaan dari Cik Melly.

    Setruman-setruman kecil di dalam tubuh Cik Melly membuat Cik Melly menjadi mendesah dan kadang-kadang bercampur dengan lenguhan yang terdengar erotik. Aku menyukai permainan ini dan aku semakin mencoba membesarkan voltage dari kilikan-kilikanku sehingga aku berhasil membuat Cik Melly bergetar beberapa kali karena dia pasti merasakan nikmatnya seks karena setruman-setruman listrik yang voltage-nya telah kuatur sehingga tidak membahayakan dirinya dan tentunya bisa memberikan kenikmatan yang belum pernah dia terima seumur hidupnya.

    “Joee, udah.. Joe.. gue bisa gila nih kalo elu lakuin terus-menerus”, katanya yang selalu diiringi dengan lenguhan dan desahan yang membuatku semakin terangsang dan ingin menyetubuhinya setelah aku puas mengerjainya. Aku melepaskan plug dan mencabut kabel dari liang kewanitaannya. Sekarang aku melihat liang surganya yang penuh dengan cairan kewanitaannya dan Cik Melly mengaku bahwa dia telah klimaks selama 10 kali sewaktu aku memasukkan kabel ke dalam liang kenikmatannya.



    Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan batang kemaluanku yang semakin menegang dan dengan nafsunya, aku langsung menghujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kugenjot tubuhnya sehingga dia nampak kewalahan karena dia telah klimaks beberapa kali sehingga aku yakin bahwa dia merasakan kelelahan yang bercampur dengan rasa kenikmatan tapi aku tetap tidak peduli karena aku terus menggenjot tubuhnya.

    Selama satu jam kemudian setelah aku menggenjot tubuhnya yang putih mulus tersebut, aku menjadi tidak tahan oleh jepitan-jepitan liang kewanitaannya sehingga aku semakin semangat menggenjot tubuhnya dan di saat yang bersamaan kami sama-sama melenguh karena kami mengeluarkan sensasi klimaks tersebut secara bersamaan. Aku jatuh kelelahan di atas tubuhnya yang putih bersih itu. Tak lama kemudian, aku kembali mencium bibirnya yang mungil dan mengulum lidahnya di dalam bibirku.

    Aku memang sudah puas setelah menggaulinya tetapi aku masih belum puas untuk mengerjainya. Cik Melly masih kelelahan karena kenikmatan yang baru saja diterimanya. Aku kemudian menyuruhnya untuk membentuk posisi anjing dengan tubuhnya menghadap ke arah TV sementara perutnya beralaskan kursi yang dia gunakan barusan untuk bermain Play Station. Setelah dia membentuk posisi tersebut, aku meninggalkannya dan menyalakan Play Station sampai dia siap memainkan game Final Fantasy 8 kegemarannya. Tidak berapa lama setelah dia memainkan permainannya yang telah dia save sebelumnya. Dia masih asyik bermain game favouritnya dan aku sedang asyik mengocok batang kemaluanku yang masih lemas karena baru saja memuntahkan cairan kenikmatan di dalam liang kenikmatan Cik Melly.

    Aku menjadi terangsang kembali karena melihat posisi tubuh Cik Melly apalagi disertai oleh tubuhnya yang putih bersih karena tidak berbusana sama sekali. Aku kemudian mendekati Cik Melly yang sedang membelakangiku, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam anus Cik Melly sehingga keseriusannya bermain berubah mendadak, karena dia tiba-tiba menjatuhkan joystick dan menjerit-jerit karena batang kemaluanku telah menguasai anusnya yang kecil. Aku terus menggenjot anus Cik Melly sambil mengusap-usap punggung putih Cik Melly. Cik Melly terlihat mulai menyukai permainanku karena teriakan-teriakan kesakitannya telah berubah menjadi desahan dan lenguhan panjang yang membuat batang kemaluanku menjadi semakin nikmat.

    Cik Melly asyik meresapi genjotan batang kemaluanku yang berada di anusnya tanpa memperhatikan TV yang masih menyala dengan game kesukaannya. Aku terus menggenjotnya sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu yang ingin kuledakkan ke dalam anusnya, kupercepat dan akhirnya, “Arghh..”, aku kejang sesaat karena aku sedang melampiaskan nafsuku dan aku memeluk Cik Melly dengan erat sekali. Cik Melly kemudian membalikkan badannya dan menciumku dengan senyumannya yang cantik sekali dan penuh dengan rahasia. Sebagai tanda terima kasihnya, Cik Melly memberikanku gratis bermain Play Station selama 1 bulan bahkan ketika Customer dia telah pulang semua, aku bisa mengajak dia “main” bersamaku tentunya setelah aku bosan bermain Play Station.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 11/26/10--04:03: Belah Duren
  • Cerita Dewasa - Kuingat pada hari itu setelah selesai resepsi pernikahan kami, yang dilakukan pada siang hari, kami berdua beserta rombongan keluarga kembali ke rumah baru kami. Rombongan keluarga kami, pada jam 8 malam kembali ke rumah mereka masing-masing, sehingga akhirnya aku dan Mas Ferry hanya tinggal berdua saja di rumah kami itu. Pada saat itu Mbok Minah, pembantu rumah kami itu belum ada, karena kupikir apa-apa di rumah dapat dikerjakan sendiri. Aku mandi duluan sebab badanku sudah merasa gerah setelah seharian sibuk dengan acara pesta yang padat itu.

    Setelah selesai mandi dengan mengenakan daster, aku duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Kemudian Mas Ferry yang pada saat itu hanya bercelana pendek, kusuruh mandi. Mas Ferry untuk ukuran umum dapat dikatakan termasuk tampan. Warna kulitnya agak gelap kehitaman, pada wajahnya ada tumbuh rambut halus di dagu dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 cm, otot-ototnya menonjol kuat.

    Setelah selesai mandi Mas Ferry dengan santai duduk di sebelahku sambil ikut mengawasi televisi yang remotenya masih di tanganku, "Mar, apakah kamu capai?" tanya Mas Ferry. "Tidak Mas, memangnya ada apa?" jawabku lugu, karena memang aku sesungguhnya tidak menyadari apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Rupanya Mas Ferry yang telah sangat bernafsu, mendengar jawabanku itu, tanpa ba bi bu segera menarik badanku dan membekapku erat-erat dan sebelum aku menyadari benar apa yang sedang terjadi, kedua tangan Mas Ferry dengan cepat segera menguak dasterku dan sekalian ditariknya lepas BH-ku sehingga kedua buah dadaku yang ranum segera seolah-olah melompat keluar. Mas Ferry terpesona melihat bentuk buah dadaku yang indah, yang warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan, serta puting kecil menantang di ujungnya.

    Aku mula-mula mencoba memberontak, akan tetapi aku segera sadar bahwa sekarang aku adalah istri dari Mas Ferry. Badanku segera dipeluknya dan disandarkan pada sandaran sofa, mulutnya langsung menuju puting susuku, kurasakan lidahnya lincah bergerak menjilat-jilat puting susuku, menimbulkan suatu perasaan aneh, geli yang tidak dapat kulukiskan, yang menjalar keseluruhan badanku.

    Hal ini membuat aliran darahku bertambah cepat dan badanku tiba-tiba merasa panas, puting susuku terasa semakin mengeras, sesekali kurasakan gigitan kecil gigi Mas Ferry menggores putingku. Pada bagian perutku kurasakan ada benda yang membonggol besar mendesak dan menekan hebat. Bibirku juga tak luput dari lumatannya, terasa habis dilumat bibirku, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tiba-tiba tangan kanannya mulai meluncur ke bawah menuju ke arah kemaluanku yang masih tertutup dengan CD, diselipkan tangannya di antara pahaku.

    Aku agak terkejut, sehingga otomatis kedua pahaku kututup rapat-rapat dan kedua tanganku memeluk Mas Ferry erat-erat, Mas Ferry semakin gencar saja melakukan aktivitasnya, kemudian ditarik dasterku sampai terlepas dan perlahan-lahan celana dalamku dilucuti juga sambil tersenyum.

    Setelah itu dengan sigap direnggangkannya kedua pahaku, sehingga dengan leluasa Mas Ferry dapat melihat kemaluanku yang padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek kemaluanku yang sudah agak basah itu dengan halus, kemudian dimasukkannya jari tengah perlahan-lahan ke dalam lubang kemaluanku, sedangkan ibu jari dan jari jempolnya menekan bibir-bibir kemaluanku, membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klitorisku terasa kaku, sambil jari-jarinya bermain-main di kemaluanku, mulutnya menjilat dan menyedot buah dadaku sampai aku kegelian dan tiba-tiba dia berhenti menyedot buah dadaku dan badannya melongsor ke lantai dan kini Mas Ferry jongkok diantara kedua pahaku, yang dengan perlahan-lahan dikuakkan, sehingga terbuka dan kepalanya dimajukan kearah pangkal pahaku dan kurasakan mulutnya sudah menempel pada kemaluanku.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Merasakan lidahnya yang basah dan hembusan nafasnya pada pangkal pahaku membuatku menggelinjang kegelian, lebih-lebih ketika kurasakan lidahnya menyapu bersih ruang dalam kemaluanku yang telah basah itu, sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan klitorisku. "Aaagghhh.. Maasss.. aduuh..!" aku mengerang-erang dan mengeliat-geliat kegelian, tapi dia tidak mempedulikannya, diteruskan aktivitasnya mempermainkan klitorisku.

    Selang sesaat, aku disuruhnya duduk di lantai, diantara kedua kaki Mas Ferry yang duduk di atas sofa dan aku sangat kaget melihat benda bulat besar yang terletak diantara kedua paha Mas Ferry yang tegak menghadap ke atas, batang kemaluan Mas Ferry sungguh dahsyat, seperti batang kemaluan pemain blue film yang pernah dahulu satu kali kulihat di video yang diputar di rumah seorang teman wanitaku. Panjangnya kurang lebih 17 cm dengan kepalanya batang kemaluannya bulat besar seperti topi baja tentara dan batang kemaluannya berdiameter 3 cm, dilingkari oleh urat-urat yang menonjol. Mas Ferry hanya tersenyum saat melihat mataku yang terbelalak itu, sambil memegang batang kejantanannya dan digerak-gerakkan dengan tangannya, dia mengambil tanganku dan disuruhnya aku memegang batang kemaluannya.

    Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada batang kemaluannya yang besar dan panjang itu. Dalam posisi Mas Ferry duduk seperti itu, batang kemaluannya memanjang di atas perutnya sampai mencapai pusarnya. Aku merinding dan takut juga melihatnya benda panjang, bulat berwarna hitam mengkilap mendongak seperti belut besar itu.

    Tanpa sadar badanku menggelinjang dan terasa ngilu pada perut bagian bawahku, membayangkan benda tersebut menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit itu. "Kenapa kok diplototin seperti itu!" tanyanya.

    "Eh... aku heran kok, kayak gini besarnya ya? apa cukup nggak ya ini masuk ke dalam punyaku nanti?" jawabku sambil tetap memegangnya. Belum selesai aku melanjutkan omonganku, ditekan kepalaku ke arah perutnya dan disorongkan ujung batang kemaluannya ke mulutku, dan... eeehmm, mulutku tak muat menampung semua batang kemaluannya ke dalam.

    Kurasakan aneh juga seperti sedang mengulum es cream horn saja, aku mencoba melakukan seperti apa yang pernah kulihat pada VCD porno itu, aku mencoba memainkan lidahku dan mulutku maju mundur, sehingga batang kemaluannya menyembul tenggelam dalam mulutku. Tangannya juga tidak tinggal diam menggapai semua bagian tubuhku yang sensitif, sehingga aku semakin terangsang.

    Aku mencoba menjilat-jilat pula buah zakarnya, pada ujung batang kemaluannya, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan agak asin terus kuhisap sambil mencoba memasukkan kepala batang kemaluan Mas Ferry ke dalam mulutku, sampai mulutku tak mampu lagi menahan besarnya batang kemaluan Mas Ferry itu.

    Setelah puas aku mencium batang kemaluannya dan mengisap-isap kepala batang kemaluannya, sampai mulutku terasa capek, kemudian... "Mar, coba kamu tengkurap di pinggir sofa dan pegangi ujung sofa itu", perintahnya. Aku tidak mengerti maunya Mas Ferry, tapi kulakukan saja perintahnya, badanku setengah tengkurap di sofa dan kedua lututku berlutut di lantai sehingga pantatku terbuka, agak menungging ke atas. Tiba-tiba kurasakan batang kemaluan Mas Ferry dipukul-pukulkan pada pantatku sehingga aku kegelian, kemudian Mas Ferry menempatkan kepala batang kemaluannya menempel pada bibir kemaluanku dari belakang, rupanya Mas Ferry sudah akan melakukan penetrasi.

    "Masss.. pelan-pelan yaaa! jangan sampai sakit.. itunya Mas kan sangat besar!"
    "Jangan takut yaaanggg.." dengan perlahan-lahan Mas Ferry mendorong batang kemaluannya, sehingga terasa kepala batang kemaluannya masuk sebagian dan terjepit oleh kedua bibir liang kewanitaanku yang masih ketat itu. Perutku tertekan pada pinggir sofa dan kedua tangan Mas Ferry memegang pinggulku dengan erat-erat, sehingga pantatku tidak dapat digerakan untuk menghindari tekanan batang kemaluannya pada liang senggamaku, Mas Ferry melanjutkan tekanannya ke lubang kemaluanku sehingga terasa lubang kemaluanku terkuak dan dipenuhi oleh benda besar, kepala batang kemaluannya tertahan oleh sempitnya lubang kemaluanku, dia mencoba mendorong lagi dan gagal untuk menerobos masuk.

    "Aaaah... seret sekali ya, untuk menembus ke dalam.. susah juga kalo perawan", omongnya, akan tetapi Mas Ferry tidak kehilangan akal diambilnya hand & body lotion dan dioleskan pada kepala kemaluannya yang besar itu dan ke seluruh batangnya, kemudian dia mencoba lagi menekan secara perlahan-lahan sambil tangan satunya memegang batang kemaluannya dan tangannya yang lain membuka belahan pantatku. Perlahan-lahan tapi pasti kepala batang kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit, aku agak panik sebab kurasakan agak pedih pada bagian dalam kemaluanku.

    "Maasss, udah ah... nggak bisa masuk... terlalu besar sih", pintaku.
    "Sebentar... tahan dulu ya.. ini udah nyampe sepertiga lho!" jawabnya sambil dengan tiba-tiba kedua tangannya memeluk bagian perutku dan menariknya ke atas dan seluruh berat badannya menekan punggungku serta pantatnya didorong ke depan menempel pada pantatku. Akibatnya seluruh batang kemaluannya mendesak masuk ke dalam lubang kemaluanku dan, "Ssreeet... sret... sreeetttt." Aku pun menjerit lirih, "Aaauuu... aduuhh!" aku menjerit dengan keras karena, kurasakan bagian bawahku seakan-akan terbelah dan batang kemaluan Mas Ferry terasa tembus ke perutku hingga terasa di kerongkonganku.



    Kedua tangan Mas Ferry tetap mendekap perutku dengan kuat, sehingga biarpun aku menggelepar-gelepar dengan kuat tetap saja batang kemaluannya bisa menerobos keluar masuk liang kewanitaanku.

    Dengan pasti dan teratur Mas Ferry menggerak-gerakan pantatnya maju mundur sehingga lama-kelamaan batang kemaluannya mulai lancar keluar masuk pada kemaluanku. Aku mulai merasa kegelian yang tak tertahan, karena setiap kali batang kemaluannya ditekan ke dalam lubang kemaluanku, klitorisku ikut tertekan masuk, sehingga terasa sangat nikmat tergesek batang kemaluannya yang berurat itu.

    "Aduhh... eeengg.. eeennaak.. aaahh.. aduuhh.. Masss.. teeeruuskaaan.. Masss!". Terasa lubang kemaluanku terisi penuh sehingga napasku menjadi ngos-ngosan. Akhirnya seluruh badanku bergetar dengan hebat sehingga tersentak-sentak, aku mencapai orgasme dengan dahsyat dan cairan licin membanjir dari dalam liang kewanitaanku, "Ooohhh.. ooohh.. aaaduuuhh.. eeenaaakk" dan kurasakan kenikmatan itu menyambung terus saat batang kemaluan Mas Ferry maju mundur di celah liang kewanitaanku. Setelah kenikmatan yang dahsyat itu melandaku, aku terkapar dengan lemas di sofa.

    Kemudian Mas Ferry menepuk pantatku dan membalikkan badanku menghadap padanya, sehingga sekarang aku telentang di atas sofa dengan pantatku terletak di pinggir sofa dan kedua kakiku terjulur di lantai. Mas Ferry menguak kedua kaki lebar-lebar dan jongkok diantara kedua pahaku. Tangan kirinya menekan pinggulku dan ibu jari dan jari telunjukya menguak bibir kemaluanku, sedangkan tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang ditempatkan pada bibir kemaluanku.

    Kepala batang kemaluannya digosok-gosokan sebentar pada bibir kemaluanku, juga pada klitorisku, sehingga aku mulai terangsang lagi dan badanku mulai menggelinjang. Melihat itu Mas Ferry mulai menekan masuk batang kemaluannya ke dalam kemaluanku, setelah itu Mas Ferry menggenjot batang kemaluannya keluar masuk, buah dadaku dibiarkan bergerak bebas mengikuti irama dorongan pantat Mas Ferry, sementara tangan Mas Ferry memegang pinggulku dan menariknya ke atas, pantatnya tetap bekerja maju mundur.

    Saat batang kemaluan masuk, badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Mas Ferry menciumi buah dadaku sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk kemaluanku. Aku mulai merespon lagi dan berusaha dengan menggerakkan pantatku memutar ke kiri dan kanan. Batang kemaluan Mas Ferry terjepit dan terpelintir mengikuti gerakan pantatku, dia pun mulai mengerang dengan kuat.

    Dipegangnya kedua buah dadaku kuat-kuat dan ditarik masukkan batang kemaluan besarnya berulang-ulang sampai aku mulai kewalahan.

    "Aaahhh... Maaarrr.. aku mau keluar niihhh!" erangnya, kupercepat menggoyang pantatku karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini, aku ingin juga memberikan pada Mas Ferry kepuasan maksimal dan, "Aaahhh.. aduuhh.. oohhh!", diikuti oleh, "Ssreeet.. sreeettt... sreet.. crooottt.. crooottt.."

    Mas Ferry menekan kuat-kuat pantatnya, sehingga seluruh batang kemaluannya terbenam ke dalam kemaluanku dan buah pelernya menempel ketat pada lubang anusku. Aku merasa sangat geli dan terangsang dan kurasakan semprotan hangat air mani Mas Ferry menyemprot ke dalam liang kewanitaanku dan saking banyaknya terasa penuh liang kewanitaanku sehingga sebagian terasa mengalir keluar membasahi anusku dan menetes di sofa.

    Mas Ferry masih mengerang hebat dengan tubuhnya bergetar-getar kenikmatan dan aku gigit pentil dadanya, sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan di batang kemaluan Mas Ferry.

    Setelah itu kami pun terkulai lemas dan tidur sambil batang kemaluan Mas Ferry masih menancap di memekku. Begitulah hampir selama 2 minggu kami melakukan hubungan seks dan tiba saatnya ketika Mas Ferry harus berlayar karena masa cutinya sudah habis. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di pelabuhan. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupku dengan jadwal tugas Mas Ferry selang seling pergi bertugas di Riq dan tinggal di darat, di mana keadaan ini kami jalani hampir 5 (lima) tahun sampai sekarang.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 12/14/10--03:30: Anita Sepupuku
  • Cerita Dewasa - Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku asli/nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.

    Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.

    Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.

    Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).
    Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, "Wah temenku sih biasa begituan (ciuman)."
    Terus aku jawab, "Eh.. kok tau..?"
    Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai 'anu' teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.

    Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, "Eh, kamu mau juga nggak..?"
    Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
    Dia bahkan bertanya, "Sakit nggak sih..?"
    Ya kujawab saja, "Ya nggak tau lah, wong belum pernah... Gimana.., mau nggak..?"
    Anita berkata, "Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, 'anunya' jadi sakit."
    "Iya deh..!" jawabku.

    Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak 5 hari lalu dia sedang menstruasi.

    Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh 'anunya', dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.

    Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar 5 menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
    "Auw..," begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
    Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, "Eeessshhh..." desisnya.
    Lalu kutanya, "Gimana..? Sakit..?"
    Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.

    Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.

    Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
    "Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi." katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
    "Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?" tanyaku.
    "Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?" jawabnya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.

    "Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?" katanya.
    Ternyata dia melihatku, kujawab, "Iya ini sih tandanya aku masih normal..."
    Aku terus melanjutkan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
    Kubisiki dia, "Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?"

    Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.

    Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.

    "Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan." kataku.
    Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.

    "Eehhhsssttt... eehhhsssttt... Ouw.., eehhhsssttt... eehhhsssttt... eehhhssstt..." begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
    Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
    "Kocokkannya lebih pelan dong..!" kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
    Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
    Dan akhirnya, "Oh.., oohhh.. oohhh.. ohhh..." rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

    Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah 5 menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.

    Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia seperti ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
    "Eh, kamu udah selesai mens-nya..?" tanyaku.
    "Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?" katanya.

    Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.

    "Uhhh.. essshhh.. eessshhh.. essshhh..." begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
    Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.



    Tapi, "Auw.. diapaain Mas..? Eshhh.. uuhhh.." desisannya tambah mengeras.
    "Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!" sambil terus kukocokkan jariku.
    Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
    "Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?" pancingku.
    Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
    "Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?" tanyaku.
    Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.

    "Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu."
    "Mana.., mana.., oh ini ya..?" kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
    "Ahhh. auu.. enakkkk Maaasss... eeehhh... aaahhh.. truusss Masss, terusiinn.. ohhh..!"
    Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
    Dan akhirnya, "Uhh.. uhhh.. uuhhh.. ahhh.. aahhh.." dia mencapai klimaks.

    Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
    Lalu kubertanya, "Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini...? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!"
    Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.

    Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
    Kutekan lagi dan, "Auuuwww.. ehhssaaakkkiittt..!"
    Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
    "Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?" tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
    Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.

    Karena dia tetap diam, maka kulanjutkan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, "Wah aku memperawaninya nih."
    "Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?" tanyaku.
    "Uhhh.. tadi sakiiittt sich... uhhh. geeelii.." begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.

    Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan mulutku.

    Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orgasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, "Crot.. crot.. crot.." air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.

    Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menurutku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
    Sebelum tidur aku sempat berfikir, "Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!"

    Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
    "Wah, bisa hamil nich anak..!" pikirku.
    Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.

    Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak 'horny'. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 12/16/10--00:39: Anit Solehah
  • Cerita Dewasa - Namaku Andi. Aku seorang pria dengan tinggi badan sekitar 170 cm dan berat badan 75 kg. Aku termasuk orang yang pemalu. Aku berasal dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama.Hampir semua saudara wanita sepupuku menggunakan jilbab, karena aku membaca cerita2 porno, gambar porno dan akhirnya berujung pada masturbasi. Aku punya kebiasaan ini semenjak aku mengenal internet karena pengaruh kawan-kawanku di kampus dulu.Kebiasaan jelek ini tidak bisa aku hilangkan meski aku sudah beristri sekalipun.

    Dari sekian banyak cerita porno, aku paling terangsang ketika membaca cerita hubungan sedarah. Dan di saat sekarang, aku langsung teringat akan Anit. Aku jadi terobsesi ingin mempraktekkan apa yang ada di cerita-cerita tersebut pada diriku. Tapi apa daya, aku seorang pemalu, Anit juga seorang yang sangat sholehah, bahkan di hadapanku masih juga menjaga jaraknya. Aku memutar otak bagaimana caranya bisa dekat dengan Anit tapi tetap tak bisa sampai aku putus asa.

    Sampai pada satu hari yang sangat tak diduga, aku sampai di rumah pada siang hari. Hal ini jarang terjadi karena aku biasanya pulang paling cepat jam 6 sore. Tapi hari itu, semua karyawan dipulangkan lebih awal. Aku sampai ke rumah sekitar pukul satu siang. Kuketuk berkali-kali pintu rumah, tak ada jawaban. Mungkin karena rumah kami sangat panjang hingga ketukan tak terdengar.

    Akhirnya aku buka pintu, ternyata tidak dikunci. Kudengar suara televisi lumayan keras dan aku pun langsung menuju ke kamarku yang melewati ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku melihat sesosok tubuh wanita berpakaian sexy terhampar di hadapanku. Aku melihat Anit sedang tertidur di atas karpet dan Anit mengenakan daster tipis. Mungkin ia mengenakan itu karena hari yang sangat panas siang itu. Tangannya memegang remote yang hampir terlepas.

    Dan yang paling indah, sebuah payudaranya nongol keluar karena dia lagi menyusui anaknya yang paling kecil. Dua anak yang lainnya sedang tertidur di kamar yang lain. Aku tercengang melihat kejadian tersebut. Saat-saat yang kuimpikan akhirnya terjadi juga. Aku bisa melihat wajahnya yang putih tanpa jilbab ditambah bonus sebuah payudaranya yang indah dengan ukuran sekitar 36B. Woww..indahnya. Aku terdiam sejenak di hadapannya. Dengan segenap keberanian aku dekatkan diriku menuju Anit.

    Aku dengan malu malu mau menggerakkan tanganku menyentuh putingnya sedikit saja. Ternyata Anit sama sekali tak bergerak, mungkin saking lelap tidurnya. Akhirnya aku beranikan diri, aku angkat anaknya yang paling kecil dan kupindahkan ke kamar dengan hati-hati. Akhirnya tinggal Anit sendirian tertinggal di ruang tamu. Aku dekati tubuh Anit, kemudian aku ulangi sekali lagi perbuatanku dengan menyentuh putingnya. Kumainkan putingnya dan lama-lama putingnya tegak berdiri.

    Aku yang pemalu tapi lebih tak tahan lagi menahan napsuku, akhirnya aku beranikan mulutku menyusui putingnya yang sudah menegang. Ohhh nikmatnya puting susu Anit...ada ASInya lagi. Ohhh..enak banget. Suara desahan pun terdengar sedikit-sedikit, aku perhatikan wajah Anit, ternyata matanya masih tertutup rapat. Aku makin menggila, kubuka semua pakaianku sehingga aku sekarang telanjang. Aku dekati lagi Anit dan kubuka perlahan lahan daster tipisnya.

    Sekarang keadaan sudah seimbang. Anit dan aku sudah sama sama tidak berpakaian. Aku yang pemalu sepertinya sudah hilang kemaluanku, tapi "kemaluanku" yang lain justru tambah membesar menyaksikan tubuh polos yang sudah lama kuidam-idamkan. Anit masih tertidur dengan pulasnya. Aku dekati lagi wilayah yang cukup lebat untuk area Miss-V nya. Meskipun lebat, tetapi bulunya tipis2. Aku sangat suka sekali dengan bulu2 ini.Kujilati vaginanya, kucari klitorisnya..oh enak banget..asin2 seperti punya istriku.

    Semakin lama kusedot-sedot vaginanya, tubuh Anit makin mengelinjang-gelinjang. Akupun semakin bersemangat, aku mainkan juga kedua payudaranya sambil terus menyedot-nyedot vaginanya.Semakin lama tubuh Anit semakin bergerak tak beraturan dan akhirnya vaginanya mengeluarkan cairan2 bening yang cukup banyak. Terdengar suara lenguhan kecil olehku, sepertinya Anit sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Kulihat lagi wajah Anit, dadanya turun naik seperti telah mandaki gunung yang tinggi.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Pelan-pelan matanya terbuka dan alangkah kagetnya dia melihat seorang lelaki di hadapannya tanpa memakai busana sehelai pun. Dan yang lebih mengagetkannya ternyata lelaki di hadapannya adalah adik iparnya sendiri yaitu aku. Seperti langsung tersadar, dia menjerit tak terlalu keras kepadaku. "Andi, teganya kamu berbuat itu kepada kakak!". Anit langsung pergi berlari menuju ke kamar anak-anaknya yang sedang tertidur. Aku pun melongo seperti kehilangan akal. Pikiranku pun mulai kembali normal. Yah kepalaku langsung pusing memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku takut sekali kalau Anit melaporkan apa yang terjadi barusan apalagi melaporkannya kepada istriku yang sangat pencemburu berat.

    Aku terdiam beberapa saat dan pelan-pelan kukenakan kembali pakaianku dan menuju ke kamarku. Di dalam kamar, aku tidak bisa tenang. AKu bingung bagaimana berhadapan dengan Anit lagi.Akhirnya aku membulatkan tekad untuk menuju ke kamarnya. Aku akan meminta maaf. Sambil kubawa segelas air putih menuju kamarnya.
    AKu ketuk pintu kamar Anit. "Kak, bisa bicara sebentar. Aku mohon maaf atas kejadian tadi, aku khilaf Kak.".
    Tidak ada jawaban dari kamarnya untuk sejenak. Kembali aku berucap kepada Anit. "Kak, sekali lagi aku mohon maaf atas kekhilafanku tadi. Entah setan mana yang menggodaku tadi."

    Akhirnya kudengar sahutan dalam kamar walaupun sangat pelan.
    "Kakak akan memaafkan dengan satu syarat" terdengar suara serak Anit.
    "Iya Kak, apapun syaratnya akan kupenuhi asal Kak Anit memaafkan aku. Tapi please keluar sebentar, aku ingin berbicara langsung dengan Kakak disini untuk menunjukkan penyesalanku."
    Terdengar suara pintu kamar terbuka, kulihat Anit sudah berpakaian lengkap seperti biasa dengan jilbab besarnya.
    "Tega kamu Andi, kenapa kamu melakukan ini kepada Kakak. Kamu kan tahu Kakak sudah punya suami dan yang penting Kak Anit adalah kakak istri kamu. Apa kamu tidak kasihan kepada istri kamu, kepada suami kakak dan kepada kakak sendiri?" pertanyaan Anit mencecar bertubi-tubi datang kepadaku.

    "Iya Kak, aku sekali lagi menyesal,maafkan kelakuan bodohku tadi.Sekarang aku mau tanya. Apa syarat kakak Anit tadi?" aku mengajukan pertanyaan kepada Anit. Anit masih terpaku seakan masih tidak percaya hal yang barusan terjadi kepadanya. "Satu syarat yang ingin kakak ajukan adalah jangan kamu ceritakan hal yang terjadi barusan!"
    Seperti mendapat durian runtuh, syarat itu memang sangat mudah kulakukan karena siapa yang mau menceritakan aibnya kepada keluarga apalagi istriku.

    "Pasti Kak, itu akan kulakukan. Terjun dari gunung pun akan aku lakukan demi menebus dosa aku tadi. Sekarang Kak Anit sudah tenang Kan?". Anit pun sepertinya masih shock dengan kejadian tadi. Aku pun lalu menyodorkan segelas air putih yang kubawa tadi untuk menenangkan Anit. "Minumlah Kak, supaya Kakak tenang. Anggap ini permohonan maaf sekali lagi dari aku". Anit pun menerima segelas air putih yang kusodorkan dan meminumnya seperti kehausan sekali. Sekilas senyum muncul di bibirku karena ternyata rencanaku sebenarnya bukan untuk menenangkannya, tetapi melanjutkan kenikmatan yang tertunda.

    Tanpa Anit sadari, segelas air putih itu sudah aku taburkan obat perangsang. Aku pun dengan cepat memohon diri kepada Anit untuk kembali ke kamarku dengan alasan ingin mandi dan tidur. Aku berjalan dengan perasaan sudah menang. Aku yakin sekali tidak lama lagi Anit akan gelisah dan mencari pelampiasan. Ya siapa lagi kalau bukan aku..hahahah. Di kamar, aku buka bajuku kembali dan menuju kamar mandi bertelanjang bulat.

    Kenikmatan yang tertunda tadi aku teruskan di kamar mandi dengan bermasturbasi. Sengaja aku buka pintu kamarku dan kamar mandiku dengan harapan Anit datang ke kamarku dan mendapati aku sedang bertelanjang. Dengan khayalan yang belum menjadi kenyataan, aku bermasturbasi mengkhayalkan kembali tubuh Anit yang sexy yang baru kurasakan hanya sejenak. Tepat seperti dugaanku, samar-samar kulihat sesosok tubuh berjilbab mendekati kamarku.
    Seperti salah tingkah, Anit memanggil-manggil namaku.
    "Andi, keluar sebentar, ada yang mau kakak bicarakan lagi.". Aku sebetulnya mendengar apa yang Anit bicarakan, tapi aku ingin memancing Anit seperti rencanaku.
    "Masuk lah Kak ke kamar, pintunya kan terbuka, tanggung aku lagi mandi" jawabku.



    Anit pun masuk ke kamarku yang terbuka dan ia semakin gelisah mendapatiku sedang bertelanjang bulat di kamar mandi. Aku yang sudah merencanakan hal ini langsung pura-pura keluar dari kamar mandi dengan sabun yang banyak menyelimuti badanku terutama kontolku yang sudah kukocok-kocok dari tadi. Anit terhentak sejenak dan menjerit, tetapi tidak seperti jeritan sebelumnya, tapi sedikit terdengar suara jeritan yang genit.
    "Maaf ya Kak, aku begini, apa yang mau kakak bicarakan?". Anit yang salah tingkah akhirnya mendekatiku dengan malu-malu tetapi terlihat obat perangsang yang sepertinya sudah sangat bekerja dengan baik.
    "Ini lho Andi, air di wc kakak kecil airnya, boleh kakak numpang mandi disini?' Hahaha..dengan tanpa malu-malu lagi menatapku, Anit melontarkan permintaannya dan memang itu yang kuharapkan.
    "Ooo gitu Kak, sekalian saja mandi bareng ya Kak, aku juga kan lagi mandi seperti yang Kakak lihat" itulah jawaban beraniku sambil terus memainkan burungku yang cukup besar ini.

    Seperti tidak sabar, akhirnya Anit melepaskan semua pakaiannya dan bertelanjang bulat dan akhirnya masuk ke kamar mandi. Aku sangat girang sekali mendapatinya dalam keadaan ini. Akhirnya ia pun mandi dan tanpa menunggu aku pun membantunya mandi dengan mengusapkan sabun yang ada di tanganku.
    "Ini Kak, aku bantu sabuni yah, biar bersih" Anit tidak menjawab, ia hanya menikmati saja apa yang terjadi.

    Akhirnya aku sentuh badannya, aku sabuni perutnya, payudaranya yang montok dan vaginanya yang halus. Anit hanya mendesah-desah mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku pun semakin menjadi, kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan respon dari Anit pun semakin menjadi. Tubuhnya menggelinjang menggila. AKu pun sudah tak tahan. Kubaringkan ia di Bath Tub, kubuka lebar kakinya. Dan seperti sudah tidak tahan, Anit pun turut membantu melebarkan kakinya.

    Akhirnya saat yang dinanti pun tiba. Kugesek-gesek penisku di lubang vaginanya, anit makin tak tahan.
    "Masukkan aja cepat Andi, Kakak sudah gak tahan!"
    "Pasti Kak..Kakak cantik sekali seperti bidadari Kak..aku suka ama Kakak..apalagi ternyata memek kakak masih sempit"
    Oooooh..kumasukkan sedikit-sedikit kontolku yang menegang dan akhirnya masuk juga menerobos memeknya Anit.
    "OOOOooooh..Andi..terus ..Andi..ayo cepat..aahhhh.."
    Kupacu semakin cepat gerakanku berirama dan Anit pun mengikuti gerakanku dan akhirnya akan sampai juga pada puncak kenikmatan.
    "Ooooh..Andi Kakak mau keluar..oohhh..." ceracau Anit.
    "Andi juga mau nyampe kak..dikeluarin dalem atau di luar Kak...Ooooohhh?"
    "Teruss Andi goyang Andi..dalem aja biar nikmat..ohhhhh..terus"

    Dan akhirnya Anit pun mengejang keras sekali mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya mengejang sejenak terdiam dan kontolku merasakan sekali sensasi ini. Memeknya mengurut-urut keras kontolku yang juga akan menyemburkan lahar panasnya. "Oooh..Andi..Kakak nyampe...ohhh..ayo keluarin aja di dalam.."
    Aku pun terus berpacu dan akhirnya keluarlah peluru-peluru pamungkasku di dalam memeknya yang sempit ini. Sekali lagi tubuh Anit tergetar hebat bersamaan dengan badanku yang mengejang hebat merasakan sensasi ini. Akhirnya kami pun terdampar lemas di Bath tub sejarah percintaan kami.

    Setelah beberapa saat, kami pun lanjutkan di atas kasur dengan berbagai gaya dan cara. Saat itu adalah saat yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan dalam hidupku. Bisa-bisanya aku yang cukup alim (di pandangan keluargaku) bermain sex dengan Anit yang justru berjilbab besar.

    Akhirnya waktu berlalu. Kejadian aku dengan Anit pun hanya menjadi rahasia kami berdua. Anit sepertinya menyesal telah melakukan hal tersebut, karena terlihat ia sering menghindariku saat berdua. Mungkin ia sadar kalau ia melakukan sex denganku dalam keadaan minum obat perangsang alias ia tidak sadar. Dan akhirnya peristiwa itupun hanya jadi kenangan kami berdua saja. Aku barharap kejadian seperti ini bisa berulang walau aku tak tahu kapan hal seperti ini terjadi lagi.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

    Cerita Dewasa - Sebagai sekretaris istriku sering mendapatkan tugas lembur. Dan aku terpaksa menunggu di kantornya hingga pekerjaannya selesai.

    Sore itu saat aku memasuki kantornya Pak Darno petugas Satpam bilang bahwa Bu Retno, istriku, masih bersama Pak Direktur. Waahh.. Kena lembur lagi nih. Jadi terpaksa aku duduk di ruang tunggunya sambil ngobrol sama Pak Darno.

    Tak lama ngobrol Pak Darno minta maaf padaku, dia harus pulang lebih dahulu karena istrinya minta diantar ke dokter. Dia mengambil segepok majalah dan koran, "Silahkan baca-baca Mas, biar nggak sepi". Pak Darno meninggalkan aku sendirian.

    Sesudah hampir semua halaman majalah aku baca-baca, istriku belum juga nongol. Apakah pekerjaannya demikian penting sehingga mesti dilembur macam begini? Aku agak kesal karena bosan menunggu. Akhirnya aku iseng-iseng. Aku masuk ke ruangan kantor.

    Lampu ruangan tidak lagi sepenuhnya menyala. Ngirit. Nampak sederetan meja kosong telah ditinggalkan para karyawan pulang. Aku tengok sana sini, kulihat ada ruangan kaca di pojok sana yang masih terang namun kacanya ditutup dengan 'blind curtain' gorden berlipat yang biasa dipakai di kantor. Mungkin disana istriku bekerja lembur. Pelan-pelan aku mendekat. Aku ingin melihat apa yang dikerjakan istriku. Aku bias mengintip dari celah 'blind curtain' itu.

    Bagai kena palu godam 1000 kati saat aku menyaksikan apa yang bisa kusaksikan. Aku melihat Retno istriku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya sedang berjongkok dengan lututnya diselangkangan Pak Wijaya bossnya yang bermata sipit itu. Rok dan blus berikut BH dan celana dalamnya nampak terserak di lantai. Jelas dia sedang sibuk mengulum kemaluan Pak Wijaya yang duduk telentang di sofa yang nampak begitu empuknya.

    Tanpa melepas kemeja dan dasinya Pak Wijaya hanya merosotkan celana hingga merosot ke lantai, tangannya memegang kepala Retno menekan naik dan turun. Retno mengulum dan memompa kontol Pak Wijaya dengan mulutnya. Wajah Pak Wijaya dengan mata sipitnya nampak menyeringai merasakan nikmat tak terhingga dari bibir Retno. Samar-samar kudengar desahan nafsu Pak Wijaya dan suara-suara bibir istriku yang sedang penuh memompa kontol bossnya itu.

    Rupanya aku telah ditipu istriku sendiri. Aku yang dengan setia menjemput dan menunggu setiap sore tidak menduga bahwa justru istriku ini berbuat selingkuh dengan direkturnya. Aku meledak ingin marah, namun kutahan. Mungkin tidak ada gunanya. Sambil terus berusaha menenangkan diriku aku menyaksikan apa yang akan berlanjut dari yang kulihat sekarang ini.

    Pak Wijaya menarik lengan istriku. Dia rangkul tubuh Retno untuk duduk di pangkuannya sedikit naik ke perut. kontol Pak Wijaya yang telah mampu memberi semangat syahwat istriku tadi nampak putih bersih mencuat panjang dengan bonggolnya yang gede nongol di belakang pantat istriku. Dengan sangat keranjingan Pak Wijaya langsung melumati dada istriku. Menyusu bak bayi manja di puting susu Retno yang berwarna coklat kemerahan itu dan tampak sudah tegak mengacung dengan maksimal karena tekanan birahi yang dahsyat yang melanda tubuh Retno sambil tangannya merabai relung-relung tubuh sensual istriku. Aku melihat nikmat yang tak terhingga melanda istriku. Tubuhnya bergeliatan menahan gelinjangnya sambil tak putus-putusnya desah serta rintihannya mengalir dari mulutnya yang mungil itu.


    Sesuatu yang muskil telah terjadi pada diriku. Hal yang semula sangat memukul aku kini justru membangkitkan hasratku. Aku dirangsang oleh gairah birahi saat menyaksikan bagaimana istriku begitu merasakan nikmat dilumati bossnya. Aku menyaksikan betapa istriku dengan penuh semangat syahwatnya telah mengenyoti kontol Pak Wijaya. Kini kemaluanku terasa menegang dan sesak di celanaku. Dan akhirnya aku mesti menyaksikan pergulatan asyik masyuk antara istriku dengan bossnya ini sambil meremasi kontolku sendiri.

    "Ppaakk.. Retno nggak tahan ppaakk.." istriku menyambar bibir Pak Wijaya dan melumat-lumat habis-habisan.

    Kemudian Pak Wijaya mengangkat sedikit tubuh istriku. Tangan kirinya meraih kontolnya dan diarahkannya ke nonok Retno yang tampak dirimbuni oleh bulu-bulu jembut keriting itu. Apa yang terjadi kemudian sangatlah mendebarkan jantungku. Aku melihat bagaimana kontol gede dan panjang milik Pak Wijaya itu menembusi nonok Retno istriku yang sangat aku tahu betapa sempit lubangnya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Berkali-kali kulihat yang satu menekan yang lain menjemput. Sesudah kontol Pak Wijaya hampir selalu meleset untuk diluruskan kembali, akhirnya dengan pelan kusaksikan kemaluan istriku menelan batangan gede panjang itu. Uucchh.. Bagaimana bisa..? Istriku menyeringai. Nampaknya dia mendapatkan rasa pedih sekaligus nikmat yang tak bertara.

    Akhirnya seluruh batangan itu melesak tertelan menembusi nonok Retno. Mereka lantas diam sesaat. Hanya bibir-bibir mereka yang kembali terus berpagut. Itu mereka lakukan untuk meningkatkan hasrat birahinya. Kemudian secara hati-hati Pak Wijaya memulai dengan menaik turunkan pantatnya. Kudengar rintih Retno..

    "Aduuhh.. Aduuhh.. Adduuhh.." Mengulang-ulang kata aduh setiap kali kontol Pak Wijaya ditarik dan menusuk.

    Sesudah beberapa kali berlangsung kulihat tangan istriku bergerak berpegangan bahu bossnya. Dia kini nampak akan mengambil alih gerakan. Dengan sekali lagi memagut bibir Pak Wijaya istriku mulai menggenjot dan mengenjot-enjot. Nonoknya nampak naik turun seakan menyedoti kontol gede bossnya itu. Bibir nonoknya setiap kali nampak tertarik keluar masuk karena sesaknya bibir nonoknya menerima gedenya batang kontol Pak Wijaya.

    Aku tak mampu lagi bertahan. Aku turunkan celanaku dan kukeluarkan kontolku sendiri. Tanpa ragu lagi aku melototi kontol dan nonok istriku yang saling jemput itu. Aku mengocok-ocok kemaluanku sambil khayalanku terbang tinggi.

    Genjotan istriku semakin cepat. Racau kedua insan yang asyik masyuk itu semakin riuh. Aku menyaksikan tubuh-tubuh mereka berkilat karena keringat birahi yang mengucur. Dalam kamar AC yang dingin itu nafsu birahi mereka membakar tubuhnya. Rambut istriku semakin awut-awutan. Rambut itu menggelombang setiap tubuhnya naik turun menggenjoti kontol bossnya.

    Saat mereka mulai mendaki puncak, tak pelak lagi keduanya mempertingi polahnya. Pak Wijaya mempererat pelukan pinggul Retno dan bibir Retno melumat penuh gereget bibir Pak Wijaya. Keadaan menjadi semacam 'chaos'. Liar dan tak terkendali.

    Cakar dan kuku istriku menghunjam pada kemeja Pak Wijaya sementara bibir dengan cepat mematuk bahu Retno. Mataku konsentrasi melotot ke arah kontol yang keluar masuk ke nonok itu. Dan saat kecepatan genjotan naik turun tak lagi terhitung samar-samar aku melihat cairan putih mencotot meleleh dan berbusa di batangan kontol Pak Wijaya. Itulah klimaks. Istriku masih menggenjot sesaat hingga yakin bahwa seluruh cadangan peju Pak Wijaya telah tumpah memenuhi lubang nonoknya. Dan kemudian hening. Istriku menyandarkan kepalanya di dada Pak Wijaya. Nafas panjang keduanya nampak dari dada-dada mereka yang setiap kali menggembung kemudian kempis.

    Istriku merosot ke lantai dalam kelelahan yang sangat. Demikian pula Pak Wijaya. Bermenit-menit keadaan itu berlalu.

    Akan halnya aku, ejakulasi pertama langsung kudapatkan saat menyaksikan genjotan istriku semakin cepat tadi.

    Kudengar kursi di ruangan Pak Wijaya berderit. Aku harus cepat keluar ruangan ini. Kusaksikan istriku bersama bossnya menuju toilet yang ada di ruangannya. Aku membetulkan celanaku dan bergegas keluar.

    Tanpa ada masalah dengan berboncengan sepeda motorku kami sampai di tempat kost jam 8 malam. Seperti biasa Retno menyiapkan nasi dan lauk pauknya untuk makan malam itu.

    Aku masih melotot hingga jam 12 malam di depan TV sementara itu istriku nampak pulas tertidur. Aku memakluminya.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 02/11/11--07:51: Windi, Teman Adikku
  • Cerita Dewasa - Pertama kali aku mengenal hubungan sexual yang sebenarnya terjadi pada saat adik perempuanku memperkenalkan kepadaku seorang teman wanitanya. Sejak pertama kali aku melihat, memang aku sangat tertarik pada wanita ini, sebut saja namanya Windi. Suatu saat Windi datang ke rumahku untuk bertemu dengan adikku yang kebetulan tidak berada di rumah. Karena sudah akrab dengan keluargaku, meskipun di rumah aku sedang seorang diri, kupersilakan Windi masuk dan menunggu.

    Tapi tiba-tiba ada pikiran nakal di otakku untuk nekat mendekati Windi, meskipun rasanya sangat tidak mungkin. Setelah berbasa-basi seperlunya, kutawarkan dia untuk kuputarkan Blue Film. Mulanya dia menolak karena malu, tapi penolakannya kupikir hanya basa-basi saja. Dengan sedikit ketakutan akan datangnya orang lain ke rumahku, aku putarkan sebuah blue film, lalu kutinggalkan dia menonton seorang diri dengan suatu harapan dia akan terangsang. Benar saja pada saat aku keluar dari kamar, kulihat wajah Windi merah dan seperti menahan getaran. Aku mulai ikut duduk di lantai dan menonton blue film tersebut. Jantungku berdegup sangat keras, bukan karena menonton film tersebut, tapi karena aku sudah mulai nekat untuk melakukannya, apapun resikonya kalau ditolak.

    Kubilang pada Windi, “Pegang dadaku.., rasanya deg-degan banget”, sambil kutarik tangannya untuk memegang dadaku. Dalam hitungan detik, tanpa kami sadari, kami telah berciuman dengan penuh nafsu. Ini pengalaman pertamaku berciuman dengan seorang perempuan, meskipun adegan seks telah lama aku tahu (dan kuinginkan) dari berbagai film yang pernah kutonton. Mulutnya yang kecil kukulum dengan penuh nafsu.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Dengan penuh rasa takut, tanganku mulai merayap ke bagian dadanya. Ternyata Windi tidak marah, malah kelihatan dia sangat menikmatinya. Akhirnya kuremas-remas buah dadanya dengan lembut dan sedikit menekan. Tanpa terasa kami sudah telanjang bulat berdua di tengah rumah. Setelah puas aku mengulum puting susu dan meremas-remas buah dadanya, mulutku kembali ke atas untuk mencium dan mengulum lidahnya. Sebentar kemudian malah Windi yang turun menciumi leher kemudian dadaku. Tapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan seorang Windi yang usianya relatif masih sangat muda, ia terus turun menciumi perut sambil mulai meremas-remas kemaluanku. Aku sudah sangat terangsang.

    Kemudian mataku hampir saja keluar ketika mulutnya sampai pada batang kemaluanku. Rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku merasakan kenikmatan yang sedemikian dahsyat. Ujung kemaluanku kemudian dikulum dengan penuh nafsu. Nampak luwes sekali dia menciumi kemaluanku, aku tidak berpikir lain selain terus menikmati hangatnya mulut Windi di kemaluanku. Kupegang rambutnya mengikuti turun naik dan memutarnya kepala Windi dengan poros batang kemaluanku.

    Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutahan lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes.

    Aku tertidur pulas tanpa ingat lagi bumi alam. Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku terbangun. Aku sangat kaget begitu kulihat tepat dimukaku ternyata kemaluan Windi. Rupanya pada saat aku tertidur, Windi terus menjilati kemaluanku sambil menggesek-gesekan kemaluannya pada mulutku. Meskipun awalnya aku takut untuk mencoba menjilati kemaluannya, tapi karena akupun terangsang lagi, maka kulumat kemaluannya dengan penuh nafsu. Aku segera terangsang kembali karena pada saat aku menciumi kemaluan Windi, dia dengan ganas mencium dan menyedot kemaluanku dengan kerasnya. Aku juga kadang merasakan Windi menggigit kemaluanku dengan keras sekali, sampai aku khawatir kemaluanku terpotong karenanya.



    Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku tidak memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Windi. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya.

    Karena aku sudah tidak bernafsu lagi, kujilati kemaluannya sambil berhitung untuk supaya aku terus mampu menjilati dalam keadaan tidak bernafsu sama sekali. Pada hitungan ke 143 lidahku menjilati kemaluannya (terakhir clitorisnya), dia mengerang dan menekan kepalaku dengan keras dan menjerit. Dia langsung tertidur sampai aku merasa ketakutan kalau-kalau ada orang datang. Kugendong Windi ke tempat adikku dalam keadaan tertidur dan kupakaikan baju, lalu kututup selimut, lantas aku pergi ke rumah temanku untuk menghindari kecurigaan keluargaku. Inilah pengalaman pertamaku yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tidak yakin apakah akan kualami kenikmatan ini lagi dalam hidupku.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 02/27/11--13:44: Tini Pembantuku
  • Cerita Dewasa - Cerita Dewasa yang akan saya suguhkan kali ini adalah mengenai pengalaman seksku yang sangat indah. Hari berganti hari bulan-bulanpun berganti tahun.Kasih sayang yang aku curahkan begitu tulus.Wanita yang hadir dilalam hidup ku sungguh wanita yang paling sempurna dimataku, sempat terlintas dibenak ku “aku adalah sosok lelaki yang beruntung memperistrinya”, istriku adalah wanita yang lemah lembut setiap tutur sapanya mampu manarik perhatian bagi siapa saja yang bertemu.

    Bukan itu saja, istriku juga seorang yang sangat peduli akan bakti sosial atau kegiatan yang berbau sosial jadi pantas rasa kemanusian nya tinggi. Dia mampu menilai sisi-sisi hidup dan kehidupan manusia rasa tenggang rasa sesama. Sungguh aku makin kagum, tingkat beragaamanya yang tinggi hingga tak pernah lupa sedikitpun untuk menjalankan apa yang diperrintahNya, agama adalah pegangan hidupnya” itulah tuturnya”.

    Semua ku jalani dengan begitu bahagia hingga aku menemukan pengalaman yang mampu merobek jaringan cinta kami. inilah kisahnya nya” Pengalamanku saat aku baru menikah 1 tahun, saat itu aku sudah berumah tangga sendiri, karena istriku juga bekerja maka kita mengambil seorang pembantu melalui biro jasa. Pembantuku masih muda sekali usianya kira-kira 16 tahun hanya kulitnya agak putih dan bersih. Dia sampai saat terjadinya kejadian ini sudah bekerja kira-kira 6 bulan.

    Saat itu aku ada keperluan mengambil surat-surat yang tertinggal di rumah, pembantuku Sutini namanya tapi panggilannya Tini yang membukakan pintu. Karena aku mencari surat yang tertinggal agak lama maka pintu ditutup lagi oleh Tini dan Tini kelihatannya langsung mandi. Akhirnya aku temukan suratku itu, tapi karena Tini masih mandi maka aku tunggu sebentar untuk menutup pintu depan. Aku duduk di pinggir tempat tidur, memang jendela kamarku menghadap ke belakang sehingga bisa lihat kebun juga kamar serta kamar mandi pembantu yang letaknya di belakang kebun menghadap jendela kamarku.

    Pintu kamar mandinya kemudian terbuka dan Tini keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk dililitkan ke tubuhnya. Mungkin dianggap rumah sepi tak ada yang tahu jadi dia berani begitu pikirku. Diam-diam aku perhatikan terus, Tini memasukkan pakaian kotornya ke ember cucian dan kemudian balik masuk ke kamarnya. Kamarnya juga tidak ditutup, Tini kelihatan mengambil pakaian dari lemarinya.

    Lalu Tini melepas handuknya dan mengeringkan lagi tubuhnya. Wah, terlihat sekali badannya yang langsing dan putih bersih dengan buah dadanya yang hanya kecil dengan puting warna merah jambu serta kemaluannya yang masih belum ditumbuhi rambut sedikitpun. Kemudian Tini memakai BH-nya yang tanpa spons dan CD yang mini, lalu memakai rok bawahan dan kaos. Melihat tubuh yang kecil, bersih dan indah itu nafsuku bergairah. Setelah Tini selesai menyisir rambutnya yang pendek ala Yuni Sara dan membedaki mukanya, aku langsung panggil dia.
    “Tin”
    “Iya pak”.

    “Aku tolong pijit sebentar leher dan kepalaku sebab pusing”, sambil aku duduk di kursi makan. Kemudian Tini memijit leherku, walaupun kecil tubuhnya tapi pijitannya cukup mantap. Habis memijat leher, aku minta mijit bagian dahi dan pelipis kiri dan kanan. Tini mulai memijitnya, tapi karena kepalaku goyang-goyang lalu kepalaku tiba-tiba ditariknya ke belakang dan disandarkan ke dadanya. Aku jadi semakin greng walaupun buah dadanya kecil sehingga aku hanya merasakan sandarannya agak empuk. Ulahnya membuat penisku mulai bangun sedikit-sedikit, aku jadi penasaran lalu kucoba tanganku kuturunkan dan menyentuh kakinya. Ternyata Tini diam saja tak bereaksi negatif. Lalu kuberanikan untuk meraba pahanya, ternyata Tini tetap diam saja dengan memijit dahiku terus.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Rabaanku kuteruskan dengan 2 tangan di paha kiri dan kanan sambil kupijit pahanya dan tangan kananku terus merambat ke atas sampai ke kemaluannya yang tertutup celana dalam. Saat itu Tini masih diam terus, lalu jariku coba kususupkan kedalam CD-nya untuk mengutak-atik lubang kemaluannya, saat itu Tini mulai mendesis dan menggoyangkan pantatnya, “Sseett.. aduh Pak geli kena kelentitku”. Tetapi karena Tini tidak lari dan tetap memijitku terus maka pekerjaan tangan itu tak berhenti dan terus berjalan sampai akhirnya tangannya lepas tak memijit lagi dan memegang lenganku erat-erat sambil berbisik,
    “Pak.. pak.. Tini nggak tahan minta yaak pak?”
    “Minta apa Tin?” tanyaku.

    Tini tak menjawab hanya memberi kode dengan tangannya yang digenggam dengan jempolnya dijepit antara jari tengah dan telunjuk, yang berarti minta disetubuhi. “Katanya kamu masih gadis”, kataku. Tini lalu cerita, dia sudah dijodohkan di desa kira-kira tahun yang lalu. Pada saat pulang Lebaran kemarin, dia sudah digauli oleh pacarnya itu sampai beberapa kali.

    “Karena sudah merasakan digauli itu, Tini jadi sering kepingin begitu lagi sekarang” katanya. Dia cerita lagi,
    “Apalagi Tini sering lihat bapak dan ibu kalau main, jadi nafsu Tini sering bergelora.”
    “Darimana kamu lihat”, tanyaku.
    “Ngintip dari celah kordin kamar bapak”, katanya polos.
    “Apa tiap malam kamu ngintip”, tanyaku.
    “Tidak pak, cuma Tini tahu kebiasaan ibu sebab tiap kali ibu memakai pakaian tidur yang tipis yang kelihatan BH dan CD-nya itu baru Tini ngintip sebab selalu main”. Lanjutnya,
    “Tini nafsu sekali kalau lihat ibu dengan telanjang lalu mengisap penisnya bapak dan saat bapak meniduri ibu sampai ibu keluar lendirnya. Tini juga lihat ibu yang dengan lahapnya meminum air maninya bapak yang disemprotkan dalam mulutnya ibu.”

    “Kalau gitu kamu lihat semua cara-cara bapak dan ibu kalau main?” tanyaku.
    “Iya pak, kalau di desa pacar Tini kalau main ya cuma biasa seperti orang desa itu. Tidak seperti ibu kadang duduk di atas, kadang bolak-balik ibu menghisap penis bapak dan bapak menghisap kemaluan ibu.”
    “Tini kamu datang bulannya kapan?” tanyaku.
    “Sudah lama pak, ini mungkin seminggu lagi dapat haid”, sahutnya.
    Karena Tini kepingin dan sudah bukan perawan lagi, lagi pula tak masa subur langsung aku berdiri dan kulepasi pakaianku dan Tini kusuruh mengambil kasur lipat di gudang dan dipasang di sebelah meja makan. Aku langsung tiduran dan Tini kuminta menghisap penisku. Walaupun Tini sudah lihat teknik-teknik bermain cinta, tetapi karena belum dipraktekan jadi rasanya belum nikmat seperti istriku.



    Tini kusuruh melepas semua pakaiannya sampai bugil. Lalu buah dadanya kucoba kuremas tapi karena masih kecil jadi sulit, aku hanya bisa memencet putingnya lalu kuhisap-hisap juga sampai mengusap-usap kemaluannya yang gundul. Tini memegang penisku dan menciuminya sambil bekata, “Kalau penis orang desa itu kecil-kecil Pak tidak ada yang gede seperti punya bapak ini. Kalau gede kan bisa marem rasanya.” Saat kupegang dan kumasukkan jariku kelubang kemaluannya selain memang masih sempit lubangnya juga lendirnya sudah banyak sekali tetapi encer tak sekental punya istriku. Ada lendir cewek yang banyak ini, aku makin bernafsu, Aku minta Tini main 69 atau bolak-balik menurut istilahnya. Tini yang di atas sambil menghisap penisku dan aku di bawah mempermainkan kemaluannya dengan mulut dan lidahku. Clitorisnya kujilati sambil lubang kemaluannya kumasuki 2 jari dan kugelitik bagian dalamnya.

    “Aduuh.. pak. Kemaluanku geli sekali rasanya.. aduuh Tini mau keluar lendirnya pak.” Mendengar itu langsung lubang kemaluannya kucucup dan terus kusedot-sedot dengan kuat sampai terasa, suur.. suur.. suur, dengan disertai rintihan Tini, “Pak.. pak.. air santannya Tini sudah keluar semua.” Kemudian kulihat lubangnya ternyata masih cukup banyak air santannya di lubangnya dan setelah kusedot lagi kubersihkan santan-santan yang lepas menempel di bibir kemaluannya dan terasa penuh mulutku dengan maninya.

    Saat kutelan rasanya sama seperti punya istriku yaitu asam-asam asin, hanya punya Tini lebih banyak tapi encer. Mungkin makin berumur lendirnya makin kental. Karena aku belum keluar maka segera kutancapkan penisku ke lubangnya. Begitu kumasukkan total seluruh batang penisku, Tini merintih, “Ssst.. aduh enaknya, Pak burung bapak rasanya nikmat sekali beda jauh dengan punya pacar saya.”

    Rintihan itu makin membuatku garang dan kuhunjamkan terus dengan agak keras dan cepat penisku ke lubang kemaluannya sampai Tini betul-betul tak tahan nikmatnya dengan menggelinjang-gelinjang terus. Pikirku pembantu yang kurang ajar berani mengintip ini mesti diajar betul. Kira-kira 10 menit berlalu baru aku mencapai klimaks dan kemaluannya kusemprot dengan maniku dan Tini berbisik, “Aduuh hangatnya penisnya bapak dan air maninya.” Selesai main Tini kuminta mencuci penisku di kamar mandinya. Sambil mencuci Tini bilang, “Waah, bapak mainnya hebat sih, pantasan ibu sering minta terus.

    Tini juga nanti minta lagi ya!” Aku menyanggupi permintaanya asal jangan saat masa subur dan kira-kira jam 10 pagi. Aku menyanggupi karena kupikir tubuhnya bersih dan tak ada penyakitnya serta karena baru seorang yang pakai yaitu pacarnya walaupun buah dadanya kecil, tapi putingnya kalau dihisap, dia terangsang banget. Jadi kalau nanti kepingin ditiduri, Tini pura-pura batuk-batuk kecil saat mengepel lantai ruang tamu dimana saya selalu duduk membaca koran. Lalu dia memberi koda manggut-manggut. Kejadian ini berulang terus kira-kira setiap 2 minggu sekali selama kurang lebih 4 bulan sampai akhirnya dia pamit keluar karena disuruh menikah.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 03/06/11--18:25: Tertipu Hadiah Mobil
  • Cerita Dewasa – Aku takut pacaran sebenarnya, setiap bertemu dengan cowok dihadapanku, aku merasa was-was tidak PD, sama halnya kayak ketemu hantu aku menyembunyikan diriku, tapi semenjak bertemu dengan pangeran mimpi dan akhirnya nyata aku bisa memiliki hatinya, Aku berubah menjadi sosok yang tidak takut dengan laki-laki, Akhirnya semua yang aku jalani dari perkenalan,pacaran hingga perkawainan.Berbagai cobaan dan renteten masalah sudah aku tempuhi meski sulit dan perlu pikiran yang terkontrol untuk mempu berpikir jernih. Perkenalkan namaku Namaku Elly.

    Usiaku kini 23 tahun. Aku sudah menikah dengan Albert yang kini berusia 25 tahun, dan kini aku adalah seorang ibu muda, dengan seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri nama Michael. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang ini, suamiku sering berpergian ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu. Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun yang lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga karenanya.

    Aku sendiri tidak bekerja di luar, karena suamiku memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Dan memang suamiku ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik saja, dengan tinggal di rumah untuk merawat anak kami dengan baik. Kehidupan seks kami juga luar biasa. Suamiku adalah lelaki perkasa di tempat tidur, dan aku sungguh menikmati kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku hanya tinggal dengan anakku, juga pembantu kami yang kupanggil bi Iyem, satpam kami yang bernama Adrian, tukang kebun kami yang bernama pak Jono, dan juga sopir kami yang bernama Sarman. Di usiaku yang sekarang ini, nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan bermain cinta dengannya. Demikian sekilas tentang keadaanku dan keluargaku.

    Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan aku terkejut dengan berita yang aneh. Aku mendapatkan hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.

    Dengan santai aku berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara apa, tapi saya tak akan pernah mentransfer uang apapun untuk pajak atau yang lain”.

    Dan orang itu berkata panjang lebar, “Ibu Elly, kami memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti dengan yang baru. Tapi itu tidak akan terjadi bu, karena kami sudah melakukan More…pemeriksaan terhadap mobil ini”.

    Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan berkata, “Ya terserah bapak. Maaf, dengan bapak siapa saya bicara?”.

    Dan orang itu menjawab, “Dengan bapak Anto. Ibu bisa menghubungi kantor kami di nomer *** ****. Aku mengiyakan saja dan kemudian memutus pembicaraan. Dalam hati aku merasa aneh, tapi ya kalau gratis, apa salahnya?

    Kulihat sekarang ini adalah jam 1 siang. Aku baru selesai makan siang, maka aku menyusui dan menidurkan anakku, supaya nanti ketika aku pergi aku tak begitu kuatir. Dan memang satu jam kemudian aku mendengar bel rumahku berbunyi, dan ketika aku keluar, aku melihat sebuah mobil Kijang Innova keluaran terbaru, dengan cat yang mulus mengkilap. Di belakangnya berhenti sebuah mobil Kijang pickup. Mungkin untuk mereka yang mengantar mobilku ini pulang nanti. Aku agak terkejut juga, berarti mungkin ini benar. Seseorang turun dari mobil pickup itu, sementara orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah menyapaku.

    “Bu Elly? Saya Anto”, kata orang yang bernama Anto itu sambil mengulurkan tangannya.

    Aku menjabat tangannya dengan sedikit perasaan ragu dan menjawab “Elly”.

    Orang itu memang penampilannya rapi. Tapi wajahnya agak seram. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif. Dan kemudian orang satunya yang berpenampilan biasa biasa, yang juga berwajah biasa biasa, menjabat tanganku.

    “Seto”, katanya.

    Aku menjabat tangannya dan menjawab, “Elly”.

    Setelah acara kenalan yang menurutku hanya formalitas ini, kami duduk di teras rumah, dan aku disodori formulir yang aku baca di bagian awal dan akhir saja, untuk memastikan aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah ini. Lalu Anto menawarkan padaku untuk mencoba mobil itu, karena nantinya aku harus mengisi formulir untuk memberikan ‘penilaian’ tentang kondisi mobil itu, sebelum acara serah terima surat kendaraan dilakukan. Aku setuju saja, dan aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku masuk ke dalam mobil itu, joknya masih terbungkus plastik semua, baunya khas mobil baru. Dan dengan didampingi mereka, aku mulai mencoba mobil itu.

    Semua baik baik saja, sampai tiba tiba di sebuah gang yang sepi di dekat rumahku, Anto yang duduk di kursi depan menarik handbrake. Aku terkejut sekali, sampai lupa menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku menoleh kepada Anto, tapi belum sempat aku bertanya, dari belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya. Kurasakan bau yang menyengat, dan tak lama kemudian semuanya gelap…

    Perlahan aku mulai sadar. Aku mengeluh perlahan, ketika aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang. Sakit rasanya. Aku mulai mencoba mengerti apa yang terjadi pada diriku. Ternyata kedua pergelangan tanganku yang terentang ini, terikat erat pada semacam pilar di ruangan ini. Sedangkan aku sendiri terbaring di atas matras. Yang membuatku tercekat, aku sudah tak mengenakan apa apa lagi selain bra dan celana dalamku. Kakiku memang masih bebas, tapi apa artinya? Aku kini sudah tak berdaya dengan tangan yang terpasung seperti ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohanku tadi, mengapa bisa terjebak dengan iming iming hadiah itu.

    Tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu masuk seseorang yang membuatku ternganga tak percaya pada pengelihatanku.

    “Arman?”, seruku tak percaya.

    “Halo Elly… lama tak jumpa… bagaimana kabarnya?”, kata Arman dengan senyum yang membuat hatiku dingin seperti disiram air es. Aku takut sekali.

    “Arman… apa yang kamu lakukan ini? Ingat Arman, aku ini kakak iparmu. Tolong lepaskan aku..”, aku mencoba menyadarkan Arman walaupun aku tahu ini mungkin sekali merupakan hal yang sia sia.

    Aku tahu Arman memang menginginkan aku sejak aku dikenalkan Albert pada keluarganya. Arman adalah adik Albert yang kini berusia 24 tahun. Wajahnya memang cukup tampan. Dan sejak ia mengenalku, ia sudah beberapa kali mencoba mendekatiku, tapi tentu saja aku tak memberinya respon. Suatu hari ketika aku berkunjung ke rumah Albert saat masih tinggal bersama keluarganya, Arman nekat dan nyaris berhasil memperkosaku. Untung saja waktu itu kepulangan Albert menyelamatkanku, dan sejak itu aku tahu aku harus menghindari orang ini. Tapi kini aku sudah jatuh ke dalam tangannya. Tanpa sadar aku bergidik ngeri.

    Mendengar kata kataku, Arman hanya tertawa. Ia mendekatiku dan ‘krek…’. Arman merenggut braku hingga tali talinya putus.

    “Aduh…”, aku mengeluh perlahan, sedikit sakit rasanya pada bagian tubuhku yang tertekan tali braku saat ditarik Arman. Aku memejamkan mataku erat erat, malu sekali rasanya payudaraku terlihat oleh laki laki lain selain suamiku.

    “Elly… Elly… kamu kira aku segoblok itu sudah bersusah payah menjebakmu seperti ini dan melepaskan kamu begitu saja? Hahaha… aku belum gila, Elly”, kata Arman sambil menyeringai mengerikan saat aku menatapnya dengan marah bercampur takut.

    “Arman, kamu gila… lepaskan aku!!”, aku mulai panik dan membentaknya.

    ‘breeet… breeet’… seruanku dijawab Arman dengan merenggut robek celana dalamku, hingga kini aku sudah telanjang bulat.

    Aku menjerit kecil. Kini aku hanya bisa memandangi Arman dengan jantung berdebar ketika ia mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sesekali aku mencoba meronta, tapi tak ada hasil sama sekali karena aku benar benar tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang lebar. Aku tahu, nasib yang buruk akan segera menimpaku, dan perlahan aku mulai menangis.

    “Lho sayang… kok nangis sih? Tenang saja, sebentar lagi kamu juga akan keenakan kok”, ejek Arman yang sudah bersiap di selangkanganku.

    Aku semakin ngeri, dengan suara gemetar aku memohon, “Arman, tolong jangan begini… aku ini kakakmu… kakak iparmu… masa kamu tega berbuat begini padaku…”.

    Arman tertawa sinis dan berkata dengan suara kasar, “Diam Elly. Kamu telah merendahkanku. Kamu selalu menolakku. Kamu tak pernah menghargai aku”.

    Aku sadar kalau aku memang selalu menjaga jarak dengannya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan kini memang semuanya terbukti kan?

    Dan sambil merenggangkan kedua pahaku lebar lebar, Arman melanjutkan, “Kamu tak pernah mau aku ajak pergi makan berdua. Kamu anggap aku tak layak pergi berdampingan bersamamu. Benar benar perempuan sombong! Karena itu sekarang rasakan pembalasanku!”.

    Berkata begitu, Arman menempelkan kepala penisnya ke bibir liang vaginaku. Aku makin panik dan berusaha menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman penis Arman saat Arman mulai memajukan pinggulnya.

    Berhasil, penis itu tak sampai melesak masuk menerobos liang vaginaku.

    Tapi rupanya Arman marah dengan perbuatanku, ia menamparku dengan keras, hingga aku mengaduh dan menangis kesakitan.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    “Jangan coba coba lagi Elly, atau nanti kamu akan kuberikan pada dua kacungku di depan itu!”, ancam Arman dengan suara yang mengerikan.

    Mendengar hal itu aku langsung melemas dan pasrah, di sela tangisanku, aku hanya bisa mengumpat getir, “Kamu gila.. Arman”.

    Arman hanya tertawa dan aku hanya bisa membiarkan kepala penis Arman menemukan bibir liang vaginaku, dan sesaat kemudian aku mengerang kesakitan saat liang vaginaku tertembus oleh batang penis Arman.

    Aku mulai menangis saat Arman memompa liang vaginaku. Walaupun aku sudah pernah melahirkan, tapi berkat senam dan ramuan khusus, liang vaginaku kembali menyempit. Konsekuensinya, kini aku merasa kesakitan karena liang vaginaku dipompa penis Arman yang cukup besar.

    Aku memalingkan mukaku supaya tak melihat wajah Arman yang kesenangan karena berhasil mendapatkan tubuhku. Ia meremasi kedua payudaraku dengan gemas, seolah melampiaskan segala nafsunya yang tak kesampaian untuk menikmati tubuhku sejak dulu. Sedangkan aku sendiri hanya bisa terus menggeliat kesakitan.

    “Elly… punyamu enaak”, erang Arman dengan tatapan penuh gairah padaku sambil terus menggenjotku.

    Ingin aku menamparnya, tapi kedua tanganku tak bisa kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang vaginaku ditembusi oleh laki laki yang harusnya memperlakukanku sebagai kakak iparnya. Tapi Arman memang sudah kesetanan, ia mulai mencumbuiku dengan sangat bernafsu. Bibirku dilumatnya dengan ganas, sementara kedua payudaraku diremasnya dengan kuat.

    Perlahan aku mulai terangsang karena perbuatan adik iparku ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dengan rasa nikmat yang melanda selangkanganku dan juga sekujur tubuhku.

    Rupanya vaginaku sudah mampu beradaptasi dengan ukuran penis Arman yang tadinya terasa begitu menyesakkan. Aku malu sekali, ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku yang terasa panas ini. Tapi tentu saja hal itu tak bisa kulakukan, maka aku hanya bisa pasrah namun mati matian berusaha menahan diri supaya tak kelihatan menikmati hal ini.

    Tapi sayangnya, tubuhku terlalu jujur, perlahan tanpa mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan nikmat yang luar biasa. Kurasakan penis Arman melesak begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam liang vaginaku, membuatku menggeliat keenakan seperti cacing kepanasan.

    Arman tertawa sinis dan mulai menghinaku, “Ternyata kamu menikmati punyaku juga Elly. Makanya kamu jadi cewek jangan sok suci.. hahaha.. kalau sudah kemasukan gini, toh kamu keenakan juga..”.

    Sambil menghinaku Arman terus memompa liang vaginaku dengan gencar. Aku sudah tak tahu apa yang harus kulakukan, karena perlahan tapi pasti aku sedang diantar menuju orgasme.

    “Arman… oohh… sudaah… ampuuun… ennngghh”, aku mulai mengerang dan melenguh.

    “Kenapa El? Enak ya?”, ejek Arman dan malah makin gencar memompa liang vaginaku.

    “Kamu…”, aku tak bisa menjawab, tubuhku menggigil, selangkanganku serasa akan meledak.

    Aku terus mengerang dan melenguh, sampai akhirnya aku mengejang hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena aku menggelepar dihantam badai orgasme ini.

    “Oh Elly… kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desah Arman yang tak menunjukkan tanda tanda akan orgasme, sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan orgasme yang berkepanjangan ini, dan nikmatnya selangkanganku yang terus dipompa Arman semakin menjadi jadi.

    Namun rasa ngilu mulai menghampiri liang vaginaku, dan makin lama rasa itu makin menderaku.

    Aku sudah tak kuat lagi, dan berteriak “Armaaan… aaaaah… hentikaaaan… amppuuuun…”.

    Ia benar benar perkasa seperti suamiku, hanya saja suamiku lebih pengertian, membiarkanku beristirahat kala aku mengalami orgasme. Sedangkan Arman sama sekali tak memperdulikan keadaanku, ia hanya mencari kenikmatannya sendiri.

    Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang tulang di dalam tubuhku terlepas semua dari sambungannya, sementara tubuhku meliuk liuk dan menggelepar terhempas badai orgasme yang terus menerus ini. Entah cairan cintaku sudah membanjir berapa banyak, aku mulai pening dan tak mampu mengerang lagi. Dengan kejam Arman terus memompa liang vaginaku, sampai akhirnya ruangan ini rasanya berputar, semuanya gelap…

    Ketika aku mulai sadar, kurasakan kedua puting susuku seperti ada yang mengulum dan menyedoti dengan kuat. Vaginaku masih terasa sedikit sakit, tapi sudah tak terasa sesak, artinya Arman sudah selesai memompa liang vaginaku. Becek sekali rasanya liang vaginaku, aku tahu si brengsek itu pasti mengeluarkan spermanya di dalam sana. Untungnya aku sedang dalam masa tidak subur, jadi aku tak perlu takut hamil. Tapi kini aku sadar, ada dua orang sekaligus yang mengulum puting susuku, yang berarti ada orang lain selain Arman. Dan aku mulai mengenali mereka berdua ini, bahkan Arman bukan salah satu dari mereka. Ternyata Anto dan Seto yang kini sedang menyusu pada kedua payudaraku.

    “Jangaaaan”, aku menjerit ngeri.

    Aku tak bisa berbuat apa apa, kedua tanganku yang terentang ini tak bisa kugerakkan sedikitpun, sementara mereka berdua dengan santai meneruskan perbuatan mereka.

    “Lepaskan aku… Armaaan kamu bajingaaaan…”, aku mengumpat dalam keputus asaanku.

    Dan kudengar tawa yang membuatku bergidik ngeri. Kemudian aku melihat Arman masuk, dan memegang handycam.

    Ia merekamku! Merekamku yang sedang pasrah tak berdaya saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya.

    “Biadab kamu Arman… Kamu kan sudah janji..”, aku langsung terdiam.

    Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa apa.

    “Kenapa Elly? Kok diam? Apa aku salah? Aku memang tak pernah berjanji kalau kamu tak akan kuberikan pada mereka bukan? Hahahaha…”, Arman tertawa dengan memuakkan.

    Aku hanya bisa menangis. Habislah aku, aku sudah dalam cengkeraman Arman sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku di hari hari berikutnya. Sementara kedua kacung Arman ini tertawa senang, dan mereka kembali mencucup kedua puting susuku dengan bersemangat, tak lupa tentunya mereka juga meremasi payudaraku.

    Beberapa saat kemudian, dengan gaya yang menjijikkan, mereka membuka mulut mereka yang penuh air susuku ke arah kamera.

    “Wow.. air susu Elly”, kata Arman sambil menyorot mulut kedua kacungnya.

    Kedua orang itu menelan air susuku.

    “Bagaimana rasanya Anto? Seto? Enak tidak?”, tanya Arman penasaran.

    “Gurih abis bos, susu amoy gini”, kata Anto.

    “Lebih enak dari susu sapi”, sambung Seto.

    Kurang ajar sekali mereka ini. Dan Arman kelihatannya penasaran, lalu ia menaruh handycamnya.

    “Aku juga ingin coba”, gumannya.

    Ia mendekati payudaraku, dan setelah memberikan beberapa jilatan yang membuatku mau tak mau merasa terangsang, tiba tiba ia sudah mencucup puting susuku. Beberapa sedotan dilakukannya, sementara aku hanya bisa mendesah keenakan.

    “Bos, susunya diremas”, kata Anto.

    “Bisa tambah banyak keluarnya”, Seto menyambung.


    Maka Arman menyedot puting susuku sambil meremasi payudaraku. Aku sedikit menggeliat kesakitan. Ia terus melakukannya sampai puas, sementara aku hanya bisa menggigil menahan nikmat.

    “Susu yang enak, Elly”, kata Arman dengan nada puas.

    “Nanti aku minta lagi”, sambungnya sambil kembali mengambil handycamnya.

    “Lanjutkan”, perintah Arman pada Anto dan Seto.

    Mereka berdua yang sudah melepaskan semua baju mereka hingga telanjang bulat selagi menunggu Arman mencicipi susuku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dengan kesenangan.

    Handycam itu kembali merekamku. Kini Anto dan Seto berniat memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari mereka mengocok penis mereka sendiri untuk makin menegangkan ereksi penis mereka. Melihat ukuran penis mereka berdua ini, aku makin ngeri. Baik panjang maupun diameternya semuanya lebih dari ukuran milik Arman.

    Aku berusaha mematikan semua perasaanku. Kini aku digumuli oleh dua kacung si Arman. Kedua pahaku dilebarkan oleh Anto. Aku masih terlalu lemas untuk mencoba menghindar.

    Akibatnya, bless… kembali liang vaginaku tertusuk oleh sebatang penis.

    Aku menggigit bibir, menahan segala perasaan malu dan sakit ini, air mataku terus mengalir. Handycam yang dipegang Arman terus menyorot ke arah vaginaku yang sedang dipompa oleh Anto. Mukaku rasanya panas sekali membayangkan aku sedang membintangi film porno amatir ini.

    Perlahan Arman mengarahkan sorotan handycamnya ke arah tubuhku bagian atas, dan sempat berhenti agak lama ketika menyorot kedua payudaraku. Seto sempat meremasi kedua payudaraku dan semua itu disorot oleh Arman. Sementara itu tubuhku harus terus menggeliat karena menerima rangsangan dua orang sekaligus. Liang vaginaku dipompa dengan gencar oleh Anto sementara kedua payudaraku diremas dengan gemas oleh Seto. Aku sendiri antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Liang vaginaku masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan ukuran penis Anto, tapi sudah mendatangkan nikmat yang membuatku serasa melayang.

    “Sudah… hentikaaan…”, aku mengerang dan mulai menggelepar, karena kurasakan liang vaginaku kembali ngilu dipompa segencar itu.

    Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya bergetar hebat saat menggenjotku, dan tak lama kemudian ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku, “Ooouuuhhh… bu Ellyyy…”.

    Tubuhnya berkelojotan di atasku, dan kurasakan penisnya berdenyut keras di dalam sana. Beberapa semprotan lahar panas kurasakan membasahi liang vaginaku, dan Arman segera bergerak ke tempat yang bagus untuk menyorotan handycamnya ke arah vaginaku. Kurasakan Anto mencabut penisnya perlahan, dan Arman terus menyorot daerah vaginaku, aku malu sekali. Gejolak yang sempat membuatku hampir orgasme kini mereda. Tapi gilanya, si Seto langsung bersiap menggilirku, ia sudah mengarahkan penisnya ke liang vaginaku. Aku memang tak bisa apa apa, hanya bisa menggigit bibir saat kurasakan liang vaginaku tertusuk oleh penisnya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak begitu sakit, dan setelah beberapa genjotan, Arman menyorot mukaku, karena si Anto sudah menempelkan penisnya ke mulutku.

    “Elly, ayo kulum”, perintah Arman.

    Aku hanya bisa menurut, toh aku sudah tak ada gunanya lagi membantah. Daripada aku mendapat tamparan atau siksaan lain, aku lebih baik mengikuti kemauan bedebah ini. Perlahan kubuka mulutku, dan penis Anto yang masih belepotan sperma dan cairan cintaku, menerjang masuk ke dalam mulutku. Rasanya amis dan asin, membuatku ingin muntah. Tapi aku berusaha tak memikirkan rasanya, dan ingin cepat menyelesaikan tugasku. Aku terus mengulum penis si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua sisa spermanya dan cairan cintaku sendiri. Anto yang sudah tak tahan mengerang panjang dan menarik penisnya dari mulutku.

    Penderitaanku belum selesai.

    “Buka mulutmu, Elly”, perintah Arman sambil menyorotkan handycamnya ke mulutku.

    “Perlahan!”, perintahnya lagi.

    Aku mulai membuka mulutku perlahan, dan Arman terus menyorot mulutku.

    “Bagus”, katanya dengan puas.

    Aku malu sekali, pasti aku terlihat layaknya seorang wanita nakal dalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuhku terguncang guncang, rupanya Seto mulai menikmati liang vaginaku. Dengan bersemangat ia menggenjot liang vaginaku, sementara aku tak tahu bagaimana sekarang raut wajahku saat menahan malu dan nikmat dan disorot oleh handycam milik Arman. Panas sekali wajahku rasanya, untungya Arman kemudian ganti menyorot tubuhku bagian bawah. Kini aku tinggal memusatkan perhatianku pada si Seto.

    Diam diam aku melakukan gerakan kegel, sejenis gerakan menahan buang air kecil, sambil pura pura merintih keenakan, supaya Seto cepat ejakulasi dan semua ini segera berakhir. Sesuai harapanku, tak lama kemudian Seto yang terangsang habis habisan, melolong lolong dan meneriakkan namaku.

    “Aaaaarrrrghh… Bu Ellyyyyy…”, jeritnya dan kemudian ia menarik penisnya, tentu saja setelah di dalam sana liang vaginaku dibasahi lahar panasnya.

    Arman dengan giat terus menyorot liang vaginaku yang tentunya tak mampu menampung sperma kedua pemerkosaku ini. Jari tangannya ditusukkan ke liang vaginaku mengorek sisa sperma Anto dan Seto. Seto sendiri segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu ia hendak menagih jatah servis oral dariku.

    Seperti tadi, Arman yang buru buru mengarahkan handycamnya ke wajahku memberikan instruksi instruksi padaku hingga membuatku kembali terlihat seperti pelacur. Tapi aku hanya bisa menurutinya, walaupun dengan hati pedih.

    Setelah semua selesai, Arman mematikan handycamnya.

    “Arman, sudah, lepaskan aku… please”, aku memohon.

    Tapi Arman tak menjawab, malah ia dengan bernafsu melihat ke arah payudaraku.

    Aku langsung tersadar dan teringat keinginan Arman tadi, yaitu ingin merasakan air susuku lagi.

    Dan memang benar, Arman segera melumat puting susuku, ia menyedot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah keenakan, memang rasanya nikmat sekaligus amat merangsangku. Aku menggigit bibir, apalagi Anto ikutan melakukan hal yang sama pada puting susuku yang sebelah. Kini dua orang dewasa menyusu pada kedua payudaraku seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata berharap mereka segera selesai.

    Aku melamunkan suamiku… maafkan aku Albert… aku bahkan sempat orgasme ketika diperkosa adikmu…

    Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas menyusu, dan akhirnya ikatanku dilepaskan. Lega rasanya, walaupun terasa sakit pada bekas ikatan di kedua pergelangan tanganku. Aku duduk dan mengurut kedua pergelangan tanganku, dan aku memandang Arman dengan benci sekaligus takut, karena dengan rekaman handycam itu, ia pasti akan menggunakannya untuk mengancamku agar menurutinya kelak kalau ia menginginkan tubuhku lagi. Ia tersenyum dengan penuh kemenangan ketika bersama dua kacungnya melihat hasil rekaman film porno tadi.

    Aku malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luarku yang ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku digangbang tadi.

    “Sudah puas kalian?”, bentakku dengan jengkel dan menahan tangis.

    Aku memakai pakaianku tanpa bra dan celana dalam. Keduanya memang sudah tak bisa aku pakai karena tadi direnggut paksa dari tubuhku hingga robek. Mereka tertawa tawa dan beberapa saat lamanya mereka menonton rekaman pemerkosaan terhadap diriku, kemudian Arman mematikan handycamnya. Ia menghampiriku dan tiba tiba melumat bibirku.

    Aku menarik wajahku ke belakang untuk melepaskan diri dari ciumannya, lalu aku menamparnya, keras sekali.

    “Bajingan kamu Arman! Kamu tega sekali melakukan ini semua… sekarang antarkan aku pulang!”, kataku lirih, sambil menangis.

    Arman mengelus pipinya yang baru kutampar keras itu dan memandangku dengan aneh. Aku bergidik ditatap oleh Arman seperti itu. Lalu Arman melangkah ke arah luar diikuti oleh kedua kacungnya. Aku mengikuti mereka, dan dengan tegang aku masuk ke dalam mobil Kijang Innova pembawa petaka itu. Aku duduk di kursi penumpang depan, Arman yang menyetir, sementara Anto dan Seto duduk di belakang.

    Dalam perjalanan, kami semua diam, sedangkan aku sendiri dalam ketegangan yang luar biasa, karena aku berada semobil dengan para pemerkosaku. Tapi untungnya mereka tak melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah ke rumahku.

    Ketika aku turun dari mobil, aku mendengar Arman berkata, “Elly, sampai ketemu lagi, kapan kapan kita main main lagi ya”.

    Dengan muak aku membanting pintu mobil, dan aku segera masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis.

    Aku segera melihat anakku. Agak lega melihatnya masih tertidur pulas.

    Aku segera mandi dan keramas, membersihkan tubuhku yang sudah ternoda oleh adik iparku yang bejat itu, yang tega menyerahkanku pada dua kacungnya. Aku memang rindu bermain cinta, tapi itu adalah dengan suamiku sendiri, bukan dengan Arman, bukan dengan mereka ini. Apalagi diperkosa seperti tadi, sakit sekali hatiku rasanya. Tanpa sadar aku kembali menangis.

    Aku tahu hari ini adalah hari pertama aku mengalami penghinaan seperti ini, dan ini bukan hari terakhir.

    Terbukti dua hari kemudian, aku mendapat kiriman DVD dari Arman, yang berisi rekaman pemerkosaan terhadap diriku oleh dua kacungnya itu, dengan sebuah surat bertuliskan “Elly, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua tanganmu… kamu pasti akan lebih menikmatinya”.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 03/20/11--03:01: Tergoda Tante Mona
  • Cerita Dewasa - Sebut saja namaku Setio, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari pamannya calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Tante Mona, karena kami sama-sama panitia perkawinan iparku.

    Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Tante Mona yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Tante Mona dan membayangkannya di saat Tante Mona telanjang.

    Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Tante Mona harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Tante Mona pada waktu menengok bayi. Saat itu Tante Mona mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur.

    Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, tante Mona datang dengan suaminya dan ibunya Tante Mona yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Tante Mona sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya.

    Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis “MLM” berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Tante Mona. Setelah dapat nomor telpon Tante Mona dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Tante Mona setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Tante Mona, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya.

    Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Tante Mona.
    “Dik.. Setio, ya..? Disini Tante Mona.”
    “Eh.. iya Tante.. apa khabar..?”
    “Wah.., Dik.. tante senang loh kayaknya obat yang adik kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu tante pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..?”
    “Selamet deh Tante.. eng.. kalau begitu besok siang deh.. Tante.. saya kirim ke rumah..!”
    “Ya.. sudah.. sampai besok yach..!”

    Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Tante Mona. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Tante Mona muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Tante Mona mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Tante Mona muncul lagi.

    Kami mengobrol panjang lebar, Tante Mona menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Tante Mona menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Tante Mona mengatakan padaku bahwa ia senang kalau ibunya sudah agak membaik.
    “Oh.. ya berapa nih harga obatnya..?”
    “Ah.. sudah Tante, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik.”
    “Ah.. nggak lah Dik, Tante ambil dulu yach uangnya di kamar.”

    Tante Mona berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuk adalah kamar tidur Tante Mona. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku.
    “Dik.. Setio, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..!”
    Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Tante Mona.

    Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Tante Mona yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Tante Mona berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Tante Mona yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya.
    “Dik, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Tante Mona aja yach..? Kamu mau khan..?”
    “E.. e.. eng.. bb.. boleh deh Tante..!”

    Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Tante Mona yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Tante Mona sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Tante Mona sekarang tepat berdiri di depanku.

    “Dik.. Setio, layani Tante yach..! Soalnya sudah dua bulan Tante tidak dijamah Om..”
    “Iya.. Tante, ta.. tapi.. kalau anak-anak Tante datang gimana..?”
    “Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Om.”
    “Ok.. deh Tante, Tante tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Tante seksi banget sih waktu itu.”
    “Sekarang.. sudah nggak seksi dong..?”
    “Oh.. masih.. apa lagi sekarang, Tante kelihatan lebih seksi.”

    Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sudah telanjang bagian atasnya. Dada bidangku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Tante Mona mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku.

    Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku.
    “Dik.. batangmu besar sekali yach..? Kalau punya Om paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..?”
    “Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm.”
    “Wah.. gede banget yach.. pasti Tante puas deh.., boleh Tante isap nggak..”
    Aku hanya mengangguk, Tante mona langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Tante Mona yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya.
    “Ah.. Tante Mon.. vagina Tante harum sekali, boleh saya jilatin..?”
    “Ah.. jangan Dik.. kamu nggak jijik, soalnya si Om nggak pernah menjilatinya.”
    “Wah.. payah si Om.. vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Tante.. enak.. kok..!”
    “Iya deh.. kalau kamu nggak jijik.”

    Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya.
    Kulihat Tante Mona melirik ke arahku sambil berkata, “Dik.. jilatnya yang enak yah..!”
    Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun agak manis, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Tante Mona sedang merasakan geli-geli keenakan.
    “Ah.. ah.. ssh.. argh.. iya.. yach.. Dik.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Dik Setio aja deh.. sama Om.. ntar-ntar deh.. abis.. enak.. banget.. sih.. Dik Setio mau khan..? Ah.. argh..!”

    Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang rasanya lebih manis lagi dari liangnya, sehingga makin cepat kujilati. Rasa manisnya seakan-akan tidak pernah hilang. Tante Mona semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris manis itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Tante Mona mengejang-ngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan rasanya lebih manis dari biji klitoris, sehingga dengan cepat kutangkap dengan lidahku, lalu kutelan cairan itu sampai habis. Tante Mona pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas.

    “Argh.. argh.. agh.. ssh.. sshh.. eegh.. eegh.. Dik.. Setio.. enak.. buangget.. deh.. kamu.. pintar.. membuat.. Tante.. keluar.. yang belum pernah Tante.. keluarin dengan cara begini.. kamu.. hebat deh, agh.. agh..!”
    Kuubah posisi Tante Mona, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk.



    “Tante.. Vagina Tante.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali..”
    “Iya.. dik.. mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus.. biar batang adik.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek..”
    Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Tante Mona. Akhirnya setelah 15 kali, Tante Mona menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya.

    “Ooowww.. argh.. argh.. gila.. hegk.. hegk.. gede.. banget.. sich.. Dik batangmu rasanya nembus ke perut Tante nich.. tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Dik.. trus.. tekannya.. argh.. argh..!” desahnya tidak menentu.
    Kulihat Tante Mona berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku.

    Hampir satu jam Tante Mona melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh Tante mona menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Tante Mona pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya.

    Kulihat tubuh Tante langsung tergolek loyo, “Argh.. arghh.. ssh.. aawww.. oohh.. Dik Setio.. kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu.. yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau.. memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..!”
    Badan Tante mona langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit, sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Tante mona. Cairan itu sangat manis rasanya sehingga langsung kuhisap habis.

    Setelah cairan itu habis, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Tante mona sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Tante Mona.
    “Jleb.. bless.. jleb.. bless.. ah.. ah.. sedapnya.. memek.. Tante.. deh.. ah..!”
    Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Tante Mona dengan berceracau, karena liang senggama Tante mona sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Tante Mona tidak bersuara apa-apa, karena dia sudah tertidur lemas. Batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Tante Mona terbangun dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Tante mona yang membasahi batang kemaluanku.

    “Agh.. agh.. aawww.. arghh.. sshh.. Dik.. Se.. Setio ka.. kamu memang.. he.. hebat..! Tante sampai dua.. kali.. keluar.., tapi.. kamu.. masih tegar.. argh.. sshh..!”
    “Ah.. Tante.. saya juga sudah.. mau keluar.. saya.. mau.. keluarin.. di luar.. Tante.. agh..!”
    “Jangan.. Dik Setio.. keluarin.. aja.. di dalam.. memek.. Tante.. Tante.. mau.. coba.. air.. mani.. Dik.. Setio. Siapa tahu nanti.. Tante bisa.. hamil.. Keluar di dalam.. yach.. Dik..!”
    Tante Mona merengek meminta untuk air maniku harus dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Tante menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan.

    “Crot.. crot.. serr.. serr.. agh.. aghr.. agh.. Tante.. Tante mona.. memek Tante memang.. luar biasa.. argh.. argh..!”
    “Ahh.. ahh.. Dik.. air mani.. kamu.. hangat.. sekali.. ahh.. Tante.. jadi segar.. rasanya..!”
    Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Tante Mona, sehingga agak meluber dan rupanya Tante Mona menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan.

    Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Tante mona untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Tante mona berburu nafsu birahi.
    “Dik Setio, terima kasih yach..! Tante Mona puass deh sama permainan seks kamu.. Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Tante udah pingin main lagi deh..”
    “Iya Tante, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Tante bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Tante Mona dan Tante luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Tante memang luar biasaa..”
    “Iya.., kamu pun hebat, Dik Setio. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hanggatt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..?”
    “Iya.. sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..!”
    Kukecup bibir Tante Mona yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Tante mona sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria.

    Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Tante Mona untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Tante mona dinyatakan hamil.

    * TAMAT *

    Donwload cerita dewasa ini??? klik disini

  • 03/26/11--14:01: Tante Ratna dan Mbak Susi
  • Cerita Dewasa - Kali ini saya kedatangan Tante saya, Tante Ratna dan temannya yang saya panggil dengan Mbak Susi. Mbak Susi adalah orang sunda asli dengan kulitnya yang putih bersih, tinggi 167 cm dengan berat 50 kg sesuai dengan payudara yang saya perkirakan 34A, pasti membikin orang menoleh pada Mbak Susi.

    Umur Mbak Susi sekitar 36 tahun, 3 tahun lebih tua dari saya, makanya saya panggil dengan Mbak. Tante Ratna orangnya supel dengan tinggi 171 cm, berat 53 kg dan berkulit kuning langsat dengan payudara yang kencang karena rajin fitnes, ukuran 34B. Cantiknya seperti artis Hongkong Rosamund Kwan kira-kira dan Mbak Susi seperti artis Venna Melinda. Mereka berdua ke Lombok dalam rangka tugas perusahaan selama lima hari.
    *****

    “Ndi, nanti anterin Mbak Susi ya” kata Tante Ratna sambil membereskan pakaian dalamnya.
    “Kemana Tante?” jawab saya sekenanya, sambil jelalatan melihat BH merah punya Tante Ratna, sungguh pemandangan yang indah, BH-nya segini ukurannya apalagi isinya.. He.. He..
    “Mbak mau ke mall sebentar beli pulsa nich!” Mbak Susi menjawab mengandeng tangan saya akrab.
    “Beres boss..”

    Kemudian saya dan Mbak Ratna ke mall, di dalam taksi saya perhatikan Mbak Ratna sungguh seksi dengan hem atasan berwarna putih ketat memperlihatkan payudaranya yang membusung dan rok mini diatas lutut berwarna biru, hingga lekuk-lekuk celana dalamnya samar-samar tercetak serta wangi parfumnya yang segar. Sungguh membuat saya pengin ngentot aja. Tapi itu harapan saja coy.

    “Ramai juga mallnya ya!”
    “Iya.. Eh.. Mbak.. Sini” lalu saya menarik tangannya, sungguh halus dan lembut.
    “Counter handphone di sana toh”

    Karena ramai maka saya Mbak Susi mepet di depan saya hingga pantatnya yang terbungkus rok menempel di depan kontol saya. Wah ini kesempatan nich pikir saya dalam hati, saya tempelkan kontol saya yang sudah tegak kepantatnya Mbak Susi, untuk tadi saya pakai celana panjang kain. Sensasinya begitu nikmat, apalagi dimasukin nich. Asoy geboy mak. Selesai acara mepet-mepetan tadi karena udah sampai dan bla, bla, bla tanpa kejadian yang hot.

    Di malam ketiga, saya, Tante Ratna dan Mbak Susi ngobrol sampe malam, kira-kira jam 21.00.
    “Ndi Mbak Susi tidur duluan ya”
    “Iya Mbak.. Mimpi yang indah ya Mbak!”

    Lalu menyusul Tante Ratna yang malam itu memakai longdress yang belahannya seolah-olah tak muat untuk payudara yang putih bersih itu. Malam itu Tante Ratna tidur sekamar dengan Mbak Susi di kamar tamu. Tinggal saya yang memencet-mencet tombol remote TV karena acaranya tak begitu bagus. Kira-kira jam 23.00 saya mendengar jeritan kecil, karena penasaran saya datangi sumber suara itu dan arahnya ternyata dari kamar tamu.

    Saya jadi penasaran nich, kebiasaan ngintip kambuh lagi nich, kamar tamu itu cuma dibatasi kaca nako yang kebetulan kordennya setengah tertutup. Wah asyik nich, yang saya lihat sungguh mengagetkan dan mengasyikkan. Tante Ratna sedang menggerayangi Mbak Susi, tangan Tante Ratna sedang meremas-remas payudara Mbak Susi yang sudah terbuka setengahnya dan baju atas piyamanya sudah tidak beraturan lagi, menampakkan payudara dan BH hijaunya. Mmh sedap.

    “Rat.. Jangan.. Apa yang kamu lakukan” Mbak Susi berusaha menahan tangan payudaranya.
    “Sus.. Tolong saya Sus.. Mmh..” rintih Tante Ratna sambil mencium leher kemudian bibir Mbak Susi dengan liar sambil menarik BH hijau Mbak Susi hingga terpampanglah dua gunung putihnya.
    “Jang.. an.. Saya.. Masih suka sama pria Rat..” terengah-engah Mbak Susi menjawab karena Tante dengan giat mencium dan mengulum mulut, kemudian ke bawah puting Mbak Susi yang sudah kencang itu digigit dan dikulum Tante Ratna dengan gemas sambil tangan mengusap-ngusap celana dalam Mbak Susi yang berwarna putih itu.
    “Pe.. Lan.. Ada Andi tuch”
    “Udah diam aja kamu Sus!” bentak Tante Ratna pelan, sambil membuka longdressnya yang ternyata tidak memakai BH dan celana dalam.
    “Ssh.. Geli.. Ratna.. Ssh..” rintih Mbak Susi yang kelihatan sudah mulai terangsang.

    Tante Ratna mulai menciumi perut dan vagina Mbak Susi yang terbungkus celana dalam putih, beberapa menit kemudian terbukalah celana dalam Mbak Susi dan Tante Ratna mengambil posisi 69, saling menjilat vagina masing sambil jari tangan Tante Ratna tak henti keluar masuk vagina Mbak Susi yang sudah mulai basah.

    “Ce.. Pat.. Sus.. Saya mau keluar!”
    “I.. Ya.. Rat.. Samaan.. Ke.. Luarnya ya” jawab Mbak Susi sambil mempercepat jarinya begitu juga Tante Ratna.

    Kedua wanita itu saling mempercepat kegiatan masing-masing dan akhirnya mereka orgasme. Kemudian mereka tidur bugil sambil berpelukan. Ah.. Ternyata kontol saya dari tadi juga sudah keluar nich, biasa ngocok sendiri.

    *****

    Keesokan paginya..

    “Pagi Tante.. Pagi Mbak Susi” salam saya pada kedua wanita tersebut.
    “Pagi” jawab mereka bersamaan.
    “Enak ya mimpinya” sindir saya sambil melihat Mbak Susi yang tersipu malu.
    “Mmh.. Lumayanlah” Mbak Susi menjawab sambil melihat Tante saya.
    “Ooh ya, nanti anterin Mbak Susi ke pantai sengigi ya ndi”
    “Beres Tante, pokoknya puas dech”

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kemudian Tante Ratna pergi meeting lagi dan saya kebagian tugas nganterin Mbak Susi, ini kesempatan namanya, kapan lagi ngentot sama orang cantik kayak artis lagi. Sore itu jam 15.10 saya anter Mbak Susi memakai mobil sewaan ke Senggigi.

    “Mbak, tadi malam ngapain aja di kamar sama Tante!”
    “Eh.. Ya tidur dong Ndi” jawab Mbak Susi agak sedikit grogi.
    “Mbak Susi ngentot ya sama Tante”
    “Hus.. Ngawur kamu Ndi” Mbak Susi mencubit saya sambil melotot.
    “Lho.. Wong Andi lihat kok, kalo nggak ngaku tak bilangin orang sekantornya Mbak Susi lho”
    “I.. Ya.. Iya.. Mbak Susi ngaku dech, tapi jangan bilangin siapa-siapa ya”

    Mobil kuparkir di tempat yang agak sepi dan jam sudah menunjukkan jam 18.20 malam.

    “Boleh tapi ada syaratnya!”
    “Kok pakai syarat.. Minta uang nich!” kata Mbak Susi akan membuka dompet.
    “Duit sich mau.. Tapi bukan itu, Andi pengin ngentot ama Mbak Susi”
    “Apa.. Gila.. Kamu..”
    “Kubilangin lho..”
    “Iya.. Dech.. Tapi bagian atas aja ya” jawab Mbak Susi pasrah sambil pindah dan bersandar pada bangku belakang. Saya mengikutinya dan sore itu Mbak Susi memakai kaos kuning ketat dan celana jins.
    “Lho.. Kok.. Dilihat aja, nggak mau ya!” goda Mbak Susi.
    “Mmh.. Pe.. Lan.. Ndi..” terengah-engah Mbak Susi saat saya cium dan kami saling melumat.

    Tangan saya meremas payudara sebelah kanan yang masih terbungkus kaos kuningnya. Beberapa menit kami berciuman dan kemudian saya arahkan ke leher untuk membuat cupang merah. Tangan saya sudah menyelusup ke dalam kaos dan BH putihnya sambil memelintir putingnya.

    “Ssh.. Mmh.. Aah..” rintih Mbak Susi sambil tangannya masuk ke dalam celana jins saya dan meremas-remas kontol saya yang sudah tegak dari tadi.

    Saya buka celana jins saya dan membiarkan Mbak Susi dengan leluasa meremas-remas kontol saya. Kemudian saya buka pengait BH-nya dan muncullah dua bukit kembarnya yang tegak menantang, tanpa menunggu lagi saya lahap dan jilat sampai Mbak Susi merintih-rintih keenakan.

    “Terr.. Us.. Ndi.. Pin.. Dah sebelah lagi”

    Beberapa menit kami saling meremas dan menjilat, saya kemudian melepas celana jins dan CD putih Mbak Susi, wah betul-betul vagina yang sempurna, tanpa pikir panjang saya cium dan jilat vaginanya yang sudah basah oleh cairan kental putih itu, sambil menjilat saya masukkan jari tangan agar Mbak Susi bertambah merintih tidak karuan.

    “Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Masukin.. Mbak udah nggak tahan nich”
    “Ben.. Tar.. Mbak.. pakai kondom dulu” kata saya sambil membuka celana saya seluruhnya dan memakai kondom, kemudian dengan dituntun tangan Mbak Susi yang halus akhirnya bles.. Mmh masuk semua dech kontol saya yang katanya bengkok itu.
    “Terr.. Us.. Dor.. Ong.. Teruss.. Sst”
    “Cep.. Epet.. Ya.. Gitu.. Ahh..” Celoteh dan rintihan Mbak Susi akibat sodokan demi sodokan yang masukkan dalam-dalam, mmh nikmat rasanya dan akhirnya kami sama-sama nggak kuat, sambil berpelukan dengan erat.. Crot.. Crot.. Keluarlah lahar putih itu bersamaan.
    “Terima kasih ya Mbak Susi”
    “Sama-sama ndi, kapan-kapan lagi ya” jawab Mbak Susi tersenyum puas.

    Dan kami pun pulang, disambut Tante Ratna tanpa curiga. Aduh Tante saya yang satu ini cantik sekali, kapan ya saya bisa ngentot sama dia, abis cantik sich en’ seksi. Kesempatan itu datang malam ini..

    “Gimana Sus tadi”
    “Puas dech dianterin si Andi”
    “Siapa dulu dong Tantenya”
    “Rat, tidur duluan ya”
    “Iya sus, saya juga mau tidur”
    “Ndi terima kasih ya udah nganterin Mbak Susi tadi”
    “Biasa aja kok Mbak, yang penting puas khan?” jawab saya mengedipkan mata pada Mbak Susi.
    “Ndi, Tante tidur di kamarmu ya”
    “Kenapa Tante, apa kamar tamunya ndak cukup berdua ama Mbak Susi?”
    “Bukan begitu, di kamar tamu tuch panas, kali aja di kamarmu lebih adem”
    “Terserah Tante dech” jawab saya sekenanya.
    “Tante duluan tidur ya Ndi”
    “Iya Tante, Andi lagi nungguin acara bagus nich”

    Tante Ratna lalu pergi tidur dengan daster kuningnya yang kependekan itu. Satu setengah jam kemudian saya menyusul ke kamar untuk pergi tidur juga dan wow.. Tante Ratna tidur dengan memeluk guling, tapi yang membuat kontol saya tegak adalah daster kuningnya menyingkapkan paha kanannya yang putih bersih serta sedikit memperlihatkan CD-nya yang berwarna putih itu.. Mmh sungguh pemandangan yang indah.

    Saya dengan perlahan membuka pakaian dan celana pendek, tinggal CD saja, ini baru kesempatan namanya. Saya tidur dengan posisi membelakangi Tante Ratna dan dengan perlahan membuka daster bawahnya sampai sebatas pinggang dan sekarang dengan jelas kelihatan CD-nya berwarna putih selaras dengan pantatnya yang putih, pelan sekali saya tempelkan kontol saya ke pantat Tante Ratna dan serr.. Rasanya halus dan wangi tubuhnya pun harum. Mmh enak sekali, sambil tangan kanan saya linkarkan ke perutnya. Tidak ada reaksi sama sekali tapi tiba-tiba saja tangannya memegang tangan saya sambil bergumam..

    “Mm..”

    Saya sampai kaget, tapi cuma sesaat dan kaki kanan saya masukkan di antara kaki Tante Ratna. Beberapa saat dalam kondisi tersebut, perlahan saya lanjutkan dengan tangan kanan saya yang tadinya di perut sekarang merayap perlahan ke arah dalam daster dan ternyata Tante Ratna tidur tidak memakai BH. Payudaranya akhirnya tersentuh juga dan saya usap dengan perlahan sekali takut Tante Ratna bangun.



    Khan malu sekali jadinya, tapi sudah kadung nafsu, saya terusin aja, paling dimarahin. Kontol kugesek-gesekkan seiring intensitas tangan saya yang sekarang bukan saja mengusap tapi meremas-remas. Lagi asyik-asyiknya melakukan kegiatan mepet-mepetan, tiba-tiba Tante Ratna tersadar juga.

    “Oh.. Siapa ini..” ujarnya sambil mengibaskan tangan saya.
    “Sst.. Andi.. Tante..” guman saya, antara takut dan bingung.
    “Maaf.. Tante.. Andi.. Khilaf” kata saya akan beranjak keluar.
    “Tunggu Ndi” tahan Tante Ratna.
    “Sebetulnya Tante nggak marah kok, cuma kaget aja, tak kirain siapa”
    “Sekali lagi maaf Tante, tapi jangan laporan ibu ya”
    “Kamu nakal ya, cuma ada syaratnya lho supaya nggak dilaporin”
    “Apa Tante, pokoknya tak lunasin dech” jawab saya bingung dan takut.
    “Kamu kunci kamar ini dan temenin Tante tidur malam terakhir ini, gimana?”

    Wah bukan main senangnya saya dan cepat-cepat saya kunci pintu dan wow Tante Ratna sudah membuka daster, tinggal CD putihnya saja.

    “Lho, kok bengong sini bobo”
    “I.. Ya..”

    Antara kagum dan nafsu jadi satu dech, melihat pemandangan yang bagus ini. Dan Tante Ratna menarik CD saya hingga lepas.

    “Wah.. Kontolmu bengkok ya” puji Tante Ratna sambil menindih saya.

    Lalu kami pun berciuman dengan lembut dan makin lama ciuman itu berubah menjadi saling jilat. Tangan saya bergerilya meremas-remas kedua payudaranya dan Tante Ratnapun meremas dan menarik-narik kontol saya.

    “Ndi.. Emut.. Su.. Su Tante.. Ya” tersengal-sengal Tante Ratna mengarahkan kepala saya pada payudaranya.

    Payudaranya yang putih saya emut, jilat dan gigit dengan perlahan sampai Tante Ratna merintih-rintih, sementara tangan kanan saya ikut masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vagina Tante Ratna yang mulai basah.

    “Terr.. Us.. Ndi.. Yang.. Baw.. Ah”
    Saya teruskan, celana dalam putih itu saya tarik dan tampaklah vagina yang ditumbuhi bulu halus muncul, saya jilat, cairan putih semakin banyak, slrup.. Slrup.. Slrup begitu bunyinya saya hisap sampai kepala saya terjepit kaki Tante Ratna yang udah mulai orgasme pertama.

    “Ndi.. Ganti.. Po.. Sisi ya?” tanya Tante tersengal-sengal sambil mengarahkan mulutnya ke kontol saya hingga posisi kami bergaya 69.
    Tante Ratna betul-betul mahir mengulum dan menghisap sampai-sampai kontol saya gerakkan perlahan ke atas ke bawah seiring kulumannya dan saya pun tak kalah gesit menjilat dan menghisap cairan putih yang semakin banyak dari Tante Ratna.

    “Gan.. Tian.. Tante di atas”

    Lalu kami pun berubah posisi dengan saya di bawah dan Tante Ratna di atas, sambil sedikit berjongkok Tante Ratna membimbing kontol saya masuk vaginanya dan bless.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Begitu bunyinya akibat goyangan pantatnya yang semok dan sodokan kontol saya sampai-sampai buah zakar saya mepet dengan vaginanya.

    “Sst.. Terr.. Ss.. Pegang.. Su.. Su.. Tante.. Ndi.. Sst”
    “I.. Ya.. Tante.. Mmh..”
    “Nnach.. Gitu.. Rem.. As.. Yaa..” Rintih Tante Ratna karena kedua payudaranya saya remas dan kedua putingnya saya pelintir-pelintir.

    Keringat Tante Ratna sudah mulai menetes bersamaan dengan keringat saya, sudah 15 menit kami melakukan sodokan dan goyangan yang hebat sampai ranjang itu berderit-derit menahan goyangan kami yang begitu liar seperti pengantin baru.

    “Tan.. Andi.. Mau.. Kel.. Uar.. Nich”
    “Ben.. Tar.. Ndi.. Sst.. Sst.. Samaan.. Kelua.. Rrnya ya” perintah Tante pada saya yang sudah mau bobol saja rasanya dan kami pun mempercepat sodokan dan goyangan.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Dan akhirnya..
    “Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Aakh..” Tante Ratna memeluk saya sambil menggoyang-goyang pantatnya semakin cepat, jeritaannya bersamaan dengan semprotan saya dan Tante, croot, croot muncratlah air mani itu dalam vagina Tante.

    Tante Ratna memeluk saya lemas dan kami pun berpelukan dalam keadaan bugil menikmati sensasi tersebut, saya dan Tante Ratna bergumul sampai 3 kali malam itu.

    “Terima kasih ya ndi, udah lama Tante nggak ngentot kayak begini”
    “Sama-sama Tante, Andi juga puas kok, kapan-kapan kalo Tante ke sini kita ngentot lagi ya”
    “Beres, pokoknya ini rahasia kita berdua, OK!” jawab Tante Ratna sambil mencium saya dengan lembut dan memberikan saya amplop.
    “Apaan ini Tante”
    “Oh, uang jajan dari Tante dan Susi buat kamu”
    “Terima kasih banyak lho Tante” jawab saya senang, sudah dapat ngentot en’ dapet uang lagi yang besarnya kira-kira Rp. 3.400.000,-. Lumayan lho untuk tour guide seperti saya yang nganterin Tante saya yang biseks bersama temannya selama lima hari.

    Selamat jalan Tante Ratna dan Mbak Susi, semoga selamat dalam perjalanan pulang dan salam sayang dari keponakan dan sahabatmu, Andi.


    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 04/04/11--15:39: Sita dan Rina
  • Cerita Dewasa - Awalnya cerita ini sih, waktu bulan lalu. Di dekat rumah gue, ada cewek tetangga gue. Namanya Sita, doi anak kuliahan di G. Udah lama juga sih gue perhatiiin tetangga gue itu, tapi gue baru berhasil kenal ama dia waktu mobil gue diserempet ama mobil doi.

    Rumah gue ama rumah dia, memang satu kompleks. Paling cuman dipisahin 5 rumah. Doi orangnya manis bok! Gue suka banget ngelihatin mukanya kalo pas berpapasan di jalan. Semenjak peristiwa diserempet mobil doi, gue jadi lumayan akrab ama doi.

    Kadang doi suka nebeng ama gue, kalo mau kuliah soalnya doi suka males bawa mobil sendiri. Dan kebetulan kampus gue ama doi, gak jauh-jauh amat. Di mobil, doi sering cerita tentang doi ama keluarganya atau temannya. Nah, kebetulan waktu itu di radio ada topik mengenai kebiasaan free sex dikalangan anak muda sekarang. Jadinya, gue ama doi dengar pembicaraan radio bareng-bareng. Dan akhirnya gue ama doi malah cerita-cerita masalah kehidupan asmara kita. Doi ngaku kalo sebenarnya doi udah pernah pacaran ama cowoknya yang dulu, dan itu udah setahun yang lalu. Doi putus ama cowoknya, dan kecewa banget ama itu cowok.

    Sebenarnya gue juga rada bingung ama doi, kenapa orang semanis doi, kok gak punya pacar. Gak taunya doi ngaku kalo doi trauma banget ama cowok. Dan setelah gue desak-desak, akhirnya doi ngaku kalo doi sekarang ini lesbong!!! Gue kaget juga waktu denger itu, dan gue nasehatin ama doi, kalo bisex itu lebih bagus daripada lesbong. Doi ngaku kalo temen lesbongnya itu temen kuliahnya sendiri, namanya Rina. Akhirnya doi janji, kalo dia bakal ngenalin temannya itu ama gue sepulang kuliah nanti! Setelah pulang kuliah jam 2, gue akhirnya datang ke rumah Sita.

    Dan doi mempersilakan gue masuk ke rumahnya. Gak taunya, rumah doi kosong dan yang ada cuman pembantunya. Gue dikenalin ama Rina temannya Sita. Ternyata Rina itu juga manis lho! Walaupun masih kalah manis ama Sita, tapi bodinya itu!hmmmmmm, enak banget dilihatnya.

    Akhirnya gue bertiga ngobrol ngalor ngidul, sampai suatu saat gue kok merasa kunang-kunang dan ngantuk banget! Saking enggak kuatnya gue menahan pusing ama ngantuk, gue sampai ketiduran waktu di ajak ngobrol. Akhirnya Sita, nyuruh gue tidur di kamarnya. Dan gue oke-oke aja, soalnya gak kuat nahan ngantuk ama pusing! Gue gak tau berapa lama gue ketiduran.

    Yang gue tau, setelah gue siuman. Gue ngerasa ada yang aneh banget sama diri gue! Pas gue bangun, gue kaget banget ngeliat gue udah naked! Dan gue liat Sita ama Rina juga udah topless, cuman pake celana pendek doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata kontol gue lagi dijilatin ama Sita, dan Rina lagi jilatin toketnya Sita! Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol gue dijilatin ama Sita.

    Sita ama Rina juga rada kaget waktu ngeliat gue bangun, tapi doi berdua tetap cuek, malah Sita langsung masukin kontol gue ke mulutnya dan menghisap kontol gue, sementara Rina malah nyiumin gue, dari mulut ke mulut. Tentu aja gue bales ciuman Rina. Tangan gue juga mulai berani menggerayangi sekujur badan Rina, mulai dari toketnya yang sintal dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Udah puas ama kissing, terus gue disodorin toketnya Rina.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Gue lahap aja toketnya bergantian kiri kanan, dan tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang tersembunyi di balik CD, dan celananya. Malah terus doi ngebuka celana ama CD nya, dan terlihatlah memeknya yang kelihatan banget terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir vaginanya, dan gue usap-usap sampai Rina berkelojotan ke kanan-kekiri.

    Terus doi malah nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Rina makin bergoyang, dan mendesah. Sementara itu, Sita masih menyepong kontol gue. gue lihat doi, memainkan ludahnya di kontol gue. Gila, gue kayak di awang-awang di saat Sita menyedot-nyedot kontol gue. Setelah lama doi nyepong gue, gue liat dia udah mulai bernafsu. Akhirnya doi duduk di selangkangan gue, dan mulai memasukkan kontol gue ke dalam vaginanya. Doi duduk menghadap ke gue, sambil turun naik.

    Gue liat wajahnya yang biasa manis dan lembut, kelihatan garang waktu bergoyang. Tangannya malah meremas-remas dada gue. Waktu awalnya, kelihatan banget doi rada susah menggerakkan badannya, soalnya vagina doi masih kering. Tapi lama-kelamaan, akhirnya gerakan turun naiknya Sita mulai lancar, malah doi sambil turun naik bergoyang-goyang memelintirkan kontol gue dengan vaginanya. Gue cuman bisa mendesah, soalnya lidah gue sendiri lagi bermain di vaginanya Rina. Setelah memainkan memeknya Rina selama 10 menit, kelihatan Rina mulai mengerang.

    Gue percepat gerakan lidah gue, dan jari tangan gue mulai membantu masuk ke dalam memeknya. Rina makin bergoyang, sambil mendesah keras. Dari vaginanya muncul cairan vagina yang rasanya agak amis. Tapi entah kenapa, gue suka banget ama aromanya dan gue malah tambah bersemangat memainkan vaginanya. Setelah 10 menit lagi, Rina mulai tampak bakalan orgasme yang pertamanya. Cairan yang keluar dari vaginanya makin mengalir deras, dan diakhiri dengan cairan orgasmenya.



    Setelah Rina mencapai orgasme, doi turun dari tempat tidur, dan langsung masuk ke kamar mandi membersihkan vaginanya. Sementara itu Sita mulai giat melancarkan gerakan turun naiknya. Bunyi yang dikeluarkan dari vaginanya karena gesekannya dengan kontol gue, lumayan keras karena diikuti ama bunyi selangkangannya yang beradu sama paha gue. Setelah berlangsung selama 15 menit, mulai kelihatan kalo doi bakal orgasme. Akhirnya gue mulai ngambil inisiatif buat merubah posisi.

    Gue bangun dan mulai melakukan sex dengan posisi dog style. Sita kelihatan senang banget melihat gue mulai mengambil insiatif, dan doi nurut aja waktu gue perintahin buat bangun dan berposisi dog. Gue percepat gerakan maju mundurnya kontol gue. Soalnya gue pengen banget melakukan orgasme bareng ama Sita.

    Setelah 4 menit, akhirnya gue orgasme bersamaan dengan orgasmenya Sita, tapi di luar vaginanya Sita soalnya gue takut kalo kenapa-napa di kemudian hari. Sita kelihatan lelah banget dan terkulai di tempat tidur, terus gue kissing aja doi. Tapi gak lama kemudian, Rina keluar dari kamar mandi, dan doi minta buat difuck ama gue.

    Akhirnya gue gantian bersex ama Rina, soalnya gue takut doi kecewa. Dan akhirnya gue habisin sore itu sampai malam, di rumah Sita buat ngesex ama Sita dan Rina beberapa ronde lagi. Sampai-sampai gue kelelahan dan pulang kerumah setelah jam 8. Dan setelah kejadian itu, akhirnya Sita mengakui kalo dia sebenarnya udah lama banget suka ama gue dan membayangkan buat ngesex ama gue bareng temen lesbongnya si Rina.

    Semenjak itu, akhirnya gue sering banget dateng kerumah Sita buat ngesex, bisa berdua ama Sita atau bertiga ditambah Rina. Hal itu udah berlangsung selama sebulan ini, dan gue menikmati banget hubungan ini. Malah kadang gue berdua atau bertiga suka sewa tempat di luar kota buat ngesex bareng. Asik banget bok!

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 04/10/11--19:49: Silvana Yang Hot
  • Cerita Dewasa - Cerita ini berawal ketika gua kost di Bandung (waktu itu gua mahasiswa di U*****),dan kost-kostan gua itu campur. Nah waktu itu di kost gua yang cakep cuma dikit dan ada satu penyewa yg baru masuk namanya Silvana, ternyata anaknya 2 tahun lebih tua dr gua (27thn) dengan tinggi 154cm, berat 46kg dan dia sendiri sudah bekerja di salah satu dept-store terkenal di Bdg. Awal mulanya dia menempati kamar yg paling besar di kost gua dan kelihatannya agak sombong. Dan kita-kita di kost juga ngga ngurusin alias cuek.

    Hingga suatu hari ketika aku sendiri dekat telp-box dia baru keluar dari km.mandi (deketan jaraknya dng telpon) terus nyapa gua
    "Eh kamu udah lama kost disini? kenalin saya yg di kamar itu (sambil menunjuk ke arah kamarnya)
    Gue juga agak terkejut tumben ini anak mau nyapa dan gua bales aja
    "ooh anak baru ya?

    Dan dia kembali mengangguk sambil tersenyum dan dari pembicaraan ternyata ia anak Tulungagung. Hingga akhirnya ia mengajak melihat kamarnya. Singkat kata perkenalanku awalnya biasa-biasa saja, hanya di kamarnya ternyata banyak digantung kutang/BH dan celana dalamnya ternyata ketika aku sindir
    "Pameran nih ye!!"

    Dengan agak malu ia tertawa dan ia menerangkan bahwa ia menjemur krn sudah beberapa kali ia kehilangan 'koleksi pribadinya' dan gua lihat memang koleksinya oke-oke dari kelas St.Michael hingga Calvin Klein punya yg didominasi bahan-bahan tipis menerawang berenda. Akupun sempat melihat sejenak ketika Selvana tanpa sadar menunduk menaruh baju kotornya ke ember tampak belahan susunya yang putih dan agak sedikit berbulu halus dan sangat menerawang krn memakai bh yg mini dan tipis (hanya saja ukurannya agak kecil 32B kali). Terbayang dibenak gua kalo ini anak agak memperhatikan penampilan dan sex-appealnya krn baik bh dan cd-nya hampir nggak ada yg model kuno semua mini/cdnya model tali saja (G-model).Nggak lama gua keluar krn gua ada urusan juga.

    Lama setelah kira-kira 8 bulan hari demi hari terlewati tanpa terasa dan kita-kita jadi kenal sama Silvana. Hingga suatu malam dia mengetuk kamar gua,
    "Eh sory ngeganggu, boleh ngga gua masuk? Diluar ujan deres dan banyak petir! Gua agak serem katanya. Gua jawab aja
    "Masuk aja deh!"

    Dan kali ini dia memakai baju tidur model daster yang bercorak kembang putih dan cukup menerawang hingga pertama masuk lewat pintuku aku bisa melihat kemolekan bodynya dari kakinya hingga ke atas dng jelas ditunjang dng badannya yg ditumbuhi bulu-bulu halus ditangan dan kakinya serta cdnya yg segitiga tali mini berenda warna pink+kutang renda warna putih yang amat tipis sehingga pentilnya yang berwarna merah tua-coklat agak tersamar dimataku. Dia masuk dan langsung duduk di karpet gua sambil ganti-ganti channel TV gua, sambil ngobrol aku sempat melirik ketika dia duduk agak sedikit terbuka tampaklah bulu-bulu vaginanya yg hitam dan cukup lebat keluar dari cd-nya yg mini dan membuatku semakin serrrr dimalam yg dingin itu.

    Setelah ngobrol ternyata dikamarnya baru beli TV 34" dan nggak tahu cara ngesetnya hingga ia sungkan meminta tolong sama gua. Akhirnya kita pindah ke kamar di dan gua mulai nyari gelombang buat TV-nya. Hanya saja pas gua keluar dari kamar gua sambil ngunci,siku gua sempat secara tidak sadar 'mengelus' sesuatu yang gua juga kaget ternyata kena toket dia yg dibalut sama kain silk (kutang+dasternya) hingga gua bisa ngerasain ujung pentilnya yg lagi kenceng. "Eh sori kataku nggak sengaja', dia hanya jalan saja seolah tidak bereaksi/tidak sadar 'barangnya' kena senggol.

    Ketika dipersilahkan masuk di kamarnya secara tidak sengaja aku melihat alat berbentuk kerucut yg aku langsung ingat bahwa alat itu alat unt memperbesar toket. Gua pura-pura cuek masuk dan langsung ke TV-nya dan ketika aku mulai sibuk ke TV-nya, sempat terlihat lewat pantulan kaca TV dia langsung memasukkan alat itu ke lacinya (malu kali). Nah ketika udah gua set pas di RCTI ada serial Horor dan kebetulan dia ngomong kesukaan gua tuh, gua jawab "kok tadi takut?. Dia bales ketawa dan mengajak gua nonton tuh horor.

    Karena di kamarnya ngga ada karpet dan sofa maka dia mengajakku nonton di atas ranjang dia,"Ayo disini aja deh disebelah gua ajaknya". Gua akhirnya duduk bersebelahan dng dia sambil nonton, lama-lama entah bagaimana gua juga mulai kedinginan akhirnya dia narik selimut sebatas perut kita berdua. Selama nonton konsenrasi gua pecah ngeliatin aja susunya yg baru gua sadarin udah mancung punya dibanding gua pertama kali ngintip punya dia. Bahkan baju daster tidurnya seolah sudah tidak mampu membendung susunya yg mancung sehingga bagian atas nongol dng bulu-bulu halus dan bagian bawah disangga kutang renda. Hingga akhirnya Selvana merapatkan badannya ke badan gua dan gua mulai merasakan toket sebelah kirinya udah nempel di badan gua dan yg sebelah kanan udah nongol jelas dng indahnya sebagian dimata gua, eh nggak lama dia ngomong "Dingin ah, tangan gua peluk elu yah! Dan yang mengejutkan tangannya secara sengaja ditaruh dekat 'barang' gua yang waktu itu udah ereksi berat.Dan ketika agak melorot dia agak terkejut

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    "Apa ini katanya separuh kaget",gua bales"Eh nggak apa-apa".Dan ia tertawa kecil dan malah memegang kontol gua sambil komentar
    "yg ini aja deh lebih anget"
    Dan gua karena udah mulai 'terangsang' akhirnya gua mulai mancing "Sel, itu kamu kok sekarang beda?"
    Dia ngejawab"masa sih sambil megang toketnya",langsung aja gua jawab "Toket lu bagus! Dan dengan santai dia malah jawab" Lu seneng? kepengen liat buka aja deh sendiri"

    Gua kontan aja langsung melepas tali dasternya di kedua pundaknya sehingga sekarang melorot tinggal kutang rendanya yang indah dan langsung tangan gua meremas-remas susunya yang ternyata cukup kenceng dan langsung gua buka juga behanya sambil gua ciumin dari bibirnya hingga ke toketnya sambil gua remes-remes dan gua bisikkan "susulu indah banget Sel" dan ia makin menikmati remasan dan jilatan gua hingga pentilnya menegang berat. Pas di susunya nampak jelas buletan pentilnya masih kecil warnanya merah dan udah nggak terlalu kecil kayak dulunya pernah disedot juga.

    Yang bikin gua makin terangsang toketnya pas gua tanya ukuran berapa sih, dia ngebisikin 36B dan ditumbuhi bulu-bulu halus sehingga amat indah. Sambil gua remes dan gua jilatin toket dan putingnya yang mengeras,tangan dia udah masuk ke celana gua dan mulai melucuti seluruh pakaian gua sampai akhirnya kita berdua bugil total dan dia mulai menjilati kontol gua dan gua mulai ngelus-ngelus memeknya yang dari tadi belum terlalu basah, hingga posisi 69 dan gua cuma ngemainin memeknya yang lembab dan pertama kali gua lihat langsung memek cewek yang merah tua kecoklatan ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat (dan kata orang mainnya ganas dan hot).

    Kira-kira sepuluh menitan dia ngemutin kontol gua dengan permainan lihai lidahnya sampai tangan dan kaki gua rasanya kaku semua keenakan, dianya berbalik posisi menciumi dari leher gua hingga dada gua yang malah membuat dia makin terangsang karena ternyata dia amat mendambakan 'main' dengan cowok dadanya berbulu kayak gua. Dan nggak lama dia megang kontol gua dan ngomong 'gua udah ngga tahan nih masukin aja deh' pintanya. Gua sendiri yang belum pernah merasakan hanya menurut saja dan dia berbisik'elu masih perjaka yah' , ketika gua mengiyakan dia semakin agresif dan berbisik "Gua ajarin deh! dan mulailah dia perlahan menelusupkan mencoba memasukkan barang gua sambil meringis "aaagh, gila barang lu paten juga" karena emang barang gua meski cuma 12 cm panjangnya tapi diameternya 4,5 cm dan melengkung keatas bentuknya. Setelah dua-tiga kali mencoba akhirnya masuk juga dari cuma kepala kontol gua hingga separuh dan akhirnya masuk semua.

    Dan ketika mulai masuk semua dia mulai bergerak naik-turun dan ketika masuk aku merasakan pijatan nikmaaat sekaliii dalam memeknya yang memijat seluruh kontol gua hingga aku bisa merasakan dia juga mengalami kenikmatan yang luar-biasa sambil meremas kedua susunya yang semakin mengeras dan gua lirik putingnya sampai ngaceng keluar dia hanya keenakan 'eeeh,eeh,aaaah' seirama naik-turun dan goyangan maju-mudur sambil agak memutar di kontol gua hingga dia mendesah keenakan 'tahaaan aaaku aauuudaah mau keluar' dan aku masih sempat menahan hingga akhirnya di kontolku aku merasakan seperti siraman hangat yang justru membuat semakin nikmat karena licin diiringi dengan desahan Silvana 'aaaaaaah'.

    Setelah 15 menit pertama, Silvana menyuruhku untuk duduk berhadapan dan karena dia kecil kali ini aku yang mulai memainkan kontolku sambil aku menciumi leher dan susunya hingga dia mengalami orgasme lebih cepat dari sebelumnya dan dia meraih tissue dekat ranjangnya untuk membasuh lendirnya yang mulai menetes sambil merangkulku dan berbisik" Enak sekali titit kamu sampe gua udah keluar lagi dan dia masih terus bernafsu sambil berkata gantian kamu yg diatas yach. Diapun mengeluarkan handuk kecil untuk me-lap punggung dan badan kita berdua yang mulai berkeringat.

    Setelah bertukar posisi Silvana menarik cover-bednya untuk menutupi tubuh kita berdua dan dia mulai menarik kedua kakinya dilipat kearah mukanya dan dia hanya tertawa "jangan bingung dong gua-kan biasa aerobik dan split", Yah gua sendiri ngga kaget, pantesan daya-serangnya yang panjang karena fisiknya bagus (ikut aerobik), dan gua mulai kembali memasukkan kepala kontol gua sebagian hingga perlahan masuk seluruhnya diiiringi desahan Silvana kembali 'aaaaaah massuuukiiin terruuss' seolah amat menikmati.

    Kali ini entah bagaimana beberapa kali aku masukkan seluruh kontol gua dia menjerit kecil 'ooouuh' dan gerakan badannya menggeliat keenakan hingga sedikit membusur, dan kontolku sendiri terasa agak geli (tapi enak) selain merasakan pijatan reflek Silvana juga menyentuh seperti biji salak di memeknya hingga Silvana terus memegang dadaku yang penuh bulu seolah meminta dan aku bisa terus menacapai 'biji' dia (G-spot) hingga tanpa disadari entah mungkin 10 menit berikutnya ini Silvana sudah mengalami orgasme lebih dari 3 kali hingga dia hanya mendesah saja keenakan.



    Dan dia melirih 'barang gua udah lu mentokin habis, gila'.Hingga akhirnya gantian dia gua angkat hingga dipangku dan dia bergantian bergerak maju-mundur hingga kita berdua berkeringat dan gua jilatin aja seluruh leher, dada dan susunya yang menegang sambil gua remas karena membuat bulu-bulu halusnya semakin nampak jelas oleh keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, hingga gua dan Silvana seperti sepasang manusia yang sedang mencurahkan nafsu birahinya.

    Hingga setelah gua bener-bener terangsang baik oleh memeknya yang terus ulet memijat kontol gua dan menyentuh-nyentuh 'biji salaknya'sampai mentok (krn dia pendek kali) hingga tangan dan kaki Silvana aku rasakan semakin menegang sambil berbisik "ttahaan dikiit lagiii ggua mau keluaaar bbaanyak", gua pun udah hampir nggak tahan nafsu banget ngeliat bodynya yang putih mulus, toketnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang menghitam kena keringat, tidak terbayang nikmaatnya hingga gua berciuman dengan bibir dingin menahan nikmat dengan Silvana sambil terus memainkan memek dan kontol gua, sampai gua akhirnya mulai merasakan kenikmatan puncak, dia seolah merasakan "Keluarin bareng yah di dalem aja" seraya menciumi leher dan dadaku, aku mengiyakan dan Silvana mempercepat ritme hingga dia mendesah hebat penuh birahi'aaaagghh' mencapai puncak orgasme hingga terasa kontol gua seperti diremas keras oleh memeknya sambil mengeluarkan pelumasnya kembali hingga terdengar suara 'cpok,cpok,cpok....disambut berbarengan dengan keluarnya spermaku didalam.

    Dan kita berdua saling merangkul dan berciuman hingga ranjang Silvana berantakan dan dibasahi oleh pelumasnya dan keringat kita. Dan dia komentar "Kamu benar-benar pria sejati, gua bener-bener puas lu bisa mentokin barang gua dan lu masih perjaka".

    Sejak itu gua dan dia masih berulang kali makin' love apalagi kalo dia habis main sama cowoknya dan cowoknya ngga bisa memuaskan Silvana (karena katanya kontol cowoknya lebih pendek dan lebih kecil dari gua), atau dia lagi stress entah krn ada masalah sama cowoknya/kerjaan di kantor, pasti langsung ngajak main sama gua entah dikamar gua atau kamar dia. Dan yang gua akui meskipun pendek tapi body-nya (meski pake polesan dikit) padet dan kenceng banget, dan yang gua kagumin 'memeknya' itu yang rapet dan bisa 'memijat'.

    Hingga terakhir aku bermain dengan dia pada bulan November 2006 sebelum dia nyusul cowoknya ke US buat ambil master. Dan sebagai salah satu permainan ternikmat yang aku rasakan dengan Silvana, kita berdua 'makin-love' sepanjang malam hingga subuh sampai puas sebelum malamnya ia ke US di suite-room hotel Sheraton Bandara-Cengkareng!!! Dan ia berjanji kalau tahun 2010 ini akan pulang ke Indonesia untuk 'makin-love' dengan gua lagi.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 04/18/11--02:51: Pak Hamid, Pasienku
  • Cerita Dewasa - Aku menjadi dokter yang terpilih mewakili organisasi proyek perbaikan gizi masyarakat di suatu kepulauan. Tempat aku bekerja jaraknya hanya satu jam pelayaran dan terletak dalam satu propinsi dengan tempat tinggal kami. Atas persetujuan suami, kami berpisah dan setiap dua minggu aku pulang ke rumah.

    Sepeninggalku, ternyata suamiku menunjukkan dirinya sebagai gay. Dia mempunyai pemuda simpanan teman tidur dan pemuas sex. Selama aku dinas di kepulauan, pemuda itu beberapa kali dibawa pulang menginap di rumah. Untuk menyembunyikan sikapnya, sehari-hari teman gaynya disimpan di luar, disewakan rumah. Kejadian ini memukul perasaanku. Segala upaya untuk menyadarkan suamiku ternyata tidak membawa hasil.

    Aku membawa kedukaanku di pulau dengan cara melayani masyarakat setempat. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku buka praktek sebagai dokter umum. Suatu hari ketika jam praktek hampir usai, seorang pasien laki-laki tegap berkumis dan bercambang datang minta agar diperiksa. Ia memperkenalkan namamanya Hamid. Keluhannya sering pusing.

    “Silakan Pak Hamid naik ke tempat tidur biar saya periksa”.

    Segera aku memeriksa pernafasan, tekanan darah dan lain-lainnya. Ketika tanganku memegang tangannya yang berbulu lebat, ada perasaan canggung dan geli. Sewaktu Pak Hamid pamit, dia meninggalkan amplop biaya pemeriksaan. Ternyata isinya melebihi kewajaran tarip seorang dokter umum.

    Hari berlalu, ketika suatu malam saat aku akan mengunci kamar praktek, dihadapanku telah berdiri Pak Hamid.

    “Dokter, apakah masih ada waktu untuk periksa saya? Maaf saya datang terlalu malam karena ada pekerjaan tanggung”.

    Aku kaget karena kehadirannya tanpa aku ketahui. Dengan senyum geli aku membuka kembali ruang praktek sambil mempersilakan masuk.

    “Dok, saya tidak mempunyai keluhan. Hanya saya ingin tahu apakah tekanan darah saya normal”.

    Demikian Pak Hamid mengawali pembicaraan.

    “Saya bisa tidur nyenyak setelah makan obat dokter”.

    Sambil memerika, kami berdua terlihat pembicaraan ringan, mulai dari sekolah sampai hobi. Dari situ aku baru tahu, Pak Hamid telah dua tahun menduda ditinggal mati istri dan anak tunggalnya yang kecelakaan di Solo. Sejak saat itu hidupnya membujang. Ketika pamit dari ruang praktekku, Pak Hamid menawarkan suasana santai sambil menyelam di kepulauan karang.

    “Dok, panoramanya sangat indah, pantainya juga bersih lho”.

    Aku setuju atas tawaran itu dan Pak Hamid akan menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.

    Dalam speed boath yang menyeberangkan kami, hanya berisi aku, Pak Hamid dan pengemudi kapal. Sesampainya disana, aku merasa canggung ketika harus berganti pakaian selam di hadapan laki-laki. Tapi aku juga belum tahu cara mengenakan pakaian selam jika tanpa bantuan Pak Hamid. Terpaksa dengan pakaian bikini aku dibantu Pak Hamid memakai pakaian renang. Tangan kekar berbulu itu beberapa kali menyentuh pundak dan leherku. Ada perasaan merinding.

    Tanpa terasa kegiatan menyelam menjadi kegiatan rutin. Bahkan pergi ke tempat penyelaman sering hanya dilakukan kami berdua, aku dan pak Hamid. Semakin hari jarak hubungan aku dengan Pak Hamid menjadi lebih akrab dan dekat. Kami sudah saling terbuka membicarkan keluarga masing-masing sampai dengan keluahanku mengenai suamiku yang gay. Dia tidak lagi memanggilku Bu Dokter, tapi cukup namaku, dik Nastiti.

    Musim barat hampir tiba, kami berdua di tengah perjalanan ke tempat penyelaman. Tiba-tiba datang hujan dan angin sehingga gelombang laut naik-turun cukup besar. Aku mual, sehingga kapal dibelokkan Pak Hamid ke arah sisi pulau yang terlindung. Kami turun ke pantai, duduk di bangunan kayu beratap rumbia tempat para penyelam biasa istirahat sambil menikmati bekal. Hanya ada dua bangku panjang dan meja kayu di tempat itu. Angin kencang menyebabkan tubuh kami basah dan dingin. Aku duduk mepet ke Pak Hamid. Aku tidak menolak ketika Pak Hamid memelukku dari belakang. Tangan berbulu lebat itu melingkar dalam dada dan perutku. Dekapan itu terasa hangat dan erat. Aku memejamkan mata sambil merebahkan kepalaku di pundaknya, sehingga rasa mabuk laut mulai reda.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Sebuah kecupan ringan melekat di keningku, kemudian bergeser ke bibir, aku berusaha menolak, tapi tangan yang melingkar di dadaku berubah posisi sehingga dengan mudah menyusup dalam BHku. Tiba-tiba badanku terasa lemas saat jari tangan itu membuat putaran halus di puting susuku. Bibir berkumis lebat itu menjelajah ke bagian sensitip di leher dan belakang telingaku. Persasaan nikmat dan merinding menjalar dalam tubuhku. Bibir itu kembali bergeser lambat menyusur dagu, bergerak ke leher, pundak dan akhirnya berhenti di buah dadaku. Aku tidak tahu kapan kaitan BH itu terbuka. Dorongan kuat muncul di vaginaku, ingin rasanya ada benda bisa mengganjal masuk.

    Tangan kekar itu akhirnya membopongku dan meletakkan di atas meja kayu. BHku telah jatuh di atas pasir, mulut dan tanggan Pak Hamid bergantian menghisap dan meremas kedua gunungku, kanan kiri. Aku bagaikan melayang, kedua tanganku menjambak rambut Pak Hamid. Kepalaku tanpa terkendali bergerak ke kanan dan kiri semakin liar disertai suara eluhan nikmat. Oooohhhhh……oohhhh… ooooohhhh……aauuhhhhhh. Kedua tangannya semakin kencang meremas buah dadaku. Mulutnya bergeser perlahan ke bawah menelusur pusar…….. terus….vaginaku. Ahhh…… husss……. ahh…… aahhhhhh.

    Ketika mulut itu menemukan klitorisku, jeritanku tak tertahan Auh..h…h… aahhh….. husss….. sebuah benda lunak menyeruak bibir vaginaku. Bergerak perlahan dalam usapan halus serta putaran di dinding dalam, membuatku semakin melayang. Tanpa terasa eranganku semakin keras. Untuk menambah kenikmatan, aku angkat tinggi pantatku ke atas. Ingin rasanya benda itu masuk lebih dalam. Tapi aku hanya memperoleh dipermukaan.

    Ooohhhh……..haahh…… haaahh…huuu……………. t..e…r…u….s…..se..se..se..dikit…atas. Ooohhh…….aahhh ……….. Sebuah hisapan kecil di klitorisku memperkuat cengkeraman tanganku di pinggir meja. Hisapan itu semakin lama semakin kuat…. kuat dan kuat….. menjadikan kenikmatan tak terhingga…. memuncul denyutan orgasme. Otot-otot disekitar vaginaku mengejang nikmat dan nikmat sekali. Sesekali nafasku tersengal aaa……….. hhhhhh………… huuu………… aahhhhh….aahhhh……… aaaahhhhhhhh……. ahhhh…… huhhhhhhh…ehhhhhh. Denyut itu menjalar dintara pangkal paha dan pantat ke seluruh tubuh. Orgasme yang sempurna telah aku dapatkan. Puncak kenikmatan telah aku rasakan.


    Lemas sekujur tubuhku, aku ingin dipeluk erat, aku ingin ada sebuah benda yang masih tertinggal dalam vaginaku untuk mengganjal sisa denyutan yang masih terasa. Tapi aku hanya menemukan kekosongan. Tangan-tangan berbulu itu dengan pelan membuka kembali pahaku. Kedua kakiku diangkat diantara bahunya. Kemudian terasa sebuah benda digeser-geser dalam vaginaku. Semula terasa geli, tapi kemudian aku sadar Pak Hamid sedang membasahi penisnya dengan cairan kawinku. Seketika aku bangun sambil menutup kedua kakiku. Aku mendorong badannya, dan aku menangis. Sambil membuang muka aku sesenggukan. Kedua tanganku menutup dada dan selangkangan. Pak Hamid tertunduk duduk dibangku menjauhi aku. Ia sadar aku tidak mau dijamah lebih dari itu. Sambil menelungkupkan badan di meja, tangisku tetahan. Pak Hamid mendekati dan dengan lembut ia membisikkan kata permintaan maaf. Diapun menyorongkan BH serta celana dalamku. Aku tetap menangis sambil menutup muka dengan kedua tanganku. Akhirnya pak Hamid pergi menjauh menuju kapal mengambil bekal.

    Kami duduk berjauhan tanpa kata-kata. Sekali lagi Pak Hamid mengajukan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kejadian itu. Ia menyerahkan botol air mineral kepadaku.

    “Maafkan aku dik Nastiti, aku khilaf, aku telah lama tidak merasakan seperti ini sehingga aku khilaf. Aku minta maaf yah, aku harap kejadian ini tidak mengganggu persahabatan kita. Yuk kita minum dan makan siang, terus pulang”.

    Aku merasa iba pada Pak Hamid. Ternyata dengan tulus dia masih bisa menahan syahwatnya. Padahal bisa saja memaksa dan memperkosaku.

    Kesadaranku mulai pulih, emosiku mereda. Aku mulai berpikir pada kejadian tadi, bukankah aku telah terlanjur basah saat ini? Bukankah bagian dari kehormatanku telah dijamah Pak Hamid? Bukankah tubuhku yang paling sensitif telah dinikmati Pak Hamid? Apa artinya mempertahankan kesucian perkawinan? Bukankah aku tidak pernah menikmati rasa seperti ini dengan suamiku? Bukankah aku telah kawin dengan seorang gay? Yah aku telah diusir dari rumahku oleh teman gay suamiku. Tapi itu bukan salah suamiku. Ia terlahir dengan kelainan jiwa. Ia menjadi gay dengan menanggung penderitaan. Ia terpaksa memperistri aku hanya untuk menutupi gaynya. Aku ingin merasakan kenikmatan, tapi aku tidak ingin jadi korban, aku tidak ingin punya anak dari hubungan ini dengan Pak Hamid.

    Keberanianku mulai muncul. Aku melompat dan memeluk Pak Hamid. Kelihatan Pak Hamid ragu pada sikapku sehingga tangannya tidak bereaksi memelukku. Aku bisikan kata mesra.

    “Pak, aku kepingin lagi, seperti tadi, tapi aku minta kali ini jangan dikeluarkan di dalam”.
    “Maksud dik Nastiti….. ”

    Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, tanganku meraba ke penisnya. Kemudian tanganku menyusup dalam celana renangnya. Sebuah benda yang tidur melingkar, tiba-tiba bangun karena sentuhanku…



    ”Tapi jangan dikeluarkan di dalam ya Pak….”.
    “Terima kasih dik….”.

    Senyum Pak Hamid berkembang. Kembali aku didekap, aku dipeluk erat oleh kedua tangan kekar. Aku benamkan mukaku di dada bidang berbulu.

    Tanpa komando aku duduk di atas meja sambil tetap memeluk Pak Hamid. Aku diam, mataku terpejam ketika pelan-pelan aku direbahkan di atas meja. Satu persatu pengikat BHku lepas sehingga tampaklah susuku yang masih sangat padat lengkap dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan sudah berdiri dengan pongahnya. Kedua tangannya meraih dadaku, mulut hangat menyelusur gunungku, perlahan-lahan bergeser ke bawah, semakin ke bawah gerakkannya semakin liar. Gesekan kumis sepanjang perut membuatku menegang. Aku pasrah ketika celana dalamku ditarik ke bawah lepas dari kaki sehingga kini aku sudah benar-benar bagaikan bayi yang baru lahir tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhku. Mulut hangat itu kembali bermain lincah diantara bibir bawahku yang ditutupi rambut-rambut kemaluan yang berwarna hitam legam dan tumbuh dengan lebatnya disekeliling lubang kawinku dan clitorisku terasa sudah mengeras pertanda aku sudah dilanda nafsu kawin yang amat menggelegak.


    Kenikmatan kembali menjalar di rahimku. Auh….e.e.e.e.e.e.e…..haaah…haaah…haah. Auhhhhsss…… aku mengerang. Pak Hamid sambil berdiri di tepi meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku. Aa……hhhh…..uhhh.. jeritan kecil tertahan mengawali dorongan penis Pak Hamid menyusup vaginaku. Pantatku diangkat tinggi dengan kedua tangannya ketika benda itu semakin dalam terbenam. Tanpa hambatan penis Pak Hamid masuk lebih dalam menjelajah vaginaku. Dimulai dengan gerakan pendek maju mudur berirama semakin lama menjadi panjang. Nafasku tersengal menahan setiap gerak kenikmatan. Aaah….ahh…..ahh…….haaaa……………………..haassss…….
    Entah berapa lama aku menerima irama gerakan maju mundur benda keras dalam vaginaku. Aku telah merasakan denyut orgasme.

    Auuuuuuuuhhhhh………… Jeritan dan cengkeraman tanganku di pundak belakang penanda aku mencapai puncak orgasme. Gerakan benda itu dalam vaginaku masih tetap berirama, tegar maju mundur dan membuat gesekan dengan sudut-sudut sensitif. Tiba-tiba irama gerakan itu berubah menjadi cepat, semakin cepat….. suara eluhan Pak Hamid terdengar dan otot vaginaku kembali ikut menegang, yah… aku mau kembali orgasme… aaahhhhhhhhhhhh……. aahhhh…. Tiba-tiba benda dalam vaginaku ditarik keluar.

    Semprotan cairan hangat mengenai pahaku dan meleleh di atas meja. Pak Hamid mencapai puncak kenikmatan. Pak Hamid memenuhi janjinya, tidak mengeluarkan cairan mani dalam vaginaku. Aku lemas…..lemas sekali seperti tidak bertulang. Aku didekap lembut dan sebuah ciuman di kening menambah berkurang daya kekuatanku.

    Tiga tahun kemudian setelah kejadian di pulau itu, aku telah menikmati hari-hari bahagiaku. Aku sekarang telah menjadi nyonya Hamid. Di pelukanku ada si mungil Indri, buah hati kami berdua. Setelah perceraian dengan suamiku, satu tahun kemudian aku menikah dengan Pak Hamid.

    Mantan suamiku mengirim berita ia sekarang sekolah di Australia. Tapi aku tahu semua itu hanya kamuflase, seperti dalam pengakuannya lewat telepon, mantan suamiku menetap di Sydney agar dapat memperoleh kebebasan menjadi kaum gay.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 04/24/11--10:52: Nani Gadis Kampung
  • Cerita Dewasa - Kala itu aku numpang kost dirumah temanku yang sudah berkeluarga, sedang seorang gadis adik temanku kebetulan numpang juga dirumah itu, sebagai pengasuh anak-anak temanku itu, berhubung suami istri bekerja.

    Pada awalnya aku memandang gadis itu Nani namanya, biasa-biasa saja, maklum aku walaupun sudah cukup dibilang dewasa (27) tetapi sekalipun belum pernah mengenal cewek secara khusus apalagi namanya pacaran, maklum ortuku menekankan menuntut ilmu lebih utama untuk masa depan. Apalagi setelah aku selesai kuliah dan langsung bekerja, aku merasa berhasil menikmati hasilku selama ini. Itu sekedar backround kenapa gadis itu aku pandang biasa saja, karena dia hanya lulus SD sehingga aku kurang peduli bila aku menyadari tingkat pendidikanku sendiri.

    Namun dari hari kehari Nani si gadis itu selalu melayaniku menyediakan makan, menjaga kebersihan kamarku, dan bahkan mencuci bajuku yang terkadang tanpa aku minta walaupun aku sebenarnya biasa mencuci sendiri, namun adakalanya aku cukup sibuk kerja, sehingga waktuku terkadang di-buru2.

    Rupanya gadis itu sedikit menaruh hati, tapi aku tidak tanggap sekali. Terlihat dari cara memandangku, sehingga aku terkadang pura-pura perhatian ke hal yang lain. Sampai pada suatu saat, dimana temanku beserta anak istrinya pulang kampung untuk suatu keperluan selama seminggu, sedangkan adik perempuannya karena harus menyediakan makan setiap kali untukku tidak diikutkan pulang, sehingga tinggal aku dan gadis itu dirumah itu. Rupanya kesendirian kami berdua menimbulkan suasana lain dirumah, dan hingga pada suatu pagi ketika itu gadis itu sedang menyapu kamarku yang kebetulan aku sedang bersiap berangkat kerja, masuklah gadis itu untuk menyapu lantai. Sebagai mana posisi orang menyapu, maka saat gadis itu membongkok, aduhhh rupanya perhatianku yang sedang bercermin tersapu juga oleh pemandangan yang menakjubkanku.

    Dua buah melon yang subur segar terhidang didepanku oleh gadis itu, dengan sedikit basa basi gadis itu menyapaku entah sadar atau tidak dia telah menarik perhatianku karena payudaranya yang tidak terbungkus BH, kecuali dibalut baju yang berpotongan dada rendah. Dengan tidak buang kesempatan aku nikmati keindahan payudara itu dengan leluasa melalui cermin selama menyapu dikamarku. Menjelang dia selesai menyapu kamarku, tiba-tiba dia dekap perutnya sambil merintih kesakitan dan muka yang menampakkan rasa sakit yang melilit. Dengan gerak reflekku, aku pegang lengannya sambil aku tanya apa yang dia rasakan. Sambil tetap merintih dia jawab bahwa rasa mules perut tiba-tiba, maka aku bimbing dia kekamarnya dengan tetap merintih memegangi perutnya sampai ditempat tidurnya. Kusuruh dia rebahan dan memintaku untuk diberikan obat gosok untuk perutnya. Segera aku ambilkan dan sambil berjaga dia gosok perutnya dari balik blosenya.

    Tetapi tiba-2 saat menggosok lagi-2 dia mengerang dan mengaduh, sehingga membuatku sedikit panik dan membuatku segera ikut memegangi perutnya dan sambil mengurut juga. Dan nampak sedikit agak berkurang rintihanya, sambil aku masih urut perutnya.

    Kepanikanku mulai hilang dan perhatianku mulai sadar lagi akan keindahan payudara gadis itu bersamaan dengan bangkitnya perasaan gadis itu selama aku urut tadi mulai menelusuk ke tubuhnya merasakan kenikmatannya juga dan dengan tiba-2 tanganku dipegangnya dan dibimbingnya tanganku ke taman berhiaskan buah melonnya yang subur segar dan aku turuti saja kenikmatan bersama ini untuk mengusap buah melon yang tidak terbungkus itu, dan tanganku terus menelusup diantara buah-2 itu sambil memetik-metik putingnya. Gadis itu mulai merintih nikmat, dan erangan halus dan memberi isyarat tanganku untuk terus dan terus memilin puting buahnya yang semakin menegang. Baru aku sadari bahwa untuk kali pertama aku merasakan puting gadis yang menegang bila sedang terangsang dengan erangannya yang membuat penisku yang dari tadi ikut mengeras tambah menekan didalam celanaku yang sebenarnya sudah siap untuk berangkat kerja, namun untuk sementara tertunda.

    " eehh ...mas .. geliii..tapi enak, aahhh ..eehmm aduuuhh enak mass.."

    Posisi dia saat itu sambil duduk membelakangiku, dan tiba-tiba dia menyandar kedadaku sambil menengadahkan mukanya dan mulutnya mengendus-endus leherku. Tanpa buang waktu, mulutkupun aku enduskan kelehernya dan selanjutnya mulut kami saling mencari bibir-bibir untuk saling mengemot dan saling menjulurkan lidah bergantian untuk saling dikemot-kemot penuh nafsu, sementara tanganku terus menyusuri buah-buah yang subur itu untuk meningkatkan kegairahannya, sedang tangan gadis itu mulai hilang kesadarannya oleh kenikmatan itu dengan ditandai kegairahannya untuk melepas kaitan rock bawahannya dan dilanjutkan ke kancing-kancing blousenya. Kembali kesadaranku tertegun untuk pertama kali aku menikmati keutuhan tubuh seorang gadis yang hanya mengenakan CD-nya. Namun untuk saat itu juga aku teperanjat, " Eiitt, nani ini udah jam delapan, aku harus berangkat kerja wahh aku terlambat" kataku. Kami saling tertegun pandang dan saling senyum tertahan dan kemudian kami berpeluk cium, sambil aku berkata

    " Entar aku berangkat dan aku segera kembali , hanya untuk minta ijin kalau aku ada keperluan yahh, gimana ??".
    "He..eh, mas entar lagi ya. mas".

    Kami saling melepas yang seolah pelukan kerinduan yang selama ini lama terpendam.

    Kebetulan kantorku hanya beberapa ratus meter dari rumah kost yang aku tempati. Selesai aku menyampaikan alasan yang dapat terima atasanku, segera aku bergegas pulang lagi.

    Ketika aku sampai dirumah, yang memang setiap harinya sepi pada jam-jam kerja, maka menambah kegairahanku waktu aku membuka pintu depan yang tidak terkunci, dan langsung kukunci saat aku masuk. Tetapi pintu-pintu kamar tertutup. Maka yang pertama aku tuju kamarku.

    Aku buka kamarku untuk ganti baju kerjaku dengan maksud akan ganti baju kaos dengan celana pendek saja. Aku buka baju dan celanaku satu persatu, dan saat aku hanya kenakan celana dalamku, tiba-2 dari belakang nani sigadis itu sudah dibelakang mendekapku dan ohh, menakjubkan rupanya dari tadi dia aku tinggalkan tidak lagi kenakan bajunya sambil terus menunggu dikamarku.

    Maka kembali kenikmatan pagi itu aku teruskan lagi, dengan saling meraba dan ciuman yang penuh nafsu dan kami masing2 hanya mengenakan celana dalam saja, sehingga kulit kami bisa saling bergesekan merasakan dekapan secara penuh, sementara kami berpelukan dan mulut berciuman, penisku merasakan keempukan tonjolan daging diselangkangan Nani yang seolah terbelah dua memberikan sarang ke batang penisku. Sedangkan dadaku merasakan tonjolan Buah (melon)dadanya yang lembut dan torehan puting susunya didadaku. Tanganku bergerak dari punggungnya beralih ke pantatnya yang bulat untuk aku remas-2 sedang tangannya tetap memegang leher dan kepalaku dengan mulut bibir lidah saling mengemot. Lama kami pada posisi bediri

    " eehhh ... mmaaaas eeehh eeegh enaak sayang nggg ..., terusss, terusss ,,,, geliii... egghhhh eenaak " erangnya yang setiap saat keluar dari mulutnya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kegairahan pagi itu kami lanjutkan dilantai kamarku untuk saling berguling dan tetap saling peluk menaikkan gairah petting kami yang pertama kali dilantai kamarku. Maklum kamar indekost dengan tempat tidurku yang seadanya dan pas-pasan yang pasti kurang pas untuk kegairahan petting yang memuncak di pagi itu. Dengan leluasa tangan kami saling bergerak ke buah (melon) dada, penis, puting dan satu hal selama ini obsessiku adalah keinginan yang terpendam adalah kenikmatan untuk mengemot puting bila melihat buah (melon) dada gadis/wanita yang demikian montok dan menggairahkan, maka aku tumpahkan obsesiku pada kenikmatan pagi itu untuk pertama kali.

    " Mass sayang terruss kemot pentilku,,, mmaasss gelii, geeliii, ... eehm mas enak.. terus jilatinn pentilku teruss aku peengin di jilatin terus pentilku..".

    Dengan penuh gairah pertama aku puaskan menjilati putingnya yang aku rasakan semakin menegang dan peniskupun juga semakin menegang sambil aku gesek-2-kan ke tonjolan daging diselangkangan nani. Aku kembali agak kaget ketika batang penisku merasakan basah saat aku gesekkan di tonjolan daging selangkangan nani yang masih memakai CD, yang padahal penisku sendiri tidak mengeluarkan cairan sperma. Maka sambil mulutku mengemot dan menjilati puting susunya, tangan ku mencoba meraba selangkangan nani diantara belahan daging, namun tiba-tiba dia memekik

    " A'aaa ehh jangan dulu mas enggak tahan gelinya".

    Maka sementara aku lepaskan kembali dan tangan ku kembali meremas Buah (melon) dadanya sambil memilin-milin putingnya

    " Mass ..,,,he'eh begitu kemotin pentilku terussusuku diremass-re'eemas ,,,,e'eeenak eeh...ehghhm....yangg geli....".
    Penisku terus aku gesek-2kan dicelah selangkangan nani,
    " eeh,,eehh...eehh.eehh.eeheh.eh". Demikian lenguhannya setiap aku gesek selangkangannya.
    " Mas... tarik CD-ku dan pelorotkan punyamu",

    sampai pada ucapan nani tersebut maka sementara kami lepas pergumulan itu sambil aku dengan ragu dan deg-deg-an aku tarik pelan-pelan CD-Nani yang masih dalam keadaan terlentang semantara aku duduk dan dia mulai angkat kakinya keatas saat CD-nya mulai bergeser meninggalkan pantat sambil terus aku menarik perlahan-lahan dengan saling berpandang-pandang mata serta senyum-2 nya yang nakal maka aku dihadapkan dengan sembulan apa yang disebut clitoris yang ditumbuhi rambut-2 halus sedikit keriting dan bllaaasss lepas sudah CD-nya tinggalah celah rapat-rapat menganga semu pink dan semu basah dengan sedikit leleran lendir dari lubang kenikmatan.

    " Nin.. kenapa sih" tanyaku nakal,
    " Apanya ...mas" sautnya sambil senyum,
    " Kalau dikemot-kemot teteknya sama pentilnya tadi".
    " Aduh rasanya geli banget, rasanya kaya mau mati saja tapi enak iih geli".
    " Enggak sakit dikemot dipentilnya tadi" tanyaku,

    " Enak.. mas, rasanya pingin terus, kalu udah yang kiri, terus pingin yang kanan, rasanya pingin dikemot bareng-2 sama mulut mas.Terus di memekku jadi ikut-2an geli enyut-2an sampai aku eeghh.. hemmm gimana yach bergidik. hhmmmm" akunya

    " Terus pingin lagi nggak dikemot-kemot?" tanyaku penasaran.

    "Iiiih ... mas nakal, ya ..pingin lagi dong", sambil tangannya merayap ke selangkanganku yang masih pakai CD, memencet penisku yang menonjol dan juga meremas.

    "Kalau adik mas rasanya gimana tuh kalau kau pegang-pegang gini ?, geli nggak?" keingin-tahuannya juga. " Sama enak rasanya, pengin terus dielus-2 sama nani terus, geli eh-eh.eh" dengan penasaran dia mengesek-gesek pas lubang penisku, jadi geli rasanya.

    "kalau ininya dipegang-pegang gini gimana mas?" sambil dia pegang dan raba-2 buah pelirku.

    " Yah nikmat juga" tegasku sambil aku elus-2 pahanya yang tidak begitu putih tapi mulus. "Eh.. mas tadi aku tipu, pura-2 sakit, abis mas kelihatannya cuek saja"

    Sambil dia senyum nakal menggoda. Brengsek juga nih cewek batinku, nekat juga ngerjain aku.

    "Mas.. selama seminggu ini kita hanya berdua saja dirumah, terus gimana enaknya mas ?" tanyanya sambil iseng meremasremas penisku yang tetap tegak sedang aku memilin-milin puting susunya yang tetap juga tegang, " Kita kelonan terus saja seminggu ini biar siang atau malem". Kebetulan kerjaku selama ini sampai jam 14.00 sudah pulang. Dia menggoda

    " Terus nanti kalau kelonan terus mas nanti nggak ada yang nyediain makan dong".
    "yah nggak usah makan asal kelonan terus sama nani ntar kenyang".

    Dia bangkit dan memelukku erat-erat dan diciuminya bibirku sambil lidahnya dijulurkan ke kerongkonganku. Sambil melepas dia berkata

    " Mas kita kelonan lagi yuk sampai sore, terus nanti mandi bareng".

    Tanganku mulai mengelus clitorisnya dan mulutku terus mengulum bibirnya dan kembali dia terlentang dilantai dan aku mulai menindihnya

    "Mas.. kalau gini terus aku rasanya mau pingsan kenikmatan eehhh ...m eghhhmm... aduuuh... enak mas di memekku ..geli rasanya teruusss eeghhh...eghh".



    Dan aku rasakan clitorisnya semakin basah, dan denga lahapnya jari tengahku aku cabut dari clitnya untuk kujilati jariku dan aku rasakan nikmat gurihnya lendir seorang perempuan pertama kali.

    " eehh..eennak...aahhhh..aahhhh uuuhhhgguuughhhguuuhh...ehhehh"

    saat jariku kembali menelusup kedalam lubang clitorisnya. Lenguhan mulutnya dan dengus napasnya menaikkan gairahku yang kian meningkat tapi aku ragu untuk menuruti naluriku mencoba memasukkan penisku kelubang memeknya. Maka sementara aku tahan walupun peniskupun juga sudah semakin basah oleh lendirku juga. Aku mulai merayap kebawah selangkangannya dan mulutku berhadapan dengan clitorisnya tanpa dia sadari karena matanya terpejam menikmati gairah yang dirasakan, saat lidahku mulai menjilat lubang clitorisnya, kembali dia terpekik agak bersuara

    " Aaahhhuuuughh huuu.hu..egghh aduh ,,, eggh enak, aduhhh aku gimana nih mass aahhhh aku nggak kuat, masss ... mas.. eghh..egh hhgeehh... mas."

    sambil dia aku perhatikan pantat, paha, perut dan kakinya seolah kejang seperti kesakitan tetapi aku sangsi kalau dia sakit, dan malahan kepalaku dia tekan kuat ke selangkangannya sambil terus berteriak " hehehggheh ahhh...ehhhehhh... huhhh,,, mass ....aku..akuuu rasanya ... eghhh" dan dia bangkit sambil menarik CD-ku yang masih aku kenakan, dan blarrr penisku menantang tegak

    "Mas masukkan mas..eeghheghh"

    Dan dia angkat kakinya sambil terlentang dia bentangkan lebar selangkangannya sambil tangannya membimbing penisku memasukki clitorisnya.

    "Mas.. kocok mas-eghh mas yang dalam...kocok terus selangkanganku aduhh eghhh mas enakk"

    Sambil kakiku aku tekuk sementara tanganku sebagai tumpuan dan dengan berat tubuhku aku tindihkan dan aku amblaskan penisku kelubang yang sedari tadi sudah menunggu, dan aku rasakan sedotan lubang yang sangat kuat pada batang penisku yang rasanya dikemot-kemot.

    "Eehhgehhg...terussss. terusss mas...maaass enak kocok terus aduuh rasanya aku enggak kuat mass ada yang keluar eghh..eeeghhh.eehhgg aduu masss ..."

    "ahhgg-agh...Nani aku aduh egghh Nani rasanya memekmu ngemot eghhh eehhmm... enak...terus sedot" " Mass enak ...sekali enak... dalam sekali .aahh Aduh... hhhaghhhhah Masa aku mauu.kkeluar ".

    "Aku juga Nan... ahhhgh aku udah mau keluar..ahggghhah"

    Dan aku cabut penisku saat dia demikian bergetar dan menyedot sedot penisku sehingga aku tak tahan lagi untuk menyemburkan spermaku dan saat itu merasa dia terlepas dari penisku dia bangkit dan menyongsong batang penisku dengan mulutnnya menyambut semburan spermaku sambil tangannya menggosok lubang clitorisnya di timpali dengan lenguhannya yang tidak beraturan dimulutnya

    " cppokklep..plekk..clepk..clkek..cslckek"

    Bunyi mulutnya mengemot menyedot penisku sementara aku terasa bergetar dan tenagaku berangsur-angsur lemas, sampai dia menjilati sisa sperma pada penisku dengan bersih. Ahhh

    Sesaat kemudian aku tidur ditempat tidurku siang itu kelonan berdua yang tidak terasa telah jam 3 sore baru bangun dengan badan terasa agak pegal. Kami kembali berpagut lama dengan saling rabaan dan remasan masih dalam keadaan tanpa busana. Akhirnya kami mandi bersama yang sebelumnya kami masak air untuk mandi bersama.

    Itulah pengalaman pertama kali aku menikmati hubungan sex dengan seorang ganis kampung, Nani.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini
     
     

    Cerita Dewasa - Aku Andre, saat ini umur 23 tahun dan baru lulus kuliah. Sekilas tentang diriku, tampangku 6,5; body 7,5; kejantanan 18 cm (kalo dinilai 9, nanti disangka 9cm hehehe) badanku lumayan kekar karena dari SMP aku kadang2 ke gym. aku tidak termasuk golongan orang pintar secara keseluruhan, tapi aku punya kelebihan dibidang ilmu alam.

    Jadi cerita ini adalah tentang aku saat masih kuliah sambil memberi les pada anak2 SMP dan SMA dibidang IPA. Dari 9 orang muridku, 4 diantaranya duduk di bangku SMA kelas dua IPA. les yang aku berikan les privat dan aku yang dateng ke rumah muridku.

    Cynthia salah satu muridku yang paling cerdas, orangnya periang dan ramah. Mungkin sebenarnya dia tidak butuh les denganku, tapi karena dia anak tunggal dan sering ditinggal maka orangtuanya menaruh harapan besar terhadapnya. Ayahnya cuma punya waktu 1 minggu dalam satu bulan untuk tinggal dirumah, ibunya masih muda (37 tahun) dan suka jalan2 dengan teman2nya sampai lupa anak gadisnya juga butuh kasih sayang.

    Cynthia memiliki paras yang cantik dengan rambut se-tali bra, mirip sekali dengan Luna Maya. selain itu tubuhnya yang ramping dengan lekuk betis indah dan paha jenjang yang putih mulus cukup membuat aku sering deg2an. Apalagi ukuran dadanya yang 32C itu, tubuhnya menjadi begitu sempurna.

    Aku mulai mengajar Cynthia sejak ia masuk SMA, jadi saat kejadian mengasikan ini terjadi aku sudah kenal dengan dia dan keluarganya kurang lebih 2 tahun (sudah hampir naik kelas 3).

    *****

    Hujan lebat mengguyur kota Jakarta pada Maret 2007, aku juga basah kuyup saat harus datang dengan sepeda motorku kerumah cynthia. “what a bad f**king day..” aku berbisik sambil menengadah kelangit.
    Hujan yang luar biasa lebat disore hari, pasti aku gak bisa pulang lagi sampe malem karena hujan. Tugas2ku juga sudah numpuk apalagi dua bulan kedepan aku harus sidang KP dan Skripsi.
    Pagar dibukakan si mbok, aku langsung mendorong motorku ke carport rumahnya dan melepas jas hujanku.

    “Ko, si non lagi keluar.. katanya sih sebentar aja” kata si mbok menjelaskan.
    “Oh, gak apa mbok saya tunggu saja” jawabku sambil menggantung jas hujan di motor.
    “Ya sudah silakan masuk, mbok buatkan teh hangat.” ujar si mbok sambil ngeloyor masuk lewat garasi.

    Aku masuk ke ruang tamu tapi aku gak berani duduk karena celanaku basah, aku takut mengotori sofa mahal dari bahan suede nya itu. Aku hanya berdiri sambil memandangi lukisan dan foto2 yang terpajang di tembok ruang tamu

    “lho kog ndak duduk, ko?” si mbok nyeletuk sambil meletakkan teh hangat.
    “iya nih mbok, abis basah sih!” jawabku jujur.
    “Ntar yah, tak ambilin anduk dan baju bekas bapak!”, singkat kata aku pun disuruh mandi air hangat supaya gak sakit, lagian si Cynthia blom pulang.

    Saat aku selesai mandi, cynthia sudah ada dikamarnya diatas. Aku pun berterima kasih sama si mbok dan langsung ke lantai dua. Aku ketuk pintu kamarnya lalu aku menuju ruang belajar yang persis diseberang kamarnya.

    Aku tunggu cynthia setengah jam tapi kog gak muncul2 juga, maka ku beranikan diri untuk membuka pintu kamarnya setelah kuketuk dan tidak dijawab lagi.
    Ternyata Cynthia sedang mandi, aku mendengar gemericik air dari kamar mandinya, dan aku melihat pakaian dalamnya berserakan dilantai.

    Seketika itu aku merasa terbakar urat hornyku.. Seperti suatu keinginan besar yang sudah lama dipendam dan saat ini saat paling tepat untuk dilepaskan..

    Aku berusaha mengontrol berahiku tapi memang nasib.. Cynthia keburu keluar kamar mandi dengan telanjang bulat, mempertontonkan lekuk tubuhnya yang paling pribadi dihadapanku.

    “KyaAaaaA…” teriaknya Cynthia spontan karena kaget.
    “Oooops…” hanya itu kata2ku dan cepat beringsut kearah pintu keluar.
    “Koko ngapain dikamar aku??” tanya Cynthia dengan suara yang tiba2 sudah terkendali.
    “Sori, aku gak sengaja!” jawabku sambil membelakanginya

    “Bohong…! Mo ngintip yah!!” serangnya sedikit ketus sekarang. aku sempat melirik lagi kearahnya, sekarang handuknya yg sebelumnya melingkar di kepala telah menutupi buah dadanya yang ranum itu.
    “Aku keluar dulu deh, kamu pake aja baju trus ntar aku baru jelasin. sori bgt!” cerocosku cepat sambil menarik handle pintu, tapi tiba2 aku berubah pikiran.
    Hujan lebat dan berisik sekali diluar sana, buktinya si mbok aja gak bisa denger jeritan Cynthia tadi, apa salahnya kalau aku coba berbuat nakal.. toh aku sudah hampir selesai kuliah dan mungkin akan pindah kota.

    Aku berbalik, kali ini dengan cepat aku sergap Cynthia. aaah.. aku bener2 sudah seperti binatang buas.

    Belum sempat meronta, aku langsung membekap tubuh Cynthia dari depan dan mengunci mulutnya dengan mulutku supaya dia tidak menjerit. Aku bawa dia ke ranjang dan masih terus ku kulum bibirnya yang sexy..

    Sejurus kemudian aku tarik handuknya, satu2nya penutup tubuh yang menempel dibadannya. Benar2 indah payudaranya, mengkel dan putih bersih lengkap dengan putingnya yang masih merah muda.
    Aku lahap kedua gunung kembar itu satu per satu. Supaya jeritannya tidak terdengar, aku tutup mulutnya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menahan rontaannya dan mulutku menjelajah payudaranya yang indah itu.

    Aku terus mempermainkan puting susunya dan mulai berani melepas tangan kiriku di vaginanya yang mulai becek. Perlawanan Cynthia tidak terlalu berarti buatku.. Ia terus meronta-ronta tapi akhirnya kehabisan tenaga.

    “oouh…” lenguh Cynthia saat aku sentuh klitorisnya, matanya merem melek keenakan. Sirna sudah rontaan demi rontaan yang dari tadi dilakukan Cynthia, berganti goyangan pinggul malu2 dari seorang perawan.

    Aku mulai merasa Cynthia menyukai permainanku maka ku lepas tanganku dari mulutnya dan mulai meremasi payudaranya yang indah dengan kedua tanganku. Mulutku terus bergulir kebawah sambil menyapu tubuhnya dengan jilatan sampai akhirnya aku berhadapan dengan miss cheerful-nya. Aku intip sedikit, Cynthia pura2 tak melihatku, ia palingkan wajah ke samping tapi terlihat jelas ia sedang menanti2kan apa yang ingin segera kulakukan.

    Kusapu bibir vaginanya.. pantat Cynthia terangkat sedikit. Kusapu sekali lagi belahan vaginanya.. tubuh Cynthia menggelinjang kegelian.. lalu kulahap klitorisnya, kusedot2 dan kupilin2 dengan lidahku.. Cynthia langsung menjambak dan mengusap2 rambutku.. Kali ini dia sudah tak tahan utk bertindak pasif… Pinggulnya digoyang2 mengikuti irama bibirku melahap klitorisnya yang kini sudah basah.

    “ouuch…. sssh…..” rintihnya
    “mmmhh…. enak ya sayang? mmmh….”ujarku menyela
    PLAAAKKK!!!! tamparan telak ke pipiku. Aku kaget bukan main tapi tangan itu kembali menjambak dan mendorong kepalaku supaya terus mengoralnya…

    Aku semakin bersemangat dibuatnya… tanda2 kalau dia juga mau sama mau mulai diperlihatkan. aku semakin intens memberikan variasi oral di klitorisnya. tanganku sesekali berputar2 mengorek bagian luar liang vaginanya. Rupanya Cynthia yang selama ini kukira cerdas dan baik2 memiliki bakat terpendam.. bad girls wanna be..

    Cynthia makin belingsatan, pinggulnya berayun2 dan nafasnya memburu…
    “ko.. An..dre, mmpfh… te..rus..in.. aaahk.. enak… kkoooh….” rintihnya terbata2 sambil menggigit bibir bawahnya..
    “mmmph.. mmpphhhh…. mmpphhfff… aaakhhh… yes right there……!!”lenguhnya panjang sambil memeras payudaranya. rupanya Cynthia orgasme.. vaginanya menyemburkan cairan yang langsung kusapu dengan lidahku.

    Aku mengambil posisi disebelah Cynthia yang terpejam lemas sambil bertelajang. aku buka bajuku dan memeluknya dari samping-belakang. Kubelai rambutnya hingga ke buah dadanya.. kupeluk erat dan ku ciumi lehernya.

    “mmh.. wangi kamu enak Cyn.. wangi khas wanita..” bisikku ke telinganya..
    “ko.. kenapa ko andre tega sih…?” lirih bibir manis itu berucap
    “tega apa Cyn..? emang kamu gak suka ya?” aku bertanya balik
    “suka..” jawabnya lirih. sekarang Cynthia berbalik menatapku, “ko, tadi pas terakhir enak bgt!! itu orgasme yah?” lanjutnya

    “iya, itu orgasme sayang.. kamu suka?”
    “Suka bangeet… enak bgt… nanti aku mau lagi!” jawabnya.

    Huff.. tadinya aku berniat memperkosa dengan menanggung segala akibat, ternyata gadis manis ini malah minta lagi. “Sayang, kamu udah pernah pegang Kontol cowok blom?” tanyaku.
    “Pernah, punya mantanku!” jawabnya cepat sambil mengelus kontolku dari luar celana.
    “Kalo gitu kali ini kamu kocokin aku ya..!” pintaku sedikit memelas manja.

    Cynthia langsung membuka celanaku, ditangkapnya batang kontolku yang sudah keras dan dia mulai turun kebawah memberikan servis oral.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    “mmh… enak bgt sayang. kamu jago oral tapi kog gak tau orgasme?” tanyaku setengah curiga.
    “hiha, hahu hulu hering horal hacarhu.. (iya, aku dulu sering oral pacarku)” jawabnya.
    “tapi itu dimobil, jadi dia gak pernah sentuh punyaku” lanjutnya lagi sambil terus mengocok batang kontolku dengan tangan.

    “Kontol ko Andre gede yah.. enak!” sambungnya lagi.
    “Kalo enak, diisepin lagi aja Cyn…” kataku lagi.

    Tiba2 pintu kamar Cynthia menjeblak terbuka. “Haaallooo manis..” suara itu terputus saat melihat aksi kami berdua. Ternyata itu mamanya Cynthia yang pulang shopping kena macet karena hampir banjir. tante Reni. Masih muda, lebih cantik dari Cynthia, badan terjaga dan lebih sintal. Dia cantik sekali dengan rambut bergelombangnya yang dicat sedikit pirang. Susah juga menjelaskan parasnya, karena gak terlalu mirip artis, tp yang pasti dia cantik.

    “Kalian apa2an..?” bentaknya..
    Kamipun baru sadar dan cepat2 berberes. berharap seolah2 mamanya Cynthia tidak melihat apa yang baru kami lakukan. Sebelum marah lebih jauh Cynthia memotong pembicaraan ibunya
    “Kenapa ma?? Apa Cuma mama yang boleh begini sama pak Asep??”
    Bukan main, ternyata tante cantik ini sering kesepian ditinggal suaminya dan sering minta jatah dari sang Supir.
    “Kamu… kamu…. kamu tau dari mana?” tanya mamanya kaget.

    “aku tau dari dulu ma! Tiap pergi arisan mama selalu begini kan di mobil?” Cynthia sengit.
    “ah udah deh, daripada saling ngadu ke Papa mendingan mama ikut aja sama ade.” Lanjutnya lagi.
    Kemudian si tante yang malu ngeloyor pergi keluar kamar. Aku yang kaget, takut dan bingung cuma bisa bengong dan menyesal kenapa pintu gak dikunci sampai tiba2 batangku digigit2 kecil oleh Cynthia.
    “mmmmffh… enak Cyn.. terus Sayang..” pintaku. Cynthia makin bernafsu mengulumi batang zakar dan biji peler ku. kepalanya berayun-ayun memberikan aku kenikmatan.

    Tak berapa lama pintu kamar terbuka lagi. Tante Reni masuk ke kamar setelah berpakaian lebih santai.
    “Andre, ternyata kamu liar juga yah…” katanya. “tante bayar kamu untuk beri les pelajaran, bukan yg seperti ini!” sambungnya lagi sambil duduk ditepi ranjang.
    Aku sendiri mulai ngerasa gak enak karena sebenarnya aku menaruh hormat pada setiap orang tua murid lesku.. Tapi apa boleh buat, anaknya yang binal masih saja mengulumi batang dan buah zakarku. Aku tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Tapi tante reni langsung berinisiatif untuk mencium bibirku. Tante reni juga sudah bernafsu. Akupun langsung membalas ciumannya, ku sentuh pipinya lalu kurangkul tengkuknya supaya ciuman kami lebih hot!

    “tante, mau ikutan?” tanyaku sok asik.
    “iya dong, sekali2 tante pengen coba daun muda!” jawabnya nakal.
    “Cynthia, kamu sejak kapan kayak gini? kamu udah gak Virgin?” tanya tante Reni ke putri satu2nya itu.
    “Masih kog ma, kalo sama ko Andre sih baru kali ini..” jawabnya sambil melepas kulumannya dan mengocok kontolku dengan tangannya.

    “Dre, oralin tante sih.. pengen coba kemampuan kamu!” tanpa basa basi tante Reni langsung ngangkang diatas aku yang terduduk sambil menikmati oralan anaknya.

    Aku langsung melahap vagina tante Reni, kalo yang satu ini aku berani colok2 dengan jariku, karena toh memang sudah gak perawan.
    “ooh ndre, e….nak! terusin sayaaaang..” kata tante reni.
    Tiba2 aku mulai merasakan kontolku berkedut2 dan siap menyemburkan cairan sperma. Ku goyangan pinggulku maju mundur seperti sedang bersenggama tapi dengan bibir Cynthia.
    “Cyn.. terus.. yang.. aku.. udah … “. CROOTTTT spermaku memenuhi mulut Cynthia, yang langsung ditelan habis dan dijilati hingga bersih.

    Tapi tak tahu kenapa, aku tidak langsung lunglai.. Mungkin karena ada dua wanita cantik seperti model yang sedang bertelanjang dan mencari kenikmatan dari tubuhku.
    Batang zakarku masih keras, tapi cynthia berlari ke toilet. mungkin dia ingin berkumur pikirku. Tinggal aku berdua tante Reni.

    Kemudian tante Reni melepaskan vaginanya dari mulutku, ia turun kebawah mengambil posisi duduk di pangkal pahaku. Tangannya menggapai kontolku yang masih keras lalu mulai dikocok2 sedikit.
    “Andre, mau di oral lagi atau ngerasain memek tante?” tanyanya centil sambil merunduk dan menjilati dengan nakal pangkal kontolku.
    “mmmmfh…. terserah tante …”jawabku. si tante memberi servis oral, kontolku ditelan semuanya tapi aku bisa merasa lidahnya didalam sana berputar2 menyapu kepala kontolku, sedotan2 yang dibarengi gigitan kecil membuat aku merem melek

    setengah mati menahan nikmat. “ssssh….. aahh….. tan.. jago banget…” kataku. “entotin Andre, tante…” pintaku lagi sambil meresapi nikmatnya kenyotan tante Reni.
    “Emangnya oral-an tante gak senikmat Cynthia ya?” tanya tante Reni sambil kembali menduduki pangkal pahaku.
    “Justru enak banget.. aku takut gak tahan tan.. aku kan masih pengen ngerasain bercinta sama yang ahli..” sambungku.

    Bless.. kontolku tiba2 terasa hangat.. rupanya tante Reni gak mau nunggu lama untuk menjajal kontolku.

    “mmfh.. kontol kamu gede yah ndre”
    “suamiku punya sepanjang ini juga, tapi gak selebar kamu punya sayang..” sambung tante lagi.
    Sekarang posisi kami women on top, tapi tante Reni merebahkan badannya keatas badanku, sehingga dia bisa leluasa mencupangku atau mengulumi bibirku.
    Gerakan maju mundurnya pelan dan erotis, saat dia maju aku merasa seperti kontolku disedot2 (baru aku tau sekarang, itu namanya kempot ayam), lalu saat bergerak mundur pantatnya sengaja dicondongkan keatas supaya penisku seperti terjepit

    “sssh… oh yessh… nice baby..” aku tak kuasa menahan desahan.. nikmatnya benar2 seperti disurga-dunia. Leherku sudah merah2 dicupang, bibirku sampai kebas dikulumi, dan kontolku rasanya sedang mengalami kejadian maha dahsyat.

    Aku langsung mengubah sedikit posisiku. Kedua kakiku kutekuk sedikit sebagai kuda2. kuremas pantat berisi tante Reni lalu kuangkat sedikit. Kini ada rongga antara pangkal paha tante Reni dan aku. Aku mulai menghujamkan kontolku dengan irama karena sekarang aku yang memegang kendali.

    “ooooh.. mmmfh.. trus ndre!” Tante Reni meracau saat aku menghujamkan keras2 batang kemaluanku sampai amblas semuanya. tiga menit berselang aku mulai bosan, aku ajak tante mengubah posisinya lagi. Aku mau doggy Style, lalu si tante pun menuruti dengan berlutut membelakangi aku.

    Pahanya sedikit dirapatkan supaya sesuai dengan ketinggian aku yang berdiri dilantai. Lalu kurangkul pinggulnya dan kuarahkan kontolku.. aku terkesima melihat keindahan lekuk tubuhnya tante Reni yang begitu indah, kulitnya juga putih bersih dan mulus
    vaginanya juga terawat dan berwarna merah muda.. kubenamkan sedikit2 kontolku lalu ku pompa dengan penuh perasaan sesekali kuhujamkan keras2 secara tiba2.

    “aakh.. gila kamu ndre. enak bgt!! ssshh…” kepalanya kini dibenamkan diranjang. badannya miring hanya pantatny saja yang nungging.

    Cynthia sudah kembali dari toilet, mukanya kemerahan, dia berjalan kearah kami yang sedang ber-doggy-style. Cynthia hanya memandangi mamanya yang sedang melenguh dan merem melek menerima hujaman kontolku.

    Tante Reni memang sudah jago bercinta, disaat giliran aku yang memberi servis, pinggulnya ikut diliuk2kan membuat rasa kempotan memeknya makin memijat2 batang kontolku.
    Cynthia terlihat mulai panas dengan adegan kami, ia mendekati aku dan mulai menciumi bibirku.. disodorkannya juga buah dada kencangnya ke arah mulutku.

    Edan, aku dikerjai (atau mengerjai) ibu dan anak sekaligus.
    “Ma, kapan giliranku?” tanya Cyntia kepada ibunya yang sudah bermandi peluh dan terpejam2 merem melek.
    “iyah.. sab..har.. mama.. dikit lagi.. Terusin Ndre!” jawab tante Reni. Sekarang dia bangun dan bertumpu pada satu tangannya, tangan yang lain memainkan klit-nya.

    selang beberapa waktu tubuh tante Reni mulai bergetar. Sudah hampir orgasme tampaknya, makanya ku percepat aksiku. kutambahkan tempo dan hentakan2 pada liang vaginanya.

    “mmmfh.. yes… yes… akhhh… teruuusss… terusss… mmffh… enak sayang…”
    “terusss.. dikit lagi ndre!”
    “yes.. yes.. aaaaahh…. ssshh…….”
    Ceracau tante Reni menandakan dia sudah orgasme, badannya meliuk2 dan mukanya dibenamkan lagi di ranjang.. pelan2 ia keluarkan penisku yang masih keras dari vaginanya sambil menahan getaran tubuhnya.
    “makasih ya sayang, enak banget!!” ujarnya lalu tertelungkup dan tertidur.

    Cynthia yang dari tadi sudah berdiri ngangkang sambil mengelus2 memek beceknya pun siap menerima giliran. Hari ini badanku fit sekali, setelah orgasme yang pertama tadi kontolku masih tegang berdiri dan tahan lama.
    Lalu kurebahkan tubuh Cynthia disebelah mamanya.. aku minta dia telentang dan aku mengambil posisi missionary. Dalam pikiranku, memerawani gadis harus sambil menatap matanya.. aku mulai dengan pelan2 menggesekan kontolku dibibir vaginanya
    sensasi gesekan itu cukup membuat tubuh Cynthia menggelinjang..
    “udah siap Cyn?” tanyaku
    “iya, ko.. masukin aja.. tapi pelan2 yah” pintanya memelas

    Aku mulai mengarahkan kontolku dan memasukkan pelan2 kepala kontolku. Seret banget.. beda dengan mamanya. Kugoyang2kan pinggulku supaya cairan pelumasnya membasahi sempurna kontolku lalu ku masukan centi demi centi.
    darah mengalir dari keperawanannya, tapi mata Cythia tidak terpejam. Dia menatapku penuh arti, walaupun terbesit dimatanya rasa sakit perawan.
    Bless.. penisku masuk dengan mulus.. sengaja aku masukkan sampai pol lalu kudiamkan sejenak. Aku merebahkan tubuh dan menciumi bibirnya sampai ke pangkal leher.

    “tahan ya sayang.. nanti kerasa kog enaknya” bisikku manis di telinganya..
    tanganku menggerayangi buah dada sintalnya memilin2 puting susunya supaya lebih deras pelumasnya melelehi batang kontol yang sudah masuk sepenuhnya.

    Kaki Cynthia menjepit pinggulku, lalu ia mulai menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan pelan2..

    “ko, entotin aku…” pintanya memelas. Akupun mulai mengambil posisi, gerakan maju mundur diatas tubuh manis gadis yang baru saja 17 tahun ini kubuat sepelan mungkin supaya tidak menyakitinya.
    “aaakh… sssh..” memeknya lebih menjepit daripada kempotan mamanya.

    “Cyn, enak banget memek kamu..” Hujan deras diluar sana menambah nikmatnya percintaan kami. Cynthia mulai menemukan irama bercinta. Memeknya sudah terbiasa dengan kontolku..
    Gerakan demi gerakan, Cynthia semakin binal.. tanganku dituntun nya untuk meremasi buah dadanya..
    “ko, aku pengen coba diatas” ucap Cynthia. Aku turuti saja, aku merebahkan diriku ke posisi Cynthia di samping tante Reni.
    Sekarang Cynthia yang asik sendiri mencari2 kenikmatan diatas batang kontolku. goyangannya semakin panas dan erotis. sementara itu aku mulai menjilati tanganku, kemudian mengobok2 memek tante Reni dari belakang.
    Dalam tidurnya tante Reni melenguh-lenguh.. kupermainkan klitorisnya, lalu kumasukan 3 jari ke memek tante Reni.. mungkin ia terlalu lelah sehingga hanya menerima saja perlakuanku.

    Rupanya Cynthia merasa kurang senang saat aku bercinta dengannya, tapi aku malah ngerjain mamanya. Cynthia pun meminta aku yang melayaninya. Sekarang posisi kami doggy style..
    Posisi favoritku, dimana sudah berkali2 aku membuat wanita melunglai karena menerima orgasme yang kuberikan (termasuk beberapa mantan pacarku).
    Lima menit berselang Cynthia yang masih baru pertama kali bercinta memang bukan lawan sebandingku.. Cynthia mulai meliuk2.. memeknya yang sempit makin kuat memijat2 batang penisku.
    “ko.. aku mau… orgas…me…. aaakhh…. sssh….”rintihnya..
    “Iya nikmatian aja sayang” jawabku.
    “oooh… yes… e…nak… mmfh… ssshh…” cynthia bergetar hebat karena orgasmenya tapi aku tetap menggenjotnya supaya dia menikmati orgasme panjangnya..

    Dua wanita tumbang bersebelahan, Cynthia dua kali, mamanya baru sekali, aku juga baru sekali. Kontolku masih berdiri keras, tapi sedikit lagi aku juga hampir orgasme.
    Aku tarik tubuh tante Reni kebibir ranjang, posisinya tidur miring.. lalu kubasahi memeknya dan kontolku dengan ludah dan kuhujamkan kedalam memek tante Reni.
    kocokanku benar2 egois, aku hanya ingin mencapai orgasmeku yang kedua. Permainanku yang kasar membangunkan tante Reni..
    “sssh… Dre, sa..kit…” rintihnya
    “tahan tante, Andre lagi enak nih..” jawabku.
    Genjotanku semakin kuat dan dalam-dalam. Si tante yang lunglai daritadi mulai terpancing berahinya. Tante Reni membalikan badannya, kedua kakinya diangkat dan ditumpangkan ke sebelah pundakku.
    Aku peluk kedua paha jenjang tante Reni sambil terus ngentotin memeknya..

    “mmmfhh… ssssh… terus sayang…” rintih tante Reni
    “tante udah mau keluar lagi?” tanyaku
    “iya sayang.. kamu masih lama?” tanyanya
    “udah hampir nih, kita bareng2 yah..” pintaku tersengal-sengal..
    “oouch.. sssh.. yes honey.. Fasteer.. YESSShhh… Faasteeerrrr…” jerit tante Reni..
    “I’m gonna Blow Honey…” jawabku
    “Me too baby…” tante reni menjawab cepat. Kedua tangannya memegangi buah dadanya yang bergoyang2 cepat.
    “Keluarin di dalem aja” sambungnya lagi
    Kocokanku makin cepat, memek tante makin keras memijit batang kontolku, aku sudah sampai puncaknya..

    Croott…. zzzrt… Crottth.. Crottth…
    Sperma hangatku menyembur kedalam memek tante Reni seiring sodokan kontolku. Kontolku terus kukocok, kamipun mengalami orgasme panjang.
    Penisku menyembur sekali lagi dibalas lelehan cairan orgasme tante Reni.
    “aaaaakhhh…. enak banget entotan sama tante” ujarku
    “kamu inget ya Andre, mulai sekarang berhentiin semua murid kamu” jawab tante Reni
    “biar tante yang bayar semua biayanya, tapi kamu harus selalu ada saat tante telpon” sambungnya lagi

    Aku sudah terjerembab diantara 2 wanita itu, aku mau beristirahat.. aku sudah tidak menjawab kata2 tante Reni lagi dan tertidur.
    Jam 7.30 Malam aku terbangun, Cynthia yang memanggilku dan mengajak ke ruang makan. Tante Reni sudah masak makanan spesial, Sapi masak Jamur (katanya bisa bikin “kuat”), Tiram mentah (ini juga bikin “kuat”), dan beberapa sayur lain.
    makanan pencuci mulutnya sarang walet (ini bisa nambah banyak spermanya yang artinya jadi lebih “kuat” juga).
    “Andre, diluar masih hujan. Di TV banyak daerah macet karena banjir” tante Reni membuka pembicaraan
    “Ko Andre malem ini nginep aja yaa!” lanjut Cynthia dengan suara manja
    “iya ndre, kamu disini aja..” tante Reni menambahkan
    “lagian masih banyak pelajaran yang mau aku tanya ke koko..” kata Cynthia dengan mata genit, tangannya menggerepe kontolku dari bawah meja makan.
    “tapi.. aku juga banyak tugas” jawabku
    “jangan alasan Dre, kamu kan gak perlu buru2 lulus” rayu tante Reni.
    “yah, okelah.. ada kalian berdua aku pasti seneng” jawabku tersenyum

    Malam itu pukul 11 saat pembantu2 terlelap, aku dan Cynthia menuju kamar tante Reni. Di Jacuzzi kamar mandinya kami bercinta gila2an lagi, kami juga sempat pindah ke kolam renang di taman belakangnya, tapi karena takut terlihat pembantu kami putuskan untuk pindah lagi ke ruang keluarga di dalam. Kami tidur jam 5 pagi. Aku dicekoki Viagra saat sudah lemas karena orgasme beberapa kali.
    Nampaknya tante Reni sedang “kemaruk” sehingga tiap saat ingin merasakan kontolku.

    Sejak hari itu aku resmi menjadi pemuas tante Reni, pak Asep dipecat dan ganti supir baru yang tidak tahu apa2. Sedangkan Cynthia tidak terlalu sering ikutan karena memang tante Reni coba sembunyi2.
    Aku baru tahu kalau Ayahnya ternyata memang luar biasa kaya dan memiliki rumah di berbagai Negara, tentu saja lengkap dengan Selir2nya juga.
    Jadi Permaisuri kesepian ini biar aku saja yang puaskan.
    Aku sebenarnya paling suka kalau ada kesempatan berdua saja dengan Cynthia.. maklum lah, lebih seret dan tentu saja menjanjikan..
    Seperti permintaan tante Reni, aku berhenti mengajar. tapi aku tetap mengejar skripsiku. Selama setengah tahun hidupku bak Raja tapi juga serasa budak.
    Aku segera susulkan ceritaku yang lain masih disekitar Cythia dan Tante Reni.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini
     

  • 05/08/11--19:51: Mei Ling Tetanggaku
  • Cerita Dewasa - Perkenalkan, namaku Andi. Aku kuliah di sebuah PTN terkenal di kotaku. Aku mempunyai tetangga perempuan yang masih bersekolah di SMU, namanya Mei Ling. Mei Ling adalah gadis keturunan Chinese. Ia mempunyai wajah yang manis, dan mata yang sipit terlihat indah dibalik kacamatanya. Kulitnya putih bersih, dengan bulu-bulu halus menghias lengannya.

    Sebenarnya aku sudah lama tertarik sama dia, karena tubuhnya yang menggairahkan sekali. Dia suka mengenakan kaos ketat dengan warna cerah. ketika kami bertemu, aku suka curi pandang lengan atasnya yang putih bersih dan ketiaknya yang gemuk dengan beberapa rambut tipis di tengahnya. Mei Ling bertubuh agak pendek, sekitar 158 cm dan menggairahkan. Yang paling menonjol Mei Ling tubuhnya yaitu payudaranya yang cukup montok ukurannya sekitar 34B dan pantatnya yang padat berisi. Ketika kami mengobrol dijalan aku sering memperhatikan orang-orang yang melewati kami, mereka selalu melirik ke arah payudara Mei Ling dan pantatnya yang semontok pantat Nafa Urbach, berharap bisa meremas-remasnya.

    Setiap hari Mei Ling pulang sekitar jam 5 sore, karena ia ikut les setelah pulang sekolah. Aku sedang dirumah, Mei Ling main kerumahku setelah ia pulang dari les. Dan setiap kali Mei Ling mengobrol selalu kugoda dan kuajak kekamarku. Namun sutau hari, karena aku dengan alasan ingin memeperlihatkan sesuatu, Mei Ling mau juga. Dan kebetulan rumahku sedang tidak ada orang, karena mereka sedang keluar kota. Dikamarku, kutunjukkan novel terbaru "Harry Potter & The Chamber?s of Secret", karangan J. K. Rowling. Mei Ling selalu menanti-nanti terbitnya Novel tersebut.

    Kira-kira waktu itu sekitar jam setengah delapan malam. Ketika aku bermain game di computer, Mei Ling sedang asyik membaca buku di lantai dan membelakangiku. Ketika aku menengok kebelakang, terlihatlah pantatnya yang terbalut celana panjang. Menantang kejantananku untuk disarangkan ke dalam bongkahan pantatnya yang montok itu. Gadis itu tidak sadar kalau pantatnya sedang ku perhatikan. Rupanya memang tidak sadar kalau sedang kuperhatikan.

    Baru beberapa menit kemudian Mei Ling membalikkan badannya, aku segera mengalihkan pandanganku ke computer. Mei Ling lalu melihat sebentar game yang sedang kumainkan, lalu ia kembali membaca lagi di lantai tepat disamping bawah kursiku. Ketika kulihat ia kembali, sungguh pemandangan yang sangat membuat keringat dinginku keluar. Kulihat payudaranya yang terbungkus bra di balik kaosnya yang rada longgar karena ukurannya yang cukup besar. Terlihat jelas sekali dari atas, bagian atas kulit payudara Mei Ling yang putih sekali, lebih putih dari kulit lengan dan wajahnya yang sudah sangat putih. Suasana memang sepi disekitar rumahku, namun bagi penduduk sekitar cukup aman untuk dihuni.

    Ketika nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Kurangkul tubuh Mei Ling, dan kubekap mulutnya.
    "Eegghh, mmpphh.. mmphh", Mei Ling berusaha berteriak.
    Kulumat bibirnya agar ia tidak bersuara. Sambil tanganku mengambil tali pramuka di dekatku. Lalu kuikat kedua lengannya ke belakang. Beberapa menit kemudian, rontaan Mei Ling mulai melemah.
    "Ndi. apa yang kamu lakukan".
    Mei Ling berteriak begitu mulutnya berhasil lepas dari mulutku.

    Dengan cepat, kulumat lagi mulut Mei Ling. Kuhisap-hisap mulut dan lidahnya. kujelajahi rongga mulutnya dengan lidahku. Air liur Mei Ling yang kuhisap, meluber keluar membasahi pipi dan sekitar bibirnya yang mungil merah merekah. Kuteguk nikmat air liur cewek Chinese itu. Belum sempat ia bersuara ketika kulepas bibirku di bibirnya, ku masukkan batang kontolku ke dalam mulutnya. Sambil kujambak rambutnya dan kumaju-mundurkan kepalanya.

    "Ouuhh, mm.", aku melenguh keenakan, di penisku.
    Aku merasakan penisku basah, dan dingin di dalam mulut Mei Ling. lalu kubopong gadis itu ke atas tempat tidurku. Setelah mengunci pintu. Aku kembali ke tempat tidurku yang cukup besar. Kutelepon Irfan, temanku untuk membantu menyetubuhi si Mei Ling. Tak lama kemudian, temanku Irfan. Mereka senang sekali kuajak.

    Setelah kuikat kedua lengan Mei Ling ke masing-masing sudut ranjang, sedangkan kedua kakinya dipegangi kedua Irfan. Kulepaskan satu persatu pakaian Mei Ling, hingga akhirnya Mei Ling hanya memakai Celana Dalam putih dan BH kremnya. Payudaranya menyembul di bagian atas BH-nya. Kulit payudara Mei Ling putih sekali, kontras dengan warna BH-nya. Melihat keadaan tubuh gadis itu, nafsuku menjadi naik. Kontolku menegang, tapi aku masih bisa menahan diri. Tapi tanganku mulai meraba-raba seluruh bagian tubuh gadis itu. Pahanya yang putih mulus sekali, terasa lembut sat ku elus-elus, dan empuk saat kuremas-remas sambil kujilati hingga pahanya basah oleh air liurku.

    Setelah melakukan semua itu, Aku melepaskan semua pakaianku hingga telanjang bulat
    dengan kondisi kontolku yang udah tegang. Tanpa membuang waktu kudekati Mei Ling yang masih memohon agar dilepaskan. Mei Ling berusaha memberontak Tapi dengan cepat kedekap tubuh gadis itu, dekapanku cukup kuat, Mei Ling hanya bisa terisak-isak menangis. Gadis itu seakan tak berdaya ketika Aku mulai meremas-remas payudaranya yang lumayan besar dan kenyal itu dengan masih dibungkus BH-nya. Sambil menikmati musik house, Lama kelamaan aku menjadi tambah bernafsu, dengan kasar kutarik BH gadis itu dan kulemparkan. Di depan mataku terpampang payudara gadis itu yang putih dengan puting mungil merah muda yang indah sekali Aku meremas-remas payudara gadis Chinese itu dengan sekuat tenaga.

    "Aakkhh, saakkii..iitt. Ndi, sakkii. it, ampuu..unn. Ndii", Mei Ling meraung-raung kesakitan.

    Dadanya menempel erat kedadaku dan akupun merasa ada daging kenyal yang hangat. Aku terus melumat bibirnya, sementara tangan kananku dengan leluasa mengelus-ngelus pahanya yang mulus dan pantatnya yang kenyal. Tangan kiriku meremas-remas payudara kirinya. Kudengar lenguhan-lenguhan kenikmatan dari Mei Ling. Aku lepaskan mulutku dan kuciumi lehernya hingga ke payudaranya, kusedot susunya yang kiri sementara tangan kananku meremas-remas yang kanan. Kutindihi tubuhnya sambil menyedot-nyedot susunya secara bergantian. Saya jilati kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya yang merah itu.

    "Uufh, sakii..iit, oufhh, ohh, oohh saki..iit, ohh".
    Mei Ling merintih sambil menangis sesenggukan. Sementara itu aku terusin permainan lidah aku ke arah perutnya yang rata itu, aku berhenti di bagian pusar dan konsentrasi di bagian itu sambil ngeremes bokongnya yang padat, kedua tanganku selipin ke bokongnya dan pelan-pelan aku lucuti celana dalamnya ke bawah.

    Tampaklah sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya di balik CD nya dan kurasakan rambut hitam yang masih jarang mengelilingi vaginanya. kuraih klitorisnya dan ku gosok-gosok dengan jari tengahku.

    "Oohh, jangaann, sudaahh oufhh, jaa, ngaa, an, oohh".
    Dia merintih merasakan nikmat yang dalam karena klitorisnya kugosok sementara lidahku tetap bermain menyedot-nyedot payudaranya yang besar bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arahku. Kupegangi bagian bawah payudara Mei Ling, mulutku menciumi dan mengisap-isap kedua puting susu Mei Ling secara bergantian. Buah dada Mei Ling yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutku. Buah dada Mei Ling yang membusung padat itu hampir masuk semuanya ke dalam mulutku dan mulai kusedot-sedot dengan lahap.

    "Ssshh, sshh, aahh, aahh, sshh, sshh, jangaann, suudaahh.. aku mohoonnn".

    Mei Ling terus mengerang. mulutku terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dada Mei Ling secara bergantian selama kurang lebih lima belas menit. Tubuh Mei Ling benar-benar telah lemas menerima perlakuanku ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua buah dada dan putingnya telah benar-benar mengeras. Aku mulai maraba bulu-bulu halus yang tumbuh lebat di vagina Mei Ling. Ia mulai merintih lagi menahan rangsangan pada vaginanya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Irfan tidak tahan dengan pemandangan indah itu. Ia lalu memegang kepala Mei Ling, kemudian melumat bibirnya yang tipis dengan bulu-bulu halus di antara bibir dan hidungnya. Mulut irfan mulai menjilati leher Mei Ling, lalu turun ke dadanya. Terasa oleh Mei Ling mulut Irfan menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Mei Ling menjerit ketika Irfan mengigit puting susunya sambil menariknya dengan giginya.

    "Diem, Jangan berisik", Irfan menampar pipi kiri Mei Ling dengan keras, hingga berkunang-kunang.
    Mei Ling hanya bisa menangis sesenggukan.
    "Gue bilang diem. dasar", sembari berkata itu si Gondrong menampar buah dada Mei Ling, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Mei Ling.

    Lalu Irfan melepas celana jeansnya dan kemudian CDnya. Irfan menduduki kedua susu Mei Ling. Lalu ia mencoba membuka mulut Mei Ling, dan mengarahkan kontolnya dan menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir Mei Ling. Lalu ia menampar-nampar kedua pipi Mei Ling sampai memerah. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Mei Ling, kepala penis Irfan telah terjepit di antara kedua bibir mungil Mei Ling, Akhirnya Mulut Mei Ling terbuka, dengan memaksa, Irfan menarik kepala Mei Ling akhirnya penisnya masuk juga kedalam mulut Mei Ling. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Mei Ling yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar.

    Mei Ling hampir sesak nafas dibuatnya. Mei Ling dipaksa menjilat dan menyedoti penis Irfan, jika menolak Irfan akan terus menampar pipi Mei Ling. Karena tidak tahan Mei Ling mulai menjilati penis Irfan.
    Dia langsung mendesah pelan"Aakkhh, aakkhh.", sambil ikut membantu Mei Ling memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya.

    "Aakk, akk, nikmat sayyaangg".
    Kelihatan Mei Ling bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya.
    Tak lama kemudian penis Irfan menyemburkan spermanya banyak sekali di dalam mulut Mei Ling.

    "Ooohh, oouuh", Irfan melenguh panjang, merasakan nikmat berejakulasi di mulut gadis Chinese yang cantik dan putih ini.

    Mei Ling terpaksa menenggak seluruh sperma Irfan, sedangkan sisanya meluber keluar membasahi bibir dan dagunya. Mei Ling semakin mendesah-desah karena kemaluannya kujilati dengan buasnya. Apalagi tanganku saat itu tidak lepas meremas-remas payudara gadis itu.

    Kubuka lebar pahanya kudekatkan ujung kontolku ke arah selangkangan gadis itu yang masih perawan itu. Kugesek-gesekkan kontolku di sekitar liang memek gadis itu. Mei Ling merasakan adanya sesuatu yang meraba-raba kemaluannya. Tiba-tiba Mei Ling teriak keras sekali. Tapi dengan cepat kudekap tubuh gadis itu. Batang kemaluanku yang besar dan panjang ini aku coba kumasukkan dengan paksa ke liang kemaluan Mei Ling yang masih sangat sempit,

    Ketika penisku merobek keperawanannya, ia berteriak kesakitan sambil menangis, dan aku merasakan penisku telah dibasahi oleh darah segar keperawanannya, tapi aku tidak ambil peduli. Dari wajah Mei Ling terlihat dia menahan sakit yang amat sangat.

    Sementara itu si Irfan dengan ganasnya beradu lidah dengan Mei Ling sambil tangannya turut bekerja meremas dan memilin-milin puting susunya yang masih kecil. Aku masih asyik memaju-mundurkan pantatku dengan cepat. Aku mengebor memeknya dengan kecepatan tinggi sambil kedua tanganku meremas pahanya yang putih mulus dan pantatnya yang sekal, Tangisan Mei Ling semakin keras meraung-raung. Akhirnya tubuh Mei Ling mengejang sampai bergetar. Air mani Mei Ling mengalir melalui rongga vaginanya mengguyur penisku yang tertanam di dalam vaginanya. Sedangkan aku masih menjilati payudaranya, dia mengalami orgasme hebat beberapa saat sampai akhirnya melemas tangisannya samar-samar menghilang.

    Lalu kubalik tubuhku, sehingga posisi tubuh Mei Ling sekarang berada diatasku. Dengan posisi berbaring, kupeluk punggung Mei Ling sambil menaik-turunkan pantatnya sehingga aku merasa semakin nikmat karena pijitan vaginanya. Aku semakin mempercepat gerakan sehingga membuat adegan yang kami lakukan semakin panas karena Mei Ling terus meronta sambil mendesah. Aku terus memompa liang peranakannya dari bawah, sambil kedua tanganku mencengkram dan meremas dengan kasar kedua buah bongkahan pantat Mei Ling yang padat sekali. Tangan Irfan masih memainkan puting susu Mei Ling sambil sesekali menarik-narik payudaranya yang kenyal itu.

    Setengah jam terus berlalu dan aku mulai merasakan seolah-olah akan ada ledakan dalam diriku dan Mei Ling. Aku mengetahui bahwa dia akan klimaks lagi karena Mei Ling semakin kuat mendesah, kupercepat menggenjot tubuhnya. Aku semakin tidak tahan dan kusemprotkan cairan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya dan di saat yang bersamaan pula, Mei Ling berteriak dengan disertai getaran hebat sambil seluruh tubuhnya mengejang. Penisku terasa seperti sedang di"pipis"in olehnya karena ada cairan yang mulai membasahi penisku. Mei Ling mengalami orgasmenya yang kedua. Setelah 46 menit kami bersama-sama melepaskan nafsu

    Lalu Irfan mendekati tubuh Mei Ling, ia menarik pinggul Mei Ling.
    "Ampun. sudaahh, jangan terusin, biarkan saya pulang" rengek Mei Ling sambil minta belas kasihan.
    "Heh.. diam kamu" hardik Irfan.
    "Ayo nungging, aku mau liat memek dan pantat seksi kamu dari belakang".
    Irfan mengangkat pinggul Mei Ling sehingga posisi Mei Ling sekarang nungging.

    "Hahaha. begitu manis. Waw.. bagus sekali pantat kamu", sambil Irfan mendekatkan mulutnya ke memek Mei Ling.
    Dengan jari Irfan menusuk memek Mei Ling yang menggelinjang menahan sesuatu.

    Dan Irfan dengan buasnya, menjilatin anus Mei Ling yang berwarna kemerah-merahan. sambil sesekali ujung lidah Irfan dimasukin ke lubang anus cewek chinese itu dan menjilatinya. Tanpa disadari oleh Mei Ling. apa yang akan dilakukan Irfan selanjutnya.

    Sekonyong-konyong Mei Ling menjerit"Aauu. aauu. aakhh".
    Rupanya penis Irfan telah menembus lubang memek Mei Ling yang sudah basah dipenuhi lendir kenikmatan dan spermaku. Dengan buasnya Irfan menggenjot terus memek Mei Ling dari belakang (doggy style) Mei Ling hanya bisa merasakan sakit di liang kemaluannya karena di sodok2 dengan penis Irfan yang besar dan panjang. Sambil kepala dan payudaranya terayun-ayun karena sodokan penis Irfan, Mei Ling memohon ampun.

    "Ampun, sakit sekali, aauu. sudah pak, sakit.. sakiitt".
    Mei Ling terus memohon sambil berlinang air mata, mendapat perlakukan kasar dari Irfan. Makin lama Irfan makin keras mendorong-dorong memek Mei Ling, dengan desisan panjang.

    "Sstt. sstt. aahh".
    Irfan menahan nikmat luar biasa.
    "Nich. aku mau keluar. ayo cepet goyangin pantat kamu.. plak.. plak.." sesekali Irfan menampar pantat indah milik Mei Ling, sehingga pantat Mei Ling mulai memerah.
    "Aahh. sakiitt, huuhh. aach".
    Sambil mendorongkan penisnya, sekali hentak keluar sperma Irfan memenuhi liang vagina Mei Ling.
    "Aachh.. ccroott, crrott, gue, semprot. lobang, loe.. bangsatt".



    Irfan mengumpat. lalu Irfan menarik penisnya. darah bercampur air mani Irfan dan Mei Ling keluar mengalir membasahi paha Mei Ling yang masih tegak. Lalu Irfan berbaring di samping tubuh Mei Ling yang setengah tidak sadar.
    setelah istirahat sejenak nafsu kami mulai naik kembali.
    "Fan coba kita main berdua"

    Irfan mengambil posisi tidur sedangkan Mei Ling didudukan diatas tubuhnya, sambil penis Irfan diarahkan ke lubang Vagina Mei Ling. Mei Ling dengan mimik muka memohon ampun, Irfan makin tambah beringas. Akhirnya sekali dorongan tembuslah memek Mei Ling yang selama ini dia rawat, sekarang di koyak-koyak oleh Irfan kembali. 2 orang yang sangat kehausan sex.
    "Aduuhh.. sakkiitt. sudahh. kumohoonnn" Mei Ling menjerit kesakitan.

    Namun Irfan tidak mempedulikan rintihan dari mulut Mei Ling, dia makin kasar menyodok-nyodokan penisnya sementara itu aku telah berdiri di atas mereka berdua, dan mendorongkan tubuh Mei Ling untuk ambil posisi membungkuk, dan dengan kasar jariku mulai meraba-raba pantat Mei Ling yang montok putih mulus sambil mempermainkan jari tengahku untuk mengobel lubang anus Mei Ling.

    "Waw.. Rupanya anusnya masih perawan nih. lobangnya kecil banget" seruku sambil mengarahkan batang penisku ke anus Mei Ling.
    Setelah mengolesi handbody pada batang penisku agar tidak lecet, aku berusaha memasukan penisku ke lubang anus Mei Ling.
    "Vin pantat loe gue sodomi ya? pantat loe montok banget sih. Pasti jepitannya kenceng nih", Aku berteriak kepadanya sambil meremas pantatnya yang putih sekali.

    "Jangan. jangan. ampun. jangan disitu. Ndii. sakiitt. periihh" jerit dan ratapan Mei Ling dengan nada memelas.
    Tapi aku tidak mempedulikan rintihan Mei Ling, makin keras aku memasukan batang kemaluan aku. Untuk beberapa saat memang sulit bagi penisku untuk berhasil masuk, karena memang lubangnya sangat sempit.

    Namun aku penasaran untuk segera melesakkan batang kemaluanku ke dalam duburnya. Dan akhirnya setelah berusaha membuka pantat Mei Ling, tembuslah lubang anus Mei Ling disodok batang kemaluanku. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya. Setelah itu pantat Mei Lingpun kusodok-sodok dengan keras, kedua tanganku meraih payudara Mei Ling serta meremas-remasnya. Setengah jam lamnya aku menyodomi Mei Ling, waktu yang lama bagi Mei Ling yang semakin tersiksa itu. Lubang dubur Mei Ling terus menerus mengeluarkan darah melalui sela-sela penisku yang tertanam dipantatnya.

    "Eegghh, aakkhh, oohh", dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok dari atas dan bawah, Mei Ling merintih-rintih.
    Sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tanganku. Sedangkan Irfan dengan asyiknya menyodok-nyodok memek Mei Ling dari bawah. Lengkaplah sudah dua lobang yang berdekatan telah di tembus oleh dua batang penis aku dan Irfan yang haus sex. Mei Ling hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa karena selama ini ia tidak pernah menahan rasa sakit seperti itu.

    "Ndi, ayo kita sudahi permainan ini bareng, loe sodok dari atas, gue sodok dari bawah dan kita koyak memek dan dubur cewek ini, dan kita penuhi dengan pejuh kita", Irfan menyeru.
    Beberapa menit kemudian kami berdua mengerang menahan nikmat yang luar bisa, dan hampir bersamaan kami memuncratkan sperma berbarengan.
    "Aachh., keluuarr.. hhmm.. sstt. nikmat sekali"
    "Ooohh." Mei Ling mengerang merasakan air mani kami membanjiri liang dubur dan vaginanya.
    Setelah berhenti sejenak kami akhirnya terkulai, begitu juga Mei Ling yang terhimpit oleh kedua pria yang telah menggaulinya hanya bisa tergolek lemas sambil menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malang.

    Kami sempat mengabadikan persetubuhan kami melalui handycam milik Irfan. dan kami berjanji tidak akan menyebarkannya ke internet, asalkan Mei Ling tutup mulut dan bersedia kami setubuhi. Sampai sekarang aku dan irfan masih sering menyetubuhi tubuh Mei Ling. Kami salurkan hasrat sex kami yang besar ini dengan mengoral mulut Mei Ling, menyodomi pantatnya, dan mengebor memeknya. Hingga sekarang kedua payudara Mei Ling semakin besar, karena terlalu sering kami remas-remas dan kami sedoti. Ukuran branya sekarang 38B, dan puting susunya merah melebar. Setelah persetubuhan, kami selalu meminumkan pil anti Hamil ke Mei Ling. Sampai sekarang Mei Ling tidak merasakan gejala-gejala kehamilan.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 05/15/11--19:36: Mbak Dwi dan Ibunya
  • Cerita Dewasa - Kamar kostku sangat sederhana, hanya dibatasi dinding papan yang sudah rapuh dari kamar pasangan suami istri yang belum punya anak. Karena kondisi itulah sejak aku sewa kamar itu selama 2 bulan aku mempunyai kebiasaan mengintip dari sebuah lubang kecil di dinding ujung tempat tidurku yang makin lama semakin melebar karena ulah jariku. Lubang itu kututup dengan poster sehingga tidak ada cahaya yang keluar dari kamarku. Sedangkan di kamar sebelahku antara dinding dengan tempat tidur mereka hanya terhalang oleh kelambu.

    Kegiatan mengintipku tidak mengenal batas waktu, dari pagi, siang ataupun malam. Sehingga aku hafal benar kehidupan di kamar sebelah, dari lekuk tubuh Mbak Dwi (nama samaran) sampai kehidupan sex mereka. Walaupun kehidupan rumah tangga mereka tampak rukun, tetapi aku tahu bahwa Mbak Dwi selalu tidak terpuaskan dalam kehidupan sex, karena suaminya hanya mampu 2-3 menit dalam bertempur, itu pun tanpa pemanasan yang cukup. Sehingga sering aku melihat Mbak Dwi diam-diam melakukan masturbasi menghadap ke dinding (ke arahku) setelah selesai bersenggama dengan suaminya. Dan biasanya pada saat yang sama, aku pun melepas hajatku, tanpa berani bersuara sedikitpun. Bahkan tidak jarang kulihat Mbak Dwi terlihat tidak bernafsu melayani suaminya, dan menjadikan tubuhnya hanya untuk melepas birahi suaminya saja.

    Aku kenal dekat dengan Mbak Dwi dan suaminya, aku sering bertandang ke rumahnya untuk membaca koran karena kamar kontrakannya satu rumah denganku, bedanya mereka mempunyai ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Aku lebih akrab dengan Mbak Dwi. Disamping umurnya kuperkirakan tidak jauh terpaut banyak di atasku, juga karena suaminya berangkat kerja sangat pagi dan pulang malam hari, itulah yang membuatku dekat dengannya. Mbak Dwi sebagai ibu rumah tangga lebih banyak di rumah, sehingga kami lebih sering bertemu di siang hari, karena kuliahku rata-rata 2 mata pelajaran sehari, dan selama itu pula aktifitas mengintipku tidak diketahui oleh mereka.

    Hingga pada suatu hari, aku berniat pulang kampung dengan menggunakan Travel, yaitu kendaraan jenis minibus yang dapat dimuati 8 orang dan dioperasikan dari kota S ke kotaku pulang pergi. Aku selalu menggunakan jasa angkutan ini, karena harganya tidak terlalu mahal dan juga diantar sampai ke rumah. Aku kaget ketika masuk kendaraan, ternyata di dalam sudah ada Mbak Dwi yang mendapat tempat duduk persis di sampingku.
    "Eh Mbak Dwi, mau kemana..?" sapaku sambil mengambil tempat duduk di sampingnya.
    "Oh Dik Ton.., mau ke kota T. Ada saudara Mas yang sakit keras, tapi Mas nggak bisa cuti. Jadi saya datang sendiri."

    Kami pun terlibat obrolan yang menyenangkan.
    Dia menggunakan rok lengan pendek, sedangkan aku menggunakan t-shirt, sehingga berkali-kali tanpa sengaja kulit lengan kirinya yang putih mulus bersentuhan dengan kulit lengan kananku. Perjalanan malam yang akan memakan waktu 8 jam ini akan menyenangkan pikirku.

    Kami sudah kehabisan obrolan, kulihat Mbak Dwi memejamkan mata, walaupun aku yakin dia belum tidur. Gesekan lengan kami lama-lama menimbulkan rangsangan buatku, sehingga kurapatkan dudukku ketika mobil berbelok. Kini tidak hanya lenganku yang menempel, tetapi pinggul kami pun saling menempel. Mbak Dwi mencoba menjauh dari tubuhku, dan aku pura-pura tidur, tapi posisi menjauhnya menyulitkan duduknya, sehingga pelan-pelan lengannya kembali menempel ke lenganku. Aku diam saja dan menahan diri, lalu lama-lama kugesekkan lenganku ke kulit lengannya, pelan sekali, setelah itu berhenti, menunggu reaksinya, ternyata diam saja. Darahku mulai cepat beredar dan berdesir ke arah penisku yang mulai mengeras.

    Kuulangi lagi gesekanku, kali ini lebih lama, tetap tidak ada reaksi. Kuulangi lagi berkali-kali, tetap tidak ada reaksi. Kini aku merasa yakin bahwa Mbak Dwi juga menikmatinya, kumajukan lenganku pelan-pelan, kutindihkan lengan kananku di lengan kirinya. Kulihat Mbak Dwi masih tidur (pura pura..?) dan kepalanya beberapa kali jatuh ke pundakku. Aku makin terangsang, karena lenganku menempel pada buah dadanya. Mbak Dwi masih diam saja ketika tangan kiriku mengelus-elus kulit lengannya yang mulus, aku sangat menikmati kulitnya yang halus itu. Aku terkejut ketika dia membetulkan duduknya, tetapi tidak, ternyata dia menarik selimut pembagian dari Travel, yang tadinya hanya sampai perut sekarang ditutup sampai lehernya. Aku mengerti isarat ini, walaupun duduk di barisan belakang dalam kegelapan, tetapi kadang-kadang ada sinar masuk dari kendaraan yang berpapasan.

    Kulihat ibu-ibu di samping Mbak Dwi masih terlelap dalam tidurnya. Melihat isyarat ini, kuletakkan tangan kiriku di atas buah dadanya, tangannya menahan tangan dan berusaha menyingkirkannya, tetapi aku bertahan, bahkan kuremas dadanya yang cukup besar itu dari luar bajunya. Tidak puas dengan itu, tanganku kumasukkan dalam bajunya, kusingkapkan BH-nya ke atas, dan kuremas dadanya yang kenyal dengan lembut langsung ke kulit payudaranya yang halus sekali.

    Kembali tangannya mencengkeram tanganku ketika aku memelintir putingnya yang sudah mengeras, tetapi hanya mencengkeram dan tidak menyingkirkan. Kepala Mbak Dwi tersandar di bahuku, sedangkan kemaluanku sudah sangat keras dan berdenyut. Kuremas dan kuelus buah dadanya yang kenyal dan licin dengan lembut sepuas-puasnya, Mbak Dwi terlihat sangat menikmatinya. Permainan ini cukup lama, ketika rangsanganku makin meningkat, kurasakan penisku makin keras mendesak celanaku. Kugeser tanganku dari payudaranya ke perut dan pinggangnya yang langsing, dari pusar tanganku makin ke bawah mencoba menerobos ke bawah CD-nya. Mbak Dwi menahan tanganku dan menyingkikirkannya dengan keras. Akhirnya aku harus puas mengelus perutnya.

    Aku sudah sangat terangsang, dalam kegelapan kubuka resleting celanaku, kukeluarkan penisku yang sudah sangat keras dari celana. Kubimbing tangan Mbak Dwi ke kemaluanku. Pada awalnya dia menarik tangannya, tetapi setelah kupaksa di tengah tatapan protesnya, akhirnya dia mau menggenggam kemaluanku. Sungguh nikmat sekali tangannya yang telah menyetuh barangku, bahkan dengan lembut meremas-remasnya.
    "Mbak Dwi jangan diremas, dielus saja..!" bisikku.

    Bersamaan dengan itu, kembali tanganku menyusup ke celana dalamnya. Kali ini Mbak Dwi diam saja, bahkan tanpa sadar diangkatnya kakinya, menumpangkan paha kirinya ke atas pahaku. Di tengah rimbun rambut kemaluan, kucari celah vaginanya, kujumpai vaginanya sudah mulai basah. Ketika jari tenganku mengelus dan memutar klitorisnya, kulihat Mbak Dwi mendesis-desis menahan rintihan. Sementara elusan di batang kemaluanku telah berubah menjadi kococokan.

    Kenikmatan sudah memenuhi batang kemaluanku, bahkan menjalar ke pingggul. Ketika jariku sedang mengelus di dalam dinding dalam vaginanya, kurasakan kedutan di kepala kemaluanku sudah semakin kencang. Aku tidak tahan lagi.
    "Crot..," akhirnya muncratlah air maniku beberapa kali, dan bersamaan dengan itu pula terasa dinding vagina mbak Dwi menjepit keras jariku, punggungnya mengejang, Mbak Dwi mengalami orgasme.
    Kutarik tanganku, dan kurapihkan selimutku dan juga selimutnya. Setelah itu kami terlelap tidur dengan kepala Mbak Dwi tersandar di pundakku.

    Aku terbangun ketika mobil berhenti di tempat parkir sebuah restoran yang sudah dipenuhi dengan bis malam. Di tengah sawah yang gelap itu, berdiri sebuah restoran Padang, tempat para supir istirahat dan penumpang minum kopi dan makan. Penumpang minibus beranjak turun, Mbak Dwi kulihat masih terlelap tidur. Dia bangun ketika ibu-ibu yang duduk di sebelahnya terpaksa membangunkannya karena mau lewat untuk turun, dan dia hanya memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan.

    Mobil kami diparkir di paling ujung di sebelah sawah yang gelap di antara parkir bis-bis besar jurusan luar kota. Semua penumpang telah turun, dan aku hanya berdua dengan Mbak Dwi. Kupandangi wajah cantiknya, kuraih lehernya ke arahku, dalam kantuknya kucium dengan lembut bibirnya, kuhisap dan kumasukkan lidahku mencari lidahnya. Dia membalasnya setengah sadar, tetapi ketika kesadarannya mulai pulih, Mbak Dwi membalas ciumanku, lidahnya bergesekan dengan lidahku, hisapannya juga tumpang tindih dengan hisapanku. Tanganku sudah masuk ke dalam bajunya dan meremas buah dadanya, nafasku dan nafasnya mulai memburu. Batang penisku kembali menegang dengan besaran yang penuh.

    Kucium lehernya, dia menggelinjang kegelian dan aku makin terangsang. Dan kuberanikan diri untuk meminta kepadanya.
    "Mbak Dwi, saya pengin dimasukkan.., boleh kan Mbak..?"
    Dia hanya mengangguk dan mengangkat pantatnya ketika aku melepaskan CD-nya. Kuperosotkan celanaku sampai ke lutut, sehingga batang kemaluanku mendongak ke atas bebas.
    Ketika sedang berpikir bagaimana posisi yang pas untuk menyetubuhinya pada posisi duduk di jok belakang yang sempit itu, tiba-tiba Mbak Dwi bangkit, mengangkangi kedua pahaku menghadap ke arahku. Dengan mencincing roknya sampai ke pinggang, dipegangnya batangku dan di bimbingnya ke arah kemaluannya. Disapukannya kepala penisku dari ujung klitorisnya sampai bibir vaginya yang paling bawah berkali-kali. Kurasakan geli dan nikmat digeser-geser di daerah licin seperti itu. Aku mendesis kenikmatan karena untuk pertama kali inilah aku berhubungan badan dengan seorang wanita.

    "Enak Dik Ton..?" tanyanya ditengah dia menatap wajahku yang keenakan.
    "Mbak, masukin Mbak, saya pengen ngerasain..!" aku meminta.
    "Mbak masukin, tapi jangan cepet dikeluarin ya.., Mbak pengen yang lama."
    Aku hanya mengangguk, walaupun aku ragu apakah aku mampu lama. Aku terbayang suami Mbak Dwi yang hanya mampu 2-3 tiga menit saja.
    Dia mulai menurunkan pantatnya pelan sekali, terasa kepala penisku terjepit bibir yang lincin dan hangat. Serrr.., seerrr.., terus makin ke dalam, sampai akhirnya sudah separuh kemaluanku terjepit di liang vaginanya. Pada posisi itu dia berhenti, kurasakan otot dalam vaginanya menjepit-jepit kemaluanku, nikmat sekali rasanya. Sebagai pemula, aku berusaha mengocok kemaluannya dari bawah, kusodok-sodokkan penisku ke vaginanya, sehingga mobil terasa bergoyang.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    "Dik Ton, kamu diam aja, biar Mbak yang mainin..!"
    Aku menurut walaupun kadang aku kembali mengocoknya, tapi dia menatapku dengan tajam dan menggelengkan kepala. Aku menurut dan diam saja. Mbak Dwi mengocok kemaluanku dengan tempo sangat lambat, dan lama kelamaan makin dalam, sehingga pangkal paha kami saling menempel dengan ketat. Dan ketika itu lah Mbak Dwi merangkulku, dan merintih-rintih. Dia mengocok kemalauanku makin cepat, dan kadang pinggulnya diputarnya, sehingga menimbulkan sensasi yang demikian hebatnya. Hampir aku tidak kuat menahan ejakulasi.

    "Mbak, stop dulu Mbak, aku mau muncrat..!" bisikku.
    Dia berhenti sebentar, tetapi segera mulai memutar dan mengocokkan pinggulnya lagi. Aku sudah benar-benar hampir keluar, maka kugigit lidahku, kualihkan rasa nikmatku kerasa sakit yang menyerang lidahku. Ternyata dengan cara ini aku dapat menahan pancaran spermaku. Mbak Dwi makin menggelora, dia merintih-rintih, kadang kupingku digigitnya, kadang leherku, dan juga jari tangannya mencakari pungggungku.
    "Dik Ton, aku nikmat sekali.., oohh.., apa kamu juga enak..?"
    "Iya Mbak.." balasku.
    "Sebelah mana..? Mbak sudah senut-senut sampai tulang punggung, mungkin Mbak sudah nggak bisa lama lagi. Aduh.., sshh.., nikmat sekali, Mbak belum pernah seperti ini. Kontolmu besar dan nikmat sekali..!"
    Mbak Dwi berbicara sendiri, aku tidak yakin apakah dia sadar atau tidak, tetapi itu membuatku makin terangsang. Aku ikut mengocok dari bawah, pangkal kelamin kami yang becek oleh lendir beradu makin sering, sehingga menimbulkan bunyi ceprok.., ceprok.., ceprok.

    Batangku sudah berdenyut kenikmatan, sedang kepala penis kurasakan makin membesar dan siap memuntahkan lahar. Ketika Mbak Dwi merintih makin keras, dan ketika jarinya mencengkeram pundakku kencang sekali, instingku mengatakan bahwa Mbak Dwi akan selesai. Maka kuangkat pinggulku, kutekan kemaluanku jauh ke dalam dasar vaginanya, kuputar pinggulku sehingga rambut kemaluan kami terasa menjadi satu. Pada saat itulah ledakan terjadi.
    "Dik Ton.., eekh.., eekh.., eekh.., eekh..!"

    Lubang dalam vaginanya berkedut-kedut, sementara ototnya menjepit batangku. Mbak Dwi melepas orgasmenya, dan pada saat itu pula lah maniku menyembur deras ke dinding rahimnya, banyak sekali. Kami telah selesai, tubuhku lemas dan kami istirahat serta pura-pura tidur berjauhan ketika penumpang lain mulai masuk mobil.
    Sejak kejadian itu, aku sering melakukan hubungan sex dengannya pada siang hari ketika suaminya tidak di rumah. Papan yang menyekat kamarku dengan kamarnya telah kulonggarkan pakunya, sehingga 2 buah papan penyekat dapat kucopot dan pasang kembali dengan mudah. Kami menyebutnya "Pintu Cinta", karena untuk masuk ke kamarnya aku sering melalui lubang papan tersebut. Mbak Dwi kini tahu bahwa aku sering mengintip ke kamarnya, bahkan ketika dia melayani suaminya, dan kelihatannya dia tidak keberatan. Dan entah kenapa, aku pun tidak pernah cemburu, bahkan selalu terangsang jika mengintip Mbak Dwi sedang disetubuhi oleh suaminya.

    Siang hari jika aku tidak ada kuliah, dan Mbak Dwi sendirian di rumah, aku sering menerobos melalui "Pintu Cinta" untuk menyalurkan birahiku sekaligus birahinya yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya. Tetapi sejak saat itu pulalah hubungannya dengan suaminya tambah mesra, jarang marah-marah, sering pula kulihat dia memijat suaminya mejelang tidur. Pelayanan sex-nya kepada suaminya juga tidak berkurang (dia melakukannya rata-rata dua kali satu minggu), tidak jarang pula suaminya hanya dilayani dengan oral sex.

    Yang membuatku bingung adalah jika Mbak Dwi mengulum dan mengurut-urut penis suaminya, suaminya mampu bertahan cukup lama, tetapi kalau dimasukkan ke vagina hanya mampu 5 sampai 10 kocokan, kemudian sudah tidak tahan. Biasanya, jika telah selesai melakukan tugasnya dan suaminya sudah pulas, Mbak Dwi akan mengeser tidurnya ke arah dinding yang menempel ke kamarku. Dengan posisi miring setengah telungkup, tangannya menyusup melalui kelambu dan "Pintu Cinta" yang sudah kubuka. Dia akan mencari paha dan kemaluanku, dan tanganku pun akan menyelusup ke arah selangkangannya untuk menuntaskan birahinya yang tidak pernah dicapainya dengan suaminya. Setelah itu kami saling mengocok kemaluan kami sampai masing-masing orgasme. Petting di samping suaminya yang tidur sungguh menegangkan, tetapi nikmat sekali.

    Bahkan pernah suatu malam, dimana suaminya tertidur pulas, kami melakukan persetubuhan yang sangat unik. Setelah saling meraba melalui lubang cinta, Mbak Dwi memasukkan separuh tubuhnya bagian bawah melalui kelambu dan lubang cinta ke kasurku, sedangkan pinggang ke atas masih tetap di kamarnya bersebelahan dengan suaminya yang masih mendengkur. Sebenarnya aku sangat kuatir kalau ketahuan suaminya, tetapi karena nafsuku juga sudah tinggi, melihat vagina yang merekah dan berlendir aku tidak tahan untuk tidak menjilatnya dan menyedot-nyedot kemaluannya.

    Ketika nafsuku tidak terkendali dan berniat untuk memasukkan penisku yang sudah mengeras sejak tadi ke lubang vaginanya, aku mengalami kesulitan posisi. Maka tidak ada jalan lain, kutarik tubuhnya makin ke dalam dan kuganjal pantatnya dengan bantal. Walaupun buah dadanya dan kepalanya masih di kamarnya, tetapi seluruh pinggangnya yang masih terbalut baju tidur sudah masuk ke kamarku, pahanya mengangkang lebar-lebar. Maka dengan setengah berjongkok, kumasukkan kemaluanku ke arah bawah. Memang ada sensasi lain. Jepitannya semakin kencang, dan klitorisnya terlihat jelas dari sudut pandangku.

    Aku mengocoknya pelan-pelan, karena aku menjaga untuk tidak membuat bunyi apapun. Sambil kukocok vaginanya yang menjepit terus menerus itu, kuelus-elus klitorisnya dengan ibu jariku. Pada saat Mbak Dwi mengalami orgasme yang pertama, ternyata aku masih separuh perjalanan. Kubiarkan kemaluanku tetap di lubangnya ketika pinggulnya diangkat ke atas tinggi-tinggi saat menikmati orgasmenya, kedua pahanya menjepit keras pinggangku. Setelah kubiarkan istirahat sejenak, kembali kukocok vaginanya serta kuputar-putar klitorisnya dengan jempolku. Dan kulihat pinggulnya berputar semakin liar, aku segera tahu bahwa Mbak Dwi akan segera oegasme yang kedua.

    Kutekan kemaluanku ke dalam liang sanggamanya, dan kupercepat putaran jempolku ke klitorisnya, sampai kurasakan tangannya mencengkeram pahaku. Biasanya pada saat orgasme aku mendengar rintihan dan melihat wajahnya menegang, tapi kali ini aku tidak mendengar dan melihat wajahnya. Kucabut penisku yang masih mengeras dan bersimbah lendirnya, segera kukocok dengan tangan kananku, kira-kira lima centi di atas lubangnya, dan akhirnya.., aku tidak dapat menahan kenikmatan. Kusemprotkan seluruh spermaku ke lubang vaginannya yang masih menganga. Mbak Dwi segera menarik tubuhnya masuk ke kamarnya, sedang aku menutup kembali papan yang terbuka. Sebuah permainan sex yang berbahaya dan menegangkan namun penuh nikmat dan tidak terlupakan.

    Sejak saat itu, kami tidak pernah berani melakukannya lagi permainan sex di samping suaminya yang masih tidur, walaupun permainan dengan tangan tetap dilakukan. Apalagi sex di siang hari, masih rutin kami lakukan.
    Sudah dua minggu ibunya Mbak Dwi yang tinggal di kota lain menginap di keluarga itu. Umurnya kutaksir sekitar 45 tahun, kulitnya putih seperti anaknya, tubuhnya sudah tidak langsing, tapi masih padat dan mulus, terutama paha dan pinggulnya sungguh menggiurkan untuk lelaki normal. Aku biasa memanggilnya Bu Ar, dan aku sering mengobrol dengannya dengan bahasa Jawa yang sangat santun, seperti kebanyakan orang Jawa berbicara kepada orang yang lebih tua. Di rumah dia selalu menggunakan daster tanpa lengan, sehingga pangkal lengannya yang mulus sering menjadi curian pandanganku. Kehadirannya ini tentu mengganggu hubunganku dengan Mbak Dwi, karena kami tidak dapat bebas lagi bercinta.

    Sejak kedatangannya, kami hanya melakukannya sekali ketika dia sedang pergi ke warung, itu pun kami lakukan dengan terburu-buru. Suatu minggu pagi, Mbak Dwi dan suaminya terlihat pergi berbonceng motor, dan ibunya sendirian di rumah. Karena kulihat koran minggu tergeletak di meja ruang tamunya, dengan terlebih dulu minta ijin aku masuk ruang tamunya untuk ikut membaca di ruang tamunya. Tidak berapa lama, ibunya keluar membawa secangkir kopi dan singkong rebus.

    "Nak Ton, ini Ibu bikin singkong rebus, dicobain..!" sambil meletakan cangkir dia duduk di depanku.
    "Terima kasih Bu..,"
    "Anak muda koq hari minggu tidak ngelencer kemana-mana..?"
    "Ah enggak Bu, badan saya lagi kurang sehat, mungkin masuk angin, saya mau istirahat saja di rumah." jawabku.
    "Mau Ibu kerokin supaya agak ringan..?" dia menawarkan jasanya.
    "Terima kasih Bu, saya nggak biasa kerokan."
    "Kalau gitu diurut saja, masuk angin nggak boleh didiamkan. Nanti setelah diurut, Ibu bikinkan minuman jahe." nadanya memerintah.
    Karena tidak enak menolaknya, aku pun mengikuti dia masuk ke dalam rumah.
    "Situ di kamar saja nak Ton, dan kaosnya dicopot, Ibu mau menyiapkan minyaknya dulu..!"
    Aku masuk ke kamar yang ditunjuknya, melepas T-shirtku, dan dengan hanya mengenakan celana training, aku telungkup di kasur.
    "Celananya diganti sarung saja nak Ton, supaya mudah ngurut kakinya..!" dia masuk kamar sambil membawa mangkuk berisi minyak sambil menyerahkan sarung dari lemari.

    Kuganti trainingku dengan sarung dengan extra hati-hati, karena kebiasaanku kalau di rumah memakai training, aku tidak pernah memakai celana dalam.
    Dia mulai mengurut kakiku, pijatannya sangat keras, sehingga kadang aku harus meringis karena menahan kesakitan. Dalam mengurut bagian ini, kakiku ditumpangkan di atas pahanya, sehingga gesekan kaki dengan pahanya yang tertutup oleh daster menimbulkan kenyamanan tersendiri. Bahkan ujung jari kakiku menyentuh perutnya, aku tidak bereaksi, karena dianggap kurang ajar.

    Selesai di bagian kaki, dia mulai mengurut paha, disingkapkannya sarungku ke atas sehingga separuh pantatku terbuka, aku diam saja. Pada mulanya mengurut dari paha bawah, kemudian mengarah ke paha samping atas, tetapi kemudian paha bagian dalam mulai diurutnya, sampai disitu jantungku mulai berdegup. Kadang-kadang tanpa sengaja jarinya menyenggol biji kemaluanku sehingga pelan-pelan penisku mulai membesar. Kejadian itu makin sering, sehingga aku berpikir bahwa ini kesengajaan. Kemudian Bu Ar mulai memijit punggungku, dan posisi duduknya pun berubah dari duduk di sampingku, sekarang dia duduk (setengah berjongkok) di atas pahaku.

    Dari posisiku memang aku tidak dapat melihatnya, tetapi aku dapat merasakan. Bahkan ketika dia menarik dasternya yang menghalangi pahaku dengan pahanya pun aku tahu. Pahaku dan kulit pahanya bergesekan, dan aku lebih menikmati gesekan paha dari pada pijatannya. Aku makin terangsang, dan kemaluanku juga makin keras berdiri, sehingga aku terpaksa membetulkan letak kemaluanku dengan mengangkat pinggulku dan meluruskannya dengan tanganku.

    "Kenapa Nak Ton..?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
    "Ah enggak apa-apa Bu, kejepit..," jawabku penuh malu.
    "Tidak apa-apa, Ibu ngerti koq, anak muda memang gampang berdiri. Nah sekarang membalik, tinggal depan yang mesti diurut..!"
    Aku mengikuti perintahnya sambil berusaha menutupi burungku yang berdiri tegak dengan sarung. Tetapi Bu Ar justru melepaskan sarungku ke bawah.
    "Nggak usah malu Nak Ton, Ibu sering melihat ngeliat burung seperti ini koq. Itu punyaknya bapaknya Dwi..?"
    "Besar mana Bu..?" tanpa sadar aku bertanya.
    "Kurang lebih sama koq, cuman bedanya punyaknya Bapaknya Dwi kepalanya nggak sebesar ini."

    Kulihat Bu Ar melihat kemaluanku cukup lama, dan dari nafasnya serta gerakannya, kuyakini bahwa Bu Ar juga terangsang.
    Sementara itu ia duduk di samping, dan tangan kananku persis di bawah pantatnya, karena aku sengaja tidak memindahkan tanganku. Dengan hati yang tegang (karena takut kena marah), kutarik tanganku, dan kupindahkan ke pahanya bagian dalam, aku hanya memegang, menunggu reaksinya. Ketika kulihat dia tidak bereaksi dan tetap mengurut dadaku, maka kuberanikan diri untuk mengelus pahanya, dia menatapku sekilas tanpa ekspresi. Elusanku kuteruskan ke arah pangkal pahanya, dan ketika kusentuh celana dalam, persis di liang vaginanya. Aku terkejut, ternyata celananya sudah basah. Wajahnya merah, aku tidak tahu apakah karena terangsang atau karena malu.

    "Ah.., Nak Ton rupanya nakal ya, Ibu kan sudah tua, tidak pantas kalau sama anak muda." katanya sambil tangannya mengeser dari pahaku, kemudian mengelus dengan lembut pangkal kemaluanku.
    "Ibu masih cantik, pahanya masih kenceng dan mulus sekali, aku sudah sangat terangsang sekali Bu, gimana nih Bu.., Bu Ar mau kan ngajarin saya..?" aku mulai merayu, dan jariku kucoba masuk ke dalam celananya, tapi tidak berhasil karena terhalang celananya yang ketat.

    "Loh koq diajarin, kan udah pinter, sampai kemarin Dwi hampir pingsan kamu kocok-kocok. Kemarin Ibu ngintip kamu lagi main sama Dwi."
    Aku kaget seperti disambar petir, aku tidak menyangka bahwa hubungan seksku dengan Mbak Dwi kemarin diketahui oleh ibunya.
    "Ibu ngelihat..?" tanyaku gugup.
    "Ibu ngintip lama sekali lho. Hati-hati, lain kali pintu depan harus dikunci dulu." dia merebahkan dirinya di sampingku sambil tetap menggenggam kemaluanku.



    Kubuka tali dasternya, dan kuremas-remas buah dadanya yang mulus dan padat.
    "Ibu nggak marah..?" tanyaku sambil terus melucuti daster dan celana dalamnya.
    "Tidak, aku kasihan sama si Dwi, suaminya itu kan lemah, dari pada dia pacaran dengan sembarang orang. Biarlah dia jadi pacar kamu."
    Kulumat bibirnya, sambil badanku sudah menindih badannya yang gempal. Nafsuku sudah tinggi, begitu pula dia. Pahanya sudah dibuka dengan lebar, belahan vagina bagian dalam yang berwarna merah dan basah terpampang di depanku. Sebenarnya aku ingin menjilat kemaluannya, tapi dia mencegahnya.

    "Jangan ah..!" sambil dia menutupnya dengan tangan ke selangkangan.
    Akhirnya kuarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluannya, Bu Ar memejamkan matanya, wajahnya sayu menahan gejolak birahinya. Tangannya terkulai di samping badannya. Tubuhnya sudah pasrah untuk disetubuhi.

    Kumasukkan pelan-pelan kemaluanku ke liang kemaluannya, langsung menusuk sampai dasar, kuputar pinggulku tanpa mengangkat pantat. Ini adalah teknik yang kusukai, karena aku dapat memberikan rangsangan gesekan pada klitorisnya tanpa menimbulkan banyak gesekan pada penisku. Sehingga dengan begini aku dapat tahan cukup lama.

    Bu Ar masih memejamkan mata, hanya kadang-kadang lidahnya keluar untuk menyapu bibirnya sendiri. Otot vaginanya mulai menjepit-jepit kemaluanku, sehingga kenikmatan menjalar di kemaluanku. Cukup lama aku melakukan putaran ke kiri dan ke kanan sambil menekan dalam-dalam kemaluanku ke liang vaginanya yang menyedot-nyedot kemaluanku itu.

    Lama-lama Bu Ar makin sering mengeluarkan lidah, dan mendesis-desis. Kini kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, dan aku mulai mengocoknya. Aku masih bertumpu pada tanganku, sehingga hanya kelamin kami yang menempel. Pada saat itulah tangannya mulai memegang pantatku, mengelus, menekan, meremas bahkan sering kali jari tangannya mengelus-elus anusku, dan ini menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Aku mengocoknya lama sekali. Tiap kali tarikan keluar, selalu diikuti dengan jepitan liangnya sambil pingulnya diputar, sehingaga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa ke seluruh batang penisku.

    Desisnya makin mengeras, dan kepalanya sering mendongak ke atas walaupun masih tetap memejamkan matanya. Bila aku mempercepat kocokanku, dia selalu menggigit bibir bawahnya serta membuka matanya, dan memandangku mungkin menahan kenikmatan yang amat sangat. Melihat tingkahnya itu, aku menjadi makin terangsang. Segera kukocokan kemaluaku dengan cepat dan lama. Seperti biasa, dia memandangku dengan sayu. Desis berubah menjadi rintihan, dan ketika aku tetap tidak mengendorkan kocokanku, Bu Ar mencengkeram bokongku dengan keras, kedua kakinya dilibatkan ke pinggangku dengan rapat dan dahi mengkerut.
    "Stop..! Berhenti Nak Ton.., Ibu nggak tahan.., sshh..!"

    Kuhentikan gerakanku, dengan jepitan kaki di pinggangku, aku pun hampir saja menumpahkan air mani. Aku pun masih ingin lama bermain dengannya, walaupun sekarang sebenarnya sudah cukup lama kami menikmati gesekan kelamin kami. Kuhentikan gerakanku, walaupun kakinya masih melingkar di pinggulku, tapi wajahnya tampak mengendor.
    Walaupun kami berdua belum orgasme, kurasakan kedutan kecil-kecil di dinding kemaluannya maupun di kemaluanku. Kurebahkan dadaku ke tubuhnya, kami menjadi satu, kulit kami yang berpeluh menempel seluruhnya. Kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang tiada tara.

    "Ibu hebat sekali, jepitannya enak sekali," aku memujinya sambil kucium bibirnya.
    Tapi dia menghindar sambil memalingkan kepalanya. Akhirnya kuciumi pipinya, kuelus-elus rambutnya. Dia menolehku dan senyumnya merekah.
    "Dik Ton, aku sudah lama nggak mendapatkan seperti ini, sejak bapaknya Dwi kerja di Malaysia, dia jarang pulang," katanya sambil mengelus-elus punggungku.
    "Ibu mainnya hebat sekali, bagaimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?" tanyaku merayu sambil kuremas buah dadanya.

    Kami istirahat sejenak, tubuhku menindih tubuhnya agak miring, agar tidak terlalu membebaninya. Kupandangi wajahnya.
    "Wanita ini.., masih cantik dan lembut.." pikirku.
    Kembali kuelus kulit wajahnya yang putih dan licin, sekali-kali kukocokkan kemaluanku pelan pelan, dan dibalas dengan sedotan vagina secara ringan.
    "Bu, gimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?" ulangku sambil kukocok pelan-pelan vaginanya.
    "Lho kan ada Dwi..," jawabnya sambil tersenyum.
    Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Kucium bibirnya secara paksa, walaupun tadinya menolak, akhirnya dia membalas ciumanku pula.

    Sambil berciuman, aku kembali menyodok-nyodokan kemaluanku kembali. Kali ini Bu Ar sangat aktif, di tengah kocokanku, vaginanya menghisap-hisap penisku sambil memutar pinggulnya. Kami merasakan kenikmatan yang lebih, Bu Ar mengerang-erang dan mendesis, aku pun tidak dapat menahan desisanku.

    "Aduh.., nikmat sekali Dik Ton.., sshh.. sshh.., Ibu sudah hampir keluar.., oh..!"
    "Saya juga Bu.., mau dikeluarin sekarang Bu..?" kataku sambil kami masih berdekapan.
    "Sebentar lagi Nak Ton, uuhh.., sshh.., sshh.., eehh..!"
    Kukocokkan batang penis makin cepat dan makin cepat, karena aku sudah tidak tahan lagi.
    "Eekhhh.., Ibu sudah nggak tahan lagi, ooohh.., eekhh.., ayo Nak Ton, keluarin bareng. Ayo Nak Ton..! Ibu keluaar.., eekhhh.., eekhhh.., eekhhh..!" dia mengalami orgasme yang hebat.

    Pinggulnya diangkat ke atas, dan wajahnya mendongak ke atas, sementara kemaluanku menghujam jauh sekali ke dalam sambil kuputar dan kutekan. Satu detik kemudian, aku pun menyemburkan spermaku beberapa kali. Oohhh nikmat sekali, kenikmatan menyelusuri seluruh tulang belakangku. Sebuah puncak kenikmatan dahsyat telah lewat beberapa detik yang lalu, tubuhku masih menindih tubuhnya. Kucium bibirnya dengan lembut, kuusap-usap wajah dan rambutnya, sementara aku tidak mencabut kemaluanku yang masih berdiri dari liang vaginanya. Masih kunikmati sisa-sisa kedutan nyaman dari vaginanya di pori-pori kulit kelaminku.

    Pagi itu aku sempat tertidur bersamanya hingga siang hari dengan tubuh telanjang, dan aku kembali ke kamarku sebelum Mbak Dwi dan suaminya kembali.

    Besok harinya, sebelum berangkat kuliah aku mampir ke rumahnya, yang kujumpai hanya Mbak Dwi.
    "Mbak Dwi kemana Ibu..?"
    "Oh Ibu sudah pulang, tadi pagi habis subuh minta diantar Mas ke terminal, katanya besok ada urusan, sehingga pulangnya dipercepat."
    Aku kecewa, tapi kusembunyikan wajah kecewaku di hadapan Mbak Dwi. Sejak itu aku tidak pernah lagi menjumpai, kecuali dalam lamunanku. Kapan kejadian ini terulang..?

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

     

    Cerita Dewasa - Saya adalah seorang salah satu siswa smu yg cukup disenangi banyak orang, mungkin hal itu karena saya adalah seorang aktivis muda yg ulet dalam segala hal dan saya juga seorang pendiri sebuah organisasi pecinta misteri alam yg terkenal. Saya memang paling susah menolak kalau sudah namanya “wanita n seks”, namun saya bukan playboy atau buaya darat. anda boleh memanggil saya ” The Women’s Lover” dan begitulah panggilan saya pada saat itu, sebagaimanapun saya berusaha menyembunyikannya pasti ketahuan oleh orang lain.

    Saya tidak pernah bangga karena tidur dengan banyak wanita, dan perlu anda tahu ini adalah kedua kalinya saya menceritakan pengalaman seks saya secara langsung setelah cerita yg sebelumnya saya masukan kewebsite ini. saya seorang yg sangat hiding, bisa dibilang saya tak suka mengumbar cerita apapun tentang diri saya. Namun entah kenapa, saya ingin mendapat komentar dari orang lain tentang masa lalu saya.

    Saat itu saya berada diposisi teratas dikalangan cowok2 yg cukup dikagumi, sehingga tak sulit untuk mendapatkan wanita untuk menemani waktu senggang dan bercinta hingga bosan. Setiap hari, setiap waktu luang selalu saya habiskan dengan wanita yg berbeda-beda dan tak ada seorang pun yg pernah menolak saya. Sampai suatu hari saya berjumpa dengan seorang gadis yg umurnya 2 tahun lebih muda dari saya, sebut saja Linda. Linda adalah seorang siswi kelas 1 smu saat itu, dia adalah gadis yg cantik dan sangat ramah. aku menyukainya dan mecoba mendekatinya namun ia langsung menolak dengan tegas.

    Aku sangat terkejut karena ini pertama kalinya bagiku ditolak oleh seorang gadis apalagi yg masih bau kencur, dia punya 2 alasan untuk menolakku. Pertama ia sudah punya pacar, kedua ia tahu siapa aku dan bagaimana aku. Aku sangat kesal dan ini membuatku gusar.

    Aku membuat suatu rencana jahat, ku berjanji dalam diriku kalau aku akan mendapatkan segalanya dari Linda dalam satu minggu. Linda berasal dari keluarga bawah, ekonomi susah. Kebejatanku adalah memanfaatkan situasi itu, aku mencoba mendekati keluarganya dan memberikan dua kakaknya pekerjaan diperusahaan omku, karena semua keluargaku memang berasal dari pengusaha. Akhirnyapun dalam 3 hari menjalankan misi jahatku ia tunduk dan memutuskan pacarnya, sebenarnya dia bukan gadis materialistis hanya saja aku tahu ia hanya ingin membahagiakan keluarganya. Dalam 5 hari aku mendapatkan cintanya, dan saat itu tentu tak kusia2kan.

    Kujemput Linda sepulang dia sekolah dan kubawa kerumahku, seperti yg pernah aku bilang bahwa aku tinggal sendiri dirumahku karena orang tua dan saudara2ku semua sibuk dengan usahanya yg berada diluar kota/negri. aku makan siang dengan hidangan yg disediakan pembantuku, lalu kusuruh pembantuku untuk pulang lebih awal sehingga aku leluasa berdua.

    Kami duduk diruang santai sambil menonton tv, perlahan aku mendekatkan tubuhku ketubuhnya yg masih berpakaian seragam. Dia hanya tersenyum sambil menonton acara di TV. Lalu aku langsung menciumi lehernya dan merambat kebibir tipisnya, awalnya ia diam dan memberi sedikit respon. Namun pada saat tanganku mulai “belanja” keselangkangannya iapun berontak dan melepaskan ciumannya. dia takut kalau aku akan meninggalkannya seperti yg kulakukan dengan gadis2 lain sebelum dia. Namun otak picik dan kata2 indah dari mulutku akhirnya meluluhkan pendirianya, akupun melakukan serangan kedua dan kali ini lebih dahsyat.

    Sekarang TV lah yg menonton kami, diatas sofa empuk yg besar aku memulai pembalasan dendamku atas penolakan yg pernah ia lakukan. Aku menciumi bibirnya dan sesekali memainkan lidahnya, ia sangat amatir dalam hal ini. Meskipun aku yakin ia pernah berciuman dengan mantannya dulu namun mungkin dia tak sehebat aku, pikirku dengan bangga. Aku mulai meremas buah dadanya yg kecil dari luar seragamnya, diapun mulai menggerang nikmat, perlahan posisi kami berubah dari awalnya duduk bersampingan, kini ia berada diposisi bawah dan aku diatas.

    Perlahan aku membuka kancing bajunya serambi bibirku masih melumat bibir kecilnya, seragamnyapun terlepas kini buah dadanya hanya tertutupi dengan BH hitam yg lucu, hmmm aku sangat suka gadis dengan underwear hitam. Akupun meninggalkan bibirnya dan mulai menciumi dan menjilati leher serta wilayah sekitar dadanya. Ia hanya mengerang sambil menahan kenikmatan. Aku terus menciumi sekitar buah dadanya yg masih terlindungi, perlahan tanganku membuka roknya dan ia hanya diam. Kini ia hanya memiliki CD hitam dan Bh hitam ditubuhnya, aku benar2 terkesima dan mencoba menahan nafsuku yg menggebu gebu melihat tubuh mulusnya.

    Akupun membuka baju dan celanaku, aku hanya memakai boxer yg menutupi samuraiku yg sudah mengeras ini. aku sengaja tidak langsung membuka underwearnya karena aku ingin melakukanya dengan tenang sehingga ia takkan melupakan kejadian ini. Aku mulai menciumi perutnya dan tanganku meraba dada dan pahanya. sesekali aku kembali menciumi bibirnya yg mendesah pelan, aku berusaha konsentrasi menciumi bagian selangkangan dan pahanya sementara tangan kananku mulai memijit bagian sensitivnya dari luar CD hitam yg sudah basah. dia sangat mendesah dan terangsang karena perbuatanku ini, bibirku mulai menciumi vegynya dari luar CD dan sesekali aku beri dorongan dan hisapan kuat kevegynya yg basah. kontolku sudah tak tahan berada didalam boxerku, akupun menghentikan basa basi ini dan langsung mengangkat tubuhnya yg mungil menuju kekamarku.

    Sambil terus berciuman, aku menggendongnya menuju kamar surgaku. Perlahan aku membaringkan tubuhnya dikasurku yg luas, aku kembali menciumi vegynya sementara tanganku bermain main dengan dadanya. Kini aku benar2 menyedot dan mencium kuat vegynya yg masih tertutupi CD tiba2 ia mengerang hebat, ternyata ia mengalami orgasme pertama. Ia terkulai lemas, namun ini belum apa apa karena “apa apa” yg sebenarnya masih tegar menanti dibalik boxerku ini. Ia memberi tahu padaku bahwa ternyata ia masih perawan, gila aku tak tahu harus senang atau bingung.

    Aku hanya ga mau terjebak dalam hubungan yg berdasar dendam ini. Kepalang basah aku tak perduli, samuraiku tak mungkin tunduk begitu saja karena situasi ini. Aku kembali minciumi bibirnya dan turun hingga kevegynya, aku menurunkan CDnya dengan lembut sambil bibirku tetap menjilati vegynya yg dilapisi bulu-bulu tipis indah. Aku jilat semua meskipun becek karena cairannya yg keluar begitu banyak saat orgasme tadi. Aku naik keatas tubuhnya dan melepaskan BH hitamnya dan langsung menjilati putingnya yg sudah mengeras dan berwarna pink itu.

    Akupun melepaskan boxerku dan membiarkan kontolku menggantung gagah didekat selangkangannya karena aku masih konsen dengan buah dadanya yg indah itu. Dia memintaku untuk tidak menyakitinya, aku tersenyum dan meyakinkan dia kalau permainan ini takkan dapat ia lupakan. Perlahan aku menarik tubuhnya kepinggir tempat tidur agar aku bisa berposisi berdiri yg baik, aku siap menancapkan kontolku kelubang senggamanya yg becek, perlahan aku tempelkan kontolku dan menggesekannya kebibir vegynya, iapun menggerang kuat.

    Aku mencoba menekan kepala kontolku hingga masuk kevegynya, ia menjerit menahan sakit. Aku pelankan coblosanku sehingga ia sedikit tenang, kepala kontolku sudah berada didalam vegynya, perlahan kutekan lagi dan darah perawanpun mulai mengalir sehingga wajah Linda kini menggeram menahan sakit, tampak air matanya sedikit mengalir. Pelan aku tekan lagi kontolku sehingga kini sudah masuk 1/4nya, darah dan cairan hangat terasa mengalir dibatang kontolku. aku menggesekannya perlahan dan mencoba membuatnya tidak begitu kesakitan.

    BLESHHH… kontolku masuk sempurna hingga mentok, mungkin karna kontolku memang sedikit besar dan panjang. ia menggerang kesakitan sambil merasa nikmat untuk pertama kalinya. namun kini semua sudah terkendali, perlahan aku menggenjot vegynya yg basah. sambil masing2 tanganku memegangi buah dada dan pantatnya, ia tampak lebih tenang dan mulai menikmati vegynya yg kugenjot. Aku mempercepat genjotanku, ia mendesah kuat dan memintaku lebih perlahan. Aku menurut, aku coba untuk mengatur kecepatan enjotanku.

    Aku merasa kontolku benar2 dijepit sesuatu yg hangat dan berlendir, aku benar2 menikmati vegynya. Wajah Linda kini tampak penuh nafsu dan mulai mengikuti irama enjotanku.

    Beberapa menit berlalu, aku mulai mempercepat enjotanku dan ia mulai mengerang tanda ingin orgasme. BYUUURRR kontolku serasa disiram oleh air susu yg hangat, dia mendesah nikmat untuk orgasme keduanya dengan sempurna. tak lama ia orgasme aku merasa kontolku mulai tak tahan menahan kenikmatan, aku mempercepat enjotanku diiringi desahannya yg sesuai irama, saat enjotan nikmat yg cepat aku langsung mencabut kontolku dan memuntahkan semua spermaku diatas perutnya, iapun hanya tertawa dan perlahan tangannya meraih kontolku yg mulai melemas diatas perutnya. aku benar2 menikmati game ini, vegynya sangat luar biasa. Aku masih berdiri diselangkangannya sambil membungkukan tubuhku, ia yg masih posisi mengangkang sambil tanganya mengocok lembut kontolku dan berkata “ini ya yg masuk kedalam punyaku, pantes sakit” aku tersenyum dan perlahan aku merebahkan tubuhku disampingnya sedangkan tangannya masih saja mengelus2 kontolku yg sudah lemas.

    “Enak banget ya, tapi aku takut hamil yank ”katanya, ”tenang aja kan aku ngeluarinnya diluar ”jawabku dengan tenang. aku kembali menciumi bibirnya dengan lembut sedangkan tangannya tetap aktiv mengelus kontolku, kontolkupun mulai mengeras kembali. kini aku memintanya untuk ikut kekamar mandiku, kami mandi berdua dan terus bercumbu ria dibawah shower sambil menunggu bathupku terisi penuh.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Perlahan aku masuk ke bathup dan ia mengikuti, kini aku ingin melakukannya didalam air. Iapun masuk kedalam bathup dan kami kembali berciuman dalam kondisi bugil, aku langsung mengarahkan kontolku yg sudah mengeras kedalam vegynya, posisi ini sangat sulit apalagi ia baru saja melepas keperawanannya tentu saja vegynya masih cukup sulit dibobol. namun aku berhasil, dan kami bermain dibathup, tak lama kugenjot mekinya iapun orgasme. Karena aku merasa tak nyaman akupun memintanya untuk ganti gaya, kami keluar dari bathup dan aku memintanya untuk membungkuk (dogystyle) iapun menurut.

    Dalam gaya ini aku adalah rajanya, aku sangat leluasa dalam menggenjot vegynya. Ia bertumpu pada dinding dibawah shower, untuk menambah gairah aku menyalakan shower sehingga permainan kami dibasahi oleh rintik2 air yg lembut. Dia hanya mendesah nikmat sementara aku terus menggenjotnya. Tak lama ia kembali orgasme, aku benar2 tak bisa menahan pejuku yg sudah diujung karena tembakan orgasmenya benar2 membuat kontolku hangat. akupun tak tahan dan mencabut kontolku dan menarik tangannya untuk mengocok kontolku, dia menurut dan dengan sigap ia mengocoknya cepat. CrOOOt cRoooT pejuku menembak ke dada dan dagunya, iapun tertawa sementara aku mendesah nikmat. ia terus mengocok kontolku dengan lembut hingga kami selesai mandi. setelah itu kami melakukannya sekali lagi diruang tamuku sebelum ia pulang.

    Keesokannya aku diundang dalam pertemuan organisasi pecinta alam, ditempat ini aku bertemu dengan seorang gadis sebut saja Reva. Reva adalah ketua dari salah satu organisasi yg cukup hebat juga dikota itu. Umurnya 3 tahun lebih tua dariku, namun ia sangat menarik dan dia tipekal wanita yg bisa dibilang Sangat Cantik. Aku langsung cepat dekat dengannya, dia anak yg sangat asyik untuk diajak bicara. Dia juga anak dari seorang pengusaha yg kaya, dia tinggal sendiri dirumahnya karena nasib kami hampir sama.

    Hubunganku dengan Linda hanya bertahan dua hari setelah perkenalanku dengan Reva, hari itu aku sedang tidak sehat dan Linda datang untuk menjengukku. Sengaja aku menyuruh pembantuku untuk tidak usah kerumah hari ini. aku dan Lindapun melakukan ritual seperti biasa dikamarku, tak berapa lama kami selesai ritual pertama terdengar bunyi bel rumahku. Reva datang untuk menjengukku, aku keluar hanya menggunakan boxer saja, aku tak terkejut melihat Reva karena aku sudah menelponnya sejak pagi bahwa aku sakit dan ini adalah salah satu bagian dari rencanaku. Linda menyusulku diruang tamu dengan menggunakan piyama, dengan tenang aku meminta mereka untuk berkenalan.

    Aku tetap ngobrol dengan Reva diruang tamu, lalu Linda memanggilku dari dalam. Akupun meninggalkan Reva diruang tamu dan menemui Linda diteras belakang rumah, “siapa dia?” tanya Linda. “Dia temanku diorganisasi!” jawabku santai, “kamu suka dia ya?” tanyanya lagi, “yah ga tahu juga sih, mungkin iya mungkin ngga… sudahlah mending kamu pulang aja, ntar malem aku telpon” jawabku santai. Linda tertunduk diam tanpa expresi, lalu ia menuju kamar untuk ganti baju sedangkan aku kembali ke ruang tamu. Linda pamit denganku dan pergi meninggalkanku dan Reva diruang tamu, akupun tak merasa bersalah ataupun kasihan saat itu.

    Reva sedikit bertanya tentang hubunganku dengan Linda, dengan santai aku menjawab apa adanya. Reva tampak tak perduli dengan jawabanku dan tetap tersenyum penuh harapan dariku, akupun memintanya untuk bersantai diteras belakang sambil menungguku membuat minuman. Setelah itu aku berpura2 pusing dan ingin kembali kekamar karena aku hanya ingin melihat responnya. Ternyata ia tak ingin pulang dan membiarkanku masuk kekamar. Aku sengaja membiarkan pintu kamarku terbuka, tak lama aku dikamar iapun menyusul masuk. “Aku ikutan tidur ya?” tanyanya seraya bercanda, “ya udah silahkan, anggap aja kamar sendiri ”jawabku. Iapun berbaring disebelahku, karena lelah setelah ritual bersama Linda tadi akupun tertidur sesaat.

    Tiba2 bibirku merasakan hangat karena sesuatu yg menyentuh lembut, aku tetap berpejam agar tak merusak situasi. Bibirku terasa dilumat dengan lembut, dan kini aku memulai sandiwara seakan terkejut.

    “Reva???” tanyaku dengan gelagat sok bingung, Reva tak terlihat kaget dan ia malah tersenyum sambil berkata “sorry… udah lama aku tahu tentang kamu, ga nyangka akhirnya bisa kenal ma kamu… tapi sayang kamu udah punya pacar,,, hmmm beruntung ya Linda bisa dapetin kamu!”… tanpa berkata lagi aku langsung melumat bibirnya, iapun membalasnya dengan liar, anak ini sangat pengalaman. Kamipun bercumbu hebat diatas ranjang yg penuh noda itu, akupun langsung membuka bajunya dan ternyata iapun membantu hingga membuka celananya. Kini kami sama2 hanya memakai underwear, payudara besarnya yg masih tertutup oleh BH menggesek-gesek dadaku. kami bercumbu dengan liar dan penuh nafsu, akupun tak sabar untuk membuka BHnya, kini BHnya bebas dari pelindung dan akupun langsung melumat putingnya.

    Ia mengerang nikmat sambil tangannya mengelus elus kontolku dari luar boxer, aku terus menjilati susunya sambil sesekali menggigit putingnya sementara ia tetap aktiv mengelus kontolku. Tanganku mulai menjamah senggamanya yg mulai basah, sementara mulutku berusaha melumat semua payudaranya. Ia berhenti mengulas kontolku dan membalikan tubuhku, kini aku dibawah kendalinya. Ia melepaskan boxerku dengan lembut, kontolku yg sudah tegang dengan gagah itupun langsung disambarnya. dikocoknya kontolku dengan cepat sambil sesekali menjilatinya, aku hanya pasrah dalam kondisi nikmat yg hampir mirip dengan adegan pemerkosaan ini. diapun mengulum kontolku dengan ganas, sesekali ia menggigit kepala kontolku, itu sakit yg nikmat. Karena tak tahan atas perbuatan liarnya itu, aku langsung menarik wajahnya dan melumat bibirnya dan langsung membalikkan tubuhnya.

    Aku lepaskan Cdnya dengan sedikit kasar dan langsung menyedot vegynya yg basah, ia mendesah nikmat dan aku semakin liar menyedot dan tanganku meremas pantatnya dan buah dadanya. Ia berontak dan menarik tubuhku dan membuatku terlentang diatas ranjang, dia langsung jongkok diatas tubuhku dan mengarahkan kontolku kearah vegynya. BLESSSH,,, kontolku masuk dengan cepat dan ia mulai menggenjot naik turun, desahan kamipun seirama. semakin bernafsu dia semakin liar, genjotannyapun makin beragam,naik turun dan goyang kiri kanan. akhhh,,, aku sangat terbuai dengan liarnya dosa yg nikmat itu, baru kali ini aku merasakan vegy dari seorang gadis yg begitu liar dalam berseks. Ia makin mendesah kuat dan mempercepat genjotannya, aku mencoba memegangi badannya karena aku merasa sedikit tidak nyaman dengan enjotannya yg kasar. BYUUURSHHH,,, dia orgasme dan membuat kontolku becek ga karuan, dia langsung menciumi tubuhku sampai kemulutku, dalam kondisi kontolku masih didalam mekinya ia terus menggenjotnya.

    Akupun tak tahan dengan pembantaian secara sepihak ini, aku langsung mengangkat tubuhnya dan posisi kami berdiri untuk sesaat. Aku memeluknya erat dan menggenjotnya dalam posisi berdiri.

    Lalu kuturunkan ia kekursi yg besar yg biasa kujadikan tempatku nyantai sambil maen game dikamarku itu. Aku berusaha mengatur agar kontolku tak tercabut dari liang senggamanya, setelah posisi ia duduk ngangkang dengan sempurna akupun langsung mempercepat genjotanku. Ia mendesah kuat lagi, aku mulai tak mampu menahan nikmatnya vegy Reva. “Aku mau keluar lagi…” katanya… “bentar aja, bareng” jawabku… desahan serentak kami benar2 sempurna… tak lama, Byurshhh… dia orgasme… Ah ah ahk… terus…. katanya. akupun keluar… CROOOT crooot… aku tembakan pejuku didalam liang senggamanya… ahhh… enak banget Rev… perlahan ia menempelkan tubuhnya dan memeluku dan terkulai lemas dilantai, aku dibawah dan ia diatas.

    “Uhhh enak banget, udah lama aku pengen gini ma kamu…! ”katanya sambil menciumi dadaku dan sesekali menggigit puting mungilku, ”aku juga senang banget bisa gini ma kamu, ga nyangka kamu hebat ya” jawabku. Perlahan kontolku mulai melemas didalam vegynya, tapi sesekali ia menggenjot dan menggoyangkan pinggulnya pelan. kami melakukannya lagi diruang TV keluarga dan dikamar mandi.

    Setelah hari itu aku tak pernah berjumpa atau menghubungi Linda lagi, aku asyik dengan hubunganku dan Reva. karena ia juga tinggal sendiri dirumahnya, kami pernah menghabiskan waktu selama 3 hari dirumahnya tanpa menggunakan busana. Seks liar kami mainkan dengan gila dirumahnya, saat itu aku sadar bahwa Reva sangat mencintaiku dan tak ingin kehilangan aku. Timku dan tim Revapun bergabung, kami sering camping bersama dan melakukan seks liar dihutan, pantai, bahkan kami pernah melakukannya didalam gua yg konon sangat angker. Namun kegilaan dan liarnya kami membuat kami tak perduli pada apapun dan siapapun.

    Beberapa bulan berlalu, sampai suatu hari aku pergi clubing dengan Reva dan teman2 perempuannya, entah kenapa perasaanku sangat tidak enak saat itu. Aku melihat seorang pria paruh baya bersama seorang gadis yg cantik dengan dandanan yg exotis. Entah kenapa mataku tak lepas darinya, Reva asyik dugem dengan teman2nya dilantai bersama orang2 gila lainnya. Saat pria itu menggandeng gadis cantik itu dan berjalan meninggalkan keramaian menuju pintu keluar, gadis itu sempat menatapku dan berlalu dipintu… aku sadar dan sangat mengenali wajah gadis itu, dia adalah Linda.

    Entah apa yg terjadi padaku, aku merasa bersalah, menyesal, sakit, cemburu, dan menderita diwaktu yg bersamaan. Tak terasa air mataku mengalir, dan aku langsung lari keluar mengejar mereka. Dari kejauhan aku melihat pria tua itu membukakan pintu mobil marcy E300 clasic dan meminta gadis itu masuk, sepintas gadis itu melihatku dan mereka melesat dihadapanku. Aku bisa tahu mobil itu. (karena aku memiliki mobil yg sama dan aku juga maniak otomotif jadi aku sangat mudah mengenali tipe mobil meski hanya dari jauh). Aku hanya berdiri tanpa ekspresi, lalu aku kembali kedalam. Aku ambil minumanku dan meminumnya hingga habis, aku masih berdiri dengan penuh emosi dan sesaat aku langsung membanting gelasku sehingga semua terdiam sunyi, ruangan yg awalnya sangat hingar bingar itu kini sunyi dan semua mata menuju padaku, aku tak perduli. Reva langsung mendekatiku dan bertanya tapi aku diam dan meninggalkannya. Aku pulang kerumah…

    Reva menelpon namun tak kujawab. Esoknya aku menemui Reva dirumahnya, ia menyambutku dengan ciuman mesra namun hanya sebentar dan aku mengelak. Aku duduk diatas sofa ruang tamunya, dia duduk didepanku dan bertanya apa yg terjadi padaku…. Aku diam seribu bahasa, lalu aku berkata dengan tegas tapi tenang “hubungan kita tak bisa dilanjutkan, kamu harus meninggalkan aku dan menemukan pria yg lebih baik. Keputusanku tak dapat dipertanyakan, semua berakhir Reva,,, hari ini juga… selamat tinggal!” aku diam dan menatapnya, wajah bingungnya berubah menjadi wajah tanpa expresi. lalu aku pergi meninggalkannya.

    Aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Esoknya salah satu teman Reva menelponku, dia bilang Reva tak bisa dihubungi dan memintaku untuk mengecek rumahnya. Beberapa saat setelah itu akupun pergi kerumahnya, dari kejauhan aku melihat ada keramaian didekat rumahnya. Aku memarkirkan mobilku agak jauh dari keramaian, aku melihat ada ambulance dan mobil polisi. Salah seorang yg ada disitu berbicara pada temannya ” kasihan ya, koq bisa sih cewek itu bunuh diri?”… aku mendengarnya dengan jelas, aku termundur dan terdiam. Aku langsung meninggalkan tempat itu dan pergi kevilla milik ayahku tak jauh dari kota.

    Telpon2 dan sms2 makian masuk keHPku, Linda gantung diri pada malam dihari aku memutuskan hubungan kami. Rasa bersalahku tak dapat diungkapkan dengan kata2, aku habiskan 2minggu divillaku bukan karena takut akan polisi namun aku ragu untuk melanjutkan hidupku. Teman2 timkupun datang kevilla, mereka tahu apa yg terjadi padaku. Merekalah yg berusaha membangkitkan semangat hidupku. Sangat sulit bagiku untuk melupakan dosa dan kesalahanku pada mereka, namun kebejatanku tetap saja ada hingga kejadian yg hampir serupa terjadi lagi satu tahun setelahnya, itu lah yg kuceritakan pada moment sebelum cerita ini.

    Cerita ini sangatlah memukul aku, karena aku menghancurkan dua jiwa sekaligus.

    Saat ini aku hidup dengan damai dan aku tidak sebejat dulu, aku berusaha hidup menjadi orang baik. Tapi aku sadar, sampai kapanpun bayangan kebejatanku takkan hilang dari setiap mimpi2ku.

    Sekarang aku benar2 sadar, indahnya melakukan kesalahan namun lebih sakit setelah penyesalannya dan semua itu takkan berguna… penyesalan takkan berakhir…

    Ambilah maknanya dan hindari penyesalannya…

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 05/26/11--19:54: Karyawan Papaku
  • Cerita Dewasa - Aku mau sharing pengalamanku dengan sex. Aku sekarang 23 th. Pertama kali aku kenal sama sex itu 10 th yang lalu. Aku baru kelas 1 SMP. Namanya Mas Syam(sebut aja gitu). Dia karyawan papaku yang tinggal dirumah. Karena Papaku harus bolak alik keluar kota. Jadi Mas Syam disuruh jaga rumah. Mas Syam itu perawakannya tinggi dan besar. Aku dan Mas Syam kurang lebih beda 13 th.

    Kejadiannya waktu siang hari. Sepulang dari sekolah aku langsung mandi dan ganti baju. Karena aku mau bikin tugas dilantai bawah, aku memakai celana pendek hitam dan singlet merah karena lantai bawah hawanya panas..
    Kebetulan rumah aku lagi kosong. Mama dan adikku sedang dirumah nenek. Aku disuruh nyusul setelah pulang sekolah karena esoknya tanggal merah yang artinya libur sekolah. Karena ada tugas jadi aku memutuskan untuk membuat tugas dulu baru minta antar Mas Syam ke Rumah nenek.

    “Lagi ngerjain apa Vania?” Mas Syam negur.
    “Oh, ini lagi ngerjain tugas. Ga papa kan Mas? diatas sendirian takut. hehehe”
    “Takut apaan? Takut setan?” Mas Syam menggodaku.
    “Ih, apa sih ni… Aku kan jadi takut.” Aku emang payah banget.
    Aku ga berani sama yg namanya Hantu. hehehe.
    “Emang disini ga takut? disini kan Hantunya lebih serem.” Kata Mas Syam sembil menghampiriku dan berdiri di sampingku sambil melihat tugas yang ak buat.
    “Ah Mas Syam ini. Aku takut nih…” Aku ngerengek kaya anak kecil. Emang masih kecil seh. hehehe.
    “Van, tangannya alus banget” Mas Syam membelai-belai tanganku.
    “Ih, Mas Syam aku merinding nih. orang lagi ngerjain tugas juga.” sambil menepis tangan Mas Syam.Mas Syam akhirnya mengambil kursi dan duduk di tepat disamping aku.
    Awalnya aku merasa sedikit risih karena nafas Mas Syam terasa dipundakku.

    “Kamu wangi ya Van. Kamu pasti pakai body lotion yah?”
    “Jangan iseng ya Mas, ntar ga kelar-kelar nih!”
    Mas syam malah mencium pundakku dan terus keleherku. Aku merinding tapi aku ga bisa menegurnya karena ada rasa yang bagaimana gitu.
    Akhirnya Mas Syam mencium bibirku. Aku bingung harus bagaimana aku belum pernah dicium laki-laki.
    “Wah Mas orang pertama yang nyium kamu ya Van?” Kata Mas Syam meledek. Aku ga bisa menjawab hanya bengong aja.
    “Ya udah kamu selesain tugas kamu dulu deh.” lalu Mas Syam bangkit dari kursi menuju dapur. Tapi aku jadi ga konsen ngerjain tugasnya. Akhirnya aku tutup buku tugas nyontek aja ah’ pikirku.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    “Udah selesai? Kok ditutup bukunya?” Aku kaget ternyata Mas Syam udah ada dibelakangku lagi. Mas Syam berjalan menuju kearahku.
    “Mas mau apa lagi?” Jawabku gemetar dan takut sekali.
    “Mas mau cium aku lagi yah?”
    “Kalo iya kenapa? hehehehehehehe dasar anak kecil” Mas Syam tertawa seolah mengejekku.
    “Dasar anak kecil? Aku bukan anak kecil tau! Aku kan udah gede!”
    “Masa? mana dadanya aja masih rata gitu…” Ledek Mas Syam.
    Aku paling benci kalo di bilang anak kecil.
    “Enak aja. Aku udah pake BH tau!!! Sembarangan!”
    “Mana buktinya?” goda Mas Syam untuk memancingku. ”kasi Mas lihat dong kalo udah pake BH…”
    Saat itu aku termakan omongannya Mas Syam. Aku buka kaos singlet merahku.” Nih aku udah pake BH kan!”
    Lalu Mas Syam berjalan semakin mendekatiku.
    “Iya udah pake BH. Tapi kamu lebih bagus ga pake BH Vania nanti tetenya bisa gede jadinya.” Aku bengong denger kata-katanya Mas Syam. Mas Syam lalu memegang pipiku. Lalu diciumnya aku sambil dibelai-belai rambutku.
    Aku merasakan jantungku berdebar kencang dan ada rasa yang tidak bisa aku gambarkan saat itu.

    Mas Syam memainkan lidahnya didalam mulutku sambil tangannya mulai membelai buah dadaku. Aku merasakan kenikmatan yang tak mampu aku lukiskan. Tangan Mas Syam menggerayangi punggunggu sambil terus menciumi pipi, bibir, dan leherku. Tiba-tiba aku kaget karena ikatan BHku lepas. Dengan sigapnya Mas Syam melepas BHku dari buah dadaku.
    “Mas aku malu!!!” Aku menutupi buah dadaku. Mas Syam berjalan mundur beberapa langkah. Lalu melepaskan tanganku dari buah dadaku. Lalu Mas Syam Mengangkatku untuk didudukan di atas meja.
    “Kenapa mesti malu? Tetenya bagus kok Van. Masih kecil sih tapi setelah ini pasti jadi lebih besar” Mas Syam tersenyum.

    Lalu Mas Syam mulai menyentu buah dadaku. Aku merasa kegelian namun tidak bisa menolaknya. Buah dadaku diremas-rema dengan kedua tangannya. Kemudian mulutnya menciumi aku lagi dari leher turun ke dadaku. Tangan kanannya dilepas dari buah dadaku lalu mulutnya mulai mengulum punting susu kananku. Mmmmh… mmmmh… hisapannya membuatku terbang ke awan. Tangan kirinya terus meremas-remas buah dadaku yang kiri. Tangan kanannya mulai turun kebawah. Kemaluanku mulai dibelai – belai olehnya. Aku merasakan sensasi yang benar benar dasyat. Mas Syam membuka celana pendekku dan celana dalamku. Dalam Sekejap aku sudah telanjang bulat. Kemaluanku langsung dibelai belainya.

    “Van, Mas buka baju sebentar.” Aku melihat Mas Syam mempreteli bajunya satu-satu sampai akhirnya polos. Aku sedikit kaget saat kejantanya menunjuk kearahku. Lalu Mas syam menyentuh kemaluanku lagi. Mas Syam mambuka kakiku lebar, kemudian ditenggelamkan kepalanya di kemaluanku. Mas Syam menjilati mengigit dan menyodok kemaluanku dangan lidahnya. Kemaluanku sudah basah dan Mas Syam mencoba menyodok-nyodokkan jari tengahnya ke kemaluanku. Ah… mmmhhhh… ada rasa nikmat yang sulit aku katakan.
    “Mas… mmmmmhhh… Mas syam…” tanpa ba bi bu dimasukkannya kejantannya ke dalam kemaluanku. “Arghhhh… sakit Mas… ahmmmhhh…” Aku kesakitan namun juga kenikmatan. “Tapi enak kan Van…” Mas Syam mulai menggoyangkan badannya. Kami melakukannya dengan posisi aku duduk setengah tidur dan Mas Syam berdiri.



    “Mas… mmmmmhhhhh… Massshhhh… Enak Massss…” Mas Syam mempercepat goyangannya dan tiba-tiba Mas Syam menarik kejantannya dari kemaluanku. Dikeluarkan cairan putih itu di lantai. Aku merebahkan badanku diatas meja. Lemas tak berdaya. Mas Syam mengambil tisu dan melap cairannya itu. Setalah itu Mas Syam naik ke atas meja dan telentang disampingku.

    “Enak ga Van?” tanya Mas Syam dan disambut dengan anggukanku.
    Mas Syam membalikan tubuhnya ke arahku. lalu memandangi wajahku. Akupun memandangi wajahnya.
    “Kenapa melihat aku seperti itu Mas?”
    “Kamu cantik van tanpa busana gini.”
    “Ah Mas Syam bisa aja. hehehe”
    Lalu Mas Syam mencium bibirku sekali lagi.
    “Mandi yuk… abis itu aku antar kamu ke rumah nenek”
    “Gendong dong Mas… Aku cape nih… Aku kan masih kecil… hehehe…”
    Mas Syam mencubit puting susuku dan turun dari meja. Lalu Mas Syam mengangkatku ke kamar mandi. Akhirnya kami saling menyabuni tubuh satu sama lain.

    Setelah selesai mandi aku diantar ke rumah Nenek naik mobil. Sepanjang jalan, tangan Mas Syam terus menggerayangi buah dadaku. Saat di lampu merah Mas Syam mencium aku. Aku hanya diam saja.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

    Cerita Dewasa - Perkenalkan namaku Rendi, umurku saat ini 19 tahun. Kuliah dikota S yang terkenal dengan sopan santunnya. Aku anak kedua setelah kakakku Ana. Ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ayahku juga bekerja di kantor. Tinggi badanku biasa saja layaknya anak seusiaku yakni 169 kg. Di situs ini aku akan menceritakan kisah unikku. Pengalaman pertama dengan apa yang namanya sex. Kisah ini masih aku ingat selamanya karena pengalaman pertama memang tak terlupakan. Saat itu usiaku masih 10 tahun pada waktu itu aku masih kelas 4 SD. Kisah ini benar benar aku alami tanpa aku rubah sedikit pun.

    Aku punya teman sebayaku namanya Putri, dia juga duduk di bangku SD. Aku dan dia sering main bersama. Dia anak yang sangat manis dan manja. Dia mempunyai dua kakak. Kakak pertama namanya Rio di sudah bekerja di Jakarta. Dan kakaknya yang satu lagi namanya Linda. Saat itu dia kuliah semester 4 jurusan akuntansi salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Dia lebih cantik dari pada adiknya Putri. Tingginya kira kira 160 cm dan ukuran payudaranya cukup seusianya tidak besar banget tapi kenceng.

    Waktu itu hari sangat panas, aku dan Putri sedang main dirumahnya. Maklum rumahku dan rumahnya bersebelahan. Saat itu ortu dari Putri sedang pergi ke Bandung untuk beli kain. Putri ditinggal bersama kakaknya Linda.

    “Main dokter dokter yuk, aku bosen nich mainan ini terus”. ajak Putri

    Segera aku siapkan mainannya. Aku jadi dokter dan dia jadi pasiennya. Waktu aku periksa dia buka baju. Kami pun melakukan seperti itu biasa karena belum ada naluri seperti orang dewasa, kami menganggap itu mainan dan hal itu biasa karena masih kecil. Waktu aku pegang stetoskop dan menyentuhkannya didadanya. Aku tidak tahu perasaanya. Tapi aku menganggapnya mainan. Waktu itu pintu tiba tiba terbuka. Linda pulang dari kampusnya. Dengan masih telanjang dada Putri menghampiri kakaknya di depan pintu masuk.

    “Hai Kak baru pulang dari kampus.”
    “Ngapain kamu buka baju segala”? Kak Linda memandangi adiknya.
    “Kita lagi main dokter dokteran, aku pasiennya sedangkan Rendi jadi dokternya, tapi sepi Kak masa pasiennya cuma satu. Kakak lelah nggak. Ikutan main ya kak?”
    “Oh mainan toh.. Ya sudah aku nyusul, aku mau ganti pakaian dulu gerah banget nih”

    Kami bertiga pun segera masuk ke kamar lagi, aku dan Putri asyik main dan Kak Linda merebahkan tubuhnya ditempat tidur disamping kami. Aku melihat Kak Linda sangat cantik ketika berbaring. Setelah beberapa menit kemudian dia memperhatikan kami bermain dan dia terbengong memikirkan sesuatu.

    “Ayo Kak cepetan, malah bengong” ajak Putri pada kakaknya.

    Lalu dia berdiri membuka lemari. Dia kepanasan karena udaranya. Biasanya dia menyuruh kami tunggu di luar ketika dia ganti baju

    “Ayo tutup mata kalian, aku mau ganti nih soalnya panas banget” Kak Linda menyuruh kami.

    Dia melepaskan pakaian satu persatu dari mulai celana panjangnya, dia memakai CD warna putih berenda dengan model g-string. Saat itu dia masih dihadapan kami. Tertampang paha putih bersih tanpa cacat. Setelah itu dia melepas kemejanya dicopotnya kancing satu perstu. Setelah terbuka seluruh kancingnya, aku dapat melihat bra yang dipakainya. Lalu dia membelakangi kami, dia juga melepas branya setelah kemejanya ditanggalkan. Aku pun terbengong melihatnya karena belum pernah aku melihat wanita dewasa telanjang apa lagi ketika aku melihat pantatnya yang uuhh. Dia memilih baju agak lama, otomatis aku melihat punggungnya yang mulus dan akhirnya dia memakai baby doll dengan potongan leher rendah sekali tanpa bra dan bahannya super tipis kelihatan putingnya yang berwarna coklat muda. Kulitnya sangat putih dan mulus lebih putih dari Putri. Putri melihatku.

    “Rendi koq bengong belum lihat kakakku buka baju ya? Lagian kakak buka baju nggak nyuruh kita pergi.”
    Kak Linda ngomel,” Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren? ”dia bercanda.
    Akupun menundukan mukaku karena malu.”Tapikan kak, susunya kakak sudah gede segitu apa nggak malu ama Rendi.”
    Putri menjawab ketus.” Kamu aja telanjang kayak itu apa kamu juga nggak malu sudah ayo main lagi.” Linda menjawab adiknya. Kami pun bermain kembali.

    Giliran Kak Linda aku periksa. Dia menyuruh aku memeriksanya, dia agak melongarkan bajunya. Ketika stetoskop aku masukkan di dalam bajunya lewat lubang lehernya, tepat kena putingnya. Dia memekik. Aku pun kaget tapi aku pun tidak melihatnya karena malu. Dia menyuruhku untuk untuk lama lama didaerah itu. Dia merem melek kayak nahan sesuatu, dipegangnya tanganku lalu ditekan tekan daerah putingnya. Aku merasa sesuatu mengeras.

    “Kak ngapain.. Emang enak banget diperiksa.. Kayak orang sakit beneran banget.” Putri Tanya ama kakaknya.
    Kak Linda pun berhenti. ”Yuk kita mandi soalnya sudah sore lagian kamu Putri ada les lho nanti kamu ketinggalan.” Ajak Kak Linda pada kami berdua. Dia menyuruh bawa handuk ama baju ganti.

    Setelah mengisi air, aku pun membuka bajuku tanpa ada beban yang ada dan telanjang bulat begitu juga ama Putri. Kamipun bermain air di bathup. Kamar mandi disini amat mewah ada shower bathup dan lain lain lah, maklum dia anak terkaya dikampungku. Setelah itu pintu digedor ama kakaknya dia suruh buka pintu kamar mandinya. Aku pun membukanya. Kak Linda melihatku penuh kagum sambil menatap bagian bawahku yang sudah tanpa pelindung sedikitpun, aku baru tahu itu namanya lagi horny. Lalu dia masuk segera di membuka piyama mandinya. Jreng.. Hatiku langsung berdetak kencang, dia menggunakan bra tranparan ama CD yang tadi dia pake dihadapan kami.

    “Bolehkan mandi bersama kalian lagian kalian kan masih anak kecil.”
    “Ihh.. Kakak.. Punya kakak itu menonjol” ledek adiknya.

    Dia hanya tersenyum menggoda kami terutama aku. ”biarin. ”sambil dia pegang sendiri puting dia menjawab lalu dia membasahi badannya ama air di shower. Makin jelas apa yang nama payudara cewek lagi berkembang. Begitu kena air dari shower bra Kak Linda agak merosot kebawah. Lucu banget bentuknya pikirku. Payudaranya hendak seakan melompat keluar.

    “Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya..”.

    Putri bergegas keluar tapi aku tidak, aku takut kalau ketahuan anuku mengeras, aku malu banget. Baru kali ini aku mengeras gede banget. Lalu Kak Linda mendekat dan melihatku serta menyuruhku untuk turun. Aku turun dengan tertunduk muka Kak Linda melihat bagian bawahku yang sudah mengeras sama pada waktu aku bermain tapi bedanya sekarang langsung dihadapan mata. Dia hanya tersenyum padaku. Aku kira dia marah. Dia kayak sengaja menyenggol senjataku dengan paha mulusnya.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    “Ooohh.. Apa itu..” (pura pura dia tidak tahu) Putripun tertawa melihatnya.
    “Itu yang dinamakan senjatanya laki laki yang lagi mengeras tapi culun ya kalau belum disunat” Kak Linda memberitahukan pada adiknya.

    Setelah busanya melimpah di air kami pun nyebur bareng.

    “Adik adik, Kakak boleh nggak membuka bra kakak” pinta Kak Linda pada kami.
    “Buka aja to Kak lagian kalau mandi pakai pakaian kayak orang desa.” adiknya menjawab.

    Tapi aku nggak bisa jawab. Dengan pelan pelan kancing dibelakang punggung dibukanya lalu lepas sudah pengaman dan pelindung susunya. Dengan telapak tangannya dia menutupi payudaranya.

    “Sudah buka aja sekalian CD nya nanti kotor kena bau CD kakak,” ujar Putri kepada kakaknya.

    Segera dia berdiri diatas bathup melorotkan CDnya dengan hati hati(kayaknya dia sangat menunggu ekspresiku ketika melihat wanita telanjang bulat dihadapannya). Ketika dia berdiri membetulkan shower diatas kami, aku melihat seluruh tubuhnya yang sudah telanjang bulat.

    “Kak anu.. anu.. Susu kakak besarnya, ama bawahan kakak ada rambutnya dikit,” aku memujinya.

    dia hanya tersenyum dan memberitahu kalau aslinya bawahan nya lebat hanya saja rajin dicukur. Dia agak berlama lama berdiri kayaknya makin deket aja bagian sensitivenya dengan wajahku, ada sesuatu harum yang berbeda dari daerah sekitar itu. Kak Linda terus berdiri sambil melirikku.

    Sambil membilasi payudaranya dengan air hangat serta digoyang dikit dikit bokong bahenolnya. Dia menghadap kami sambil mnyiram bagian sensitifnya. Aku pun tak berani langsung menatapnya. Sambil memainkan payudaranya sendiri dia punya saran plus ide gila.

    “Mainan yuk. Aku jadi ibunya, kamu jadi anaknya.”

    Lalu Kak Linda menyuruh mainan ibu ibuan, dia menyuruh kami jadi bayi. Lalu dia menyodorkan susunya pada kami.

    “Anakku kasihan, sini ibu beri kamu minum” dia berkata pada kami.

    Putri pun langsung mengenyot puting susu kakaknya, tapi aku pun tak bergerak sama sekali, lalu dia langsung menyambar kepalaku ditarik ke arah payudaranya.

    “Ayo sedot yang kuat.. Ahh.. Cepet.. Gigit pelan pelan.. Acchh,” kata itu keluar.

    Tapi koq nggak keluar airnya. Punya Mama keluar air susunya. Tiba tiba Putri berhenti.

    “Uhh.. Ini kan namanya mainan jadi nggak beneran. Kamu udahan aja sudah jamnya kamu les” Putri pun bergegas turun dan berganti pakaian sejak saat itu aku tak memdengar langkah dia lagi.

    Aku pun masih disuruh mainan dengan putingnya tangan kiriku dikomando supaya meremas susu kirinya. Tiba tiba ada sesuatu yang bikin aku bergetar, ada sesuatu yang berambat dan memegangi anuku. Dengan kanan kanan memegangi tangan kiriku untuk meremas payudaranya ternyata tangan kanannya memainkan penisku.

    Segera dia memerintahkan untuk turun dari situ. Kami pun turun dari situ. Lalu. Dia duduk di pingiran sambil membuka selakangannya. Aku baru melihat rahasia cewe.

    “Rendi ini yang dinamakan vagina, punya cewek. Tadi waktu kakak berdiri aku tahu kalau kamu memperhatikan bagian kakak yang ini. Ayo aku ajarin gimana mainan ama vagina” akupun hanya mengangguk.

    Dia menyuruh menjilatinya setelah dia mengeringkannya dengan handuk. Aku pun menjulurkan lidahku kesana tapi bagian luarnya. Dia hanya tersenyum melihatku. Dengan jari tangan nya dia membuka bagian kewanitaan itu. Aku benar benar takjub melihat pemandangan kayak itu. Warnanya merah muda seperti sebuah bibir mungil. Setelah dia buka kemaluannya, lalu dia suruh aku supaya menjilatinya. Ada cairan sedikit yang keluar dari bagian itu rasanya asin tapi enak. Disuruh aku menyodok dengan kedua jariku, terasa sangat becek. Dia menyuruhku berhenti sejenak. Ketika dia menggosok gosok sendiri dengan tangannya dengan cepat lalu dia menyambar kepalaku dengan tangannya ditempelkan mukaku dihadapannya.

    Seerr.. Serr.. bunyi air yang keluar dari vaginanya banyak sekali. Sambil berteriak plus mendesis lagi merem melek. Setelah itu dia jongkok, aku kaget ketika dia langsung menjilati kepala penisku. Di buka bagian kulup hingga kelihatan kepalanya.



    “Kakak enggak jijik ya kan buat kencing” aku bertanya pada dia tapi dia terus mengulumnya maju mundur.

    Sakit dan geli itu yang kurasakan tapi lama lama enak aku langsung rasanya seperti kencing tapi tidak jadi. Dia menggunakan sabun cair katanya biar agak licin jadi nggak sakit. Saking enaknya aku bagai melayang badanku bergetar semua. Setelah dibilas dia mengkulum penisku, semua masuk didalam mulutnya.

    “Kak aku mau kencing dulu” aku menyela.

    Setelah itu dia berbaring dilantai dia menyuruh bermain dengan kacang didalam vaginanya. Pertama aku tidak tahu, dia memberi tahu setelah dia sendiri membukanya. Aku sentuh bagian itu dengan kasar dia langsung menjerit dia mengajari bagaimana seharusnya melakukannya. Diputar putar jariku disana tiba tiba kacang itu menjadi sangat keras.

    Sekitar 5 menit aku bermain dengan jariku kadang dengan lidahku. Keluar lagi air dari vaginanya. Aku disuruh terus menyedotnya. Dia kayaknya sangat lemas lunglai. Setelah beberapa saat dia memegang penisku dan menuntunnya di vagina.

    “Coba masukan anumu ke dalam sana pasti aku jamin enak banget rasanya” dia menyuruhku.

    Dengan hati-hati aku masukkan setelah masuk aku diam saja. Dia menyuruh aku untuk menekan keras. Dan bless masuk semuanya dia memberi saran kayak orang memompa. Masuk-keluar.

    “Acchc terus.. yang cepet.. ah.. ah.. ah..” dia mendesis, dia menggoyangkan pantatnya yang besar kesana kemari.

    Tapi sekitar 3 menit rasanya penisku kayak diremas oleh kedua daging itu lalu aku ingin sekali pipis. Saat itu penisku kayak ada yang air mengalir. Dan serr.. seerrs air kencingku membanjiri bagian dalamnya. Setelah kelelahan kami pun keluar dia langsung pergi ke kamar masih keadaan bugil. Kemudian dia berbaring karena lelah, aku mendekatinya dan dia memelukku seperti adiknya, payudaranya nempel di mukaku. Setelah aku melihat wajahnya dia menangis. Lalu dia menyuruh aku pulang. Aku mengenakan pakaian dan pulang. Dia menyuruh merahasiakan kalau aku berbicara ama orang lain aku nggak boleh bermain ama adiknya.

    Kami pun terus melakukannya sekitar 1 tahun tanpa ada siapa yang tahu. Sekitar aku kelas 1 SMP dia kawin ama temannya karena dia hamil. Ketika 2 minggu lalu (saat ini) aku bertemu dia bertanya masih suka main seperti dulu. Akupun hanya tertawa ketika aku tahu itu yang namanya sex dan aku ngucapin terima kasih buat kakak, itu adalah pengalamanku yang pertama. Buat pembaca aku masih punya cerita nyata yang tak kalah seru tunggu aja.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 06/06/11--11:16: Ibu Pacarku dan Tantenya
  • Cerita Dewasa - Namaku Donny, umur 18 tahun, wajahku cukup tampan dan tubuh atletis karena aku memang suka olah raga, tinggi 175 cm. Aku dilahirkan dari keluarga yang mampu. Tapi Aku merasa kesepian karena kakak perempuanku kuliah di Amsterdam, sedang kedua orang tuaku menetap di Bali mengurusi perusahaannya di bidang garment, mereka pulang sebulan sekali.

    Saat ini aku kelas III SMU swasta di kota Surabaya. Perkenalanku dengan pacarku, Shinta setahun yang lalu. Di sekolah kami, dia memang kembangnya kelas III IPS, banyak cowok yang naksir padanya tapi dengan sedikit kelebihanku dalam merayu cewek, maka aku berhasil menggaetnya. Sebenarnya dia termasuk type cewek yang pendiam dan tongkrongannya biasanya di perpustakaan, karena itu dia sering dapat rangking kelas.

    Keluarga Shinta termasuk keluarga yang kaya. Ayahnya, Pak Har berumur 54 tahun masuk jajaran anggota DPRD, sedang ibunya, Bu Har yang nama aslinya Mustika berumur 38 tahun, orangnya cantik, tingginya sekitar 164 cm, kulitnya putih, dia asli Menado, rambutnya sebahu, orangnya ramah dan berwibawa. Kesibukannya hanya di rumah, ditemani oleh tantenya Shinta yaitu Tante Merry, berumur 30 tahun, orangnya seksi sekali seperti penyanyi dangdut Baby Ayu, tingginya 166 cm. Dia baru menikah 3 tahun yang lalu dan belum mempunyai anak, sedang suaminya Om Nanto adalah pelaut yang pulang hampir 3 bulan sekali.

    Dalam masa pacaran boleh dibilang aku kurang pemberani karena memang Shinta orangnya selalu memegang prinsip untuk menjaga kehormatan karena dia anak tunggal. Dia hanya mengijinkan aku untuk mencium pipi saja, itu juga kalau malam minggu. Sebenarnya aku bukanlah orang yang alim, karena kawan-kawanku Andi, Dito dan Roy terkenal gank-nya Playboy dan suka booking cewek, maka sebagai pelampiasanku karena pacarku orangnya alim aku sering mencari kesenangan di luar bersama teman-temanku, rata-rata dari kami adalah anak orang gedean, jadi uang bagi kami bukanlah soal, yang penting happy.

    Suatu hari, tepatnya minggu sore kami berempat pergi ke Tretes dan rencananya akan menyewa hotel dan booking cewek. Sesampainya di sebuah hotel, kami segera ke receptionis, kami segera memesan 2 kamar, saat itu aku hanya duduk di ruang tunggu dan mengawasi Dito dan Andi yang sedang memesan kamar. Tiba-tiba pandanganku jatuh pada perempuan setengah baya yang berkacamata hitam di sebelah Dito yang sepertinya lebih dulu mau memesan kamar.

    Aku seperti tak percaya, dia ternyata Tante Tika (Mustika) ibunya Shinta dan yang bersamanya seorang pemuda yang aku sendiri tidak kenal. Mereka kelihatan mesra sekali karena tangan pemuda itu tak mau lepas dari pinggang Tante Tika. Timbul niatku untuk menyelidiki apa sebenarnya tujuan Tante Tika datang ke hotel ini. Setelah mendapat kunci, mereka kemudian melangkah pergi untuk menuju kamar yang dipesan. Lalu aku menguntitnya diam-diam, pada Roy aku pamit mau ke Toilet. Ternyata mereka menuju ke kamar Melati no.3 yaitu salah satu kamar VIP yang dipunyai oleh Hotel itu.

    Kemudian aku balik lagi ke teman-temanku, akhirnya mereka mendapat kamar Mawar no.6 dan 7 kebetulan lokasinya saling membelakangi dengan Kamar Melati, dan dipisahkan oleh parkiran mobil. Tak lama kemudian, Roy dan Dito pergi mencari cewek. Sambil menunggu mereka, aku iseng-iseng pergi ke belakang kamar. Saat itu jam 18:00 sore hari mulai gelap.
    Kebetulan sekali di Kamar Melati pada dinding belakang ada ventilasi udara yang agak rendah. Dengan memanjat mobil Roy, aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.
    Ternyata Ibu pacarku yang di rumah kelihatan alim dan berwibawa tak disangka selingkuh dengan pria lain yang umurnya jauh lebih muda darinya.

    Keduanya dalam keadaan telanjang bulat, posisi Tante Tika sedang menaiki pemuda itu sambil duduk, kemaluan Tante Tika terlihat tertusuk oleh batang kejantanan pemuda yang sedang terlentang itu. Aku jadi ikut horny melihat dua sosok tubuh yang sedang bersetubuh itu. Wajah Tante Tika kelihatan merah dan dipenuhi keringat yang membasahi kulitnya. Nafasnya terengah-engah sambil menjerit-jerit kecil. Tiba-tiba gerakannya dipercepat, dia berpegangan ke belakang lalu dia menjerit panjang, kelihatannya dia mendapat orgasmenya lalu badannya ambruk menjatuhi tubuh pemuda itu.

    Kelihatannya pemuda itu belum puas lalu mereka ganti posisi. Tante Tika berbaring di ranjang, kakinya di buka lebar lututnya dilipat, dengan penuh nafsu pemuda itu menjilati liang kewanitaan Tante Tika yang sudah basah penuh dengan cairan maninya. Ibu pacarku itu mengerang-erang manja. Setelah puas dengan permainan lidahnya, pemuda itu kembali mengarahkan batang kejantanannya ke bibir kemaluan Tante Tika lalu dengan mudah, "Blueesss..." Kejantanan pemuda itu sudah amblas seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Tante Tika. Aku melihatnya semakin bernafsu sambil mengocok kemaluanku sendiri, aku antusias sekali untuk menikmati permainan mereka. Pemuda itu terus memompa batang kejantanannya keluar masuk lubang kemaluan Tante Tika sambil tangannya meremas-remas payudara perempuan itu yang berukuran lumayan besar, 36B. Pinggulnya bergoyang-goyang mengimbangi gerakan pemuda itu.

    Sekitar 6 menit kemudian pemuda itu mengejang, ditekannya dalam-dalam pantatnya sambil melenguh dia keluar lebih dulu, sedang Tante Tika terus menggoyangkan pinggulnya. Tak lama kemudian dijepitnya tubuh pemuda itu dengan kakinya sambil tangannya mencengkeram punggung pemuda itu. Kelihatannya dia mendapat orgasme lagi
    bersamaan dengan muncratnya mani dari kemaluannya. Lalu kusudahi acaraku mengintip Tante Tika, Ibu pacarku yang penuh wibawa dan aku sangat mengagumi kecantikannya ternyata seorang *********. Ada catatan tersendiri dalam hatiku. Aku sudah melihatnya telanjang bulat, hal itu membuat terbayang-bayang terus saat dia merintih-rintih membuatku sangat bernafsu hingga timbul keinginan untuk dapat menikmati tubuhnya. Paling tidak aku sekarang punya kartu truf rahasianya.

    Acaraku dengan teman-teman berjalan lancar bahkan saat menyetubuhi cewek yang bernama Ani dan Ivone justru aku membayangkan sedang menyetubuhi Tante Tika hingga aku cepat sekali keluar. Aku hanya melakukan sekali pada Ani dan dua kali pada Ivone, sedang teman-temanku melakukan sampai pagi tak terhitung sudah berapa kali mereka mendapat orgasme. Aku sendiri jadi malas untuk bersetubuh dengan mereka karena saat ini aku malah terbayang-bayang dengan keindahan tubuh Tante Tika.

    Jam 10 malam setelah berpakaian, aku keluar dari kamar. Kubiarkan ketiga temanku mengerubuti kedua cewek itu. Kunyalakan rokok dan duduk di teras kamar, rasanya udara di Tretes sangat dingin. Kembali kutengok kamar melati no.3 dari ventilasi, kelihatan lampunya masih menyala berarti mereka belum pulang, lalu kuintip lagi dari jendela ternyata mereka sedang tidur saling berpelukan.

    Tiba-tiba aku ingat Tante Tika selalu bawa HP, aku sendiri juga kebetulan bawa tapi aku ragu apakah HP-nya diaktifkan tapi akan kucoba saja. Begitu ketemu nomernya lalu kutekan dial dan terdengar nada panggil di dalam kamar itu. Tante Tika terbangun lalu buru-buru mengangkat HP-nya, dia sempat melihat nomer yang masuk. "Haloo.. ini Donny yaaa, ada apa Dooon..?" kata Tante Tika dari dalam kamar.

    "Tante sedang di mana..?" tanyaku.
    "Lhooo.. apa kamu nggak tanya Shinta, hari ini aku kan nginap di rumah neneknya Shinta di Blitar, neneknya kan lagi sakit.." kata Tante Tika beralasan.
    "Sakit apa Tan.." tanyak berlagak pilon.
    Dia diam sejenak, "Ah nggak cuman jantungnya kambuh.. tapi sudah baikan kok, besok juga saya pulang," katanya pintar bersandiwara.
    "Memangnya kamu, ada perlu apa..?" tanya Tante Tika.
    "Maaf Tante.. tapi.. Tante jangan marah yaaa..!"

    "Sudah katakan saja aku capek nih.. kalau mau ngomong, ngomong saja.. aku janji nggak akan marah," kata Tante Tika.
    "Tante capek habis ngapain..?" tanyaku.
    "E..e.. anuu tadi mijitin Neneknya Shinta.." katanya gugup.
    "Bener Tante..? masak orang sakit jantung kok dipijitin, bukannya mijitin yang lain..?" kataku mulai berani.
    "Kamu kok nggak percaya sih... apa sih maksudmu..?"
    "Sekali lagi maaf Tante, sebenarnya saya sudah tahu semuanya..?"
    "T..tahu apa kamu?" dia mulai gelagapan.

    "Bukannya Tante sekarang berada di Tretes di Hotel **** (edited) di kamar melati no.3 bersama orang yang bukan suami Tante," kataku.
    "D..Doon, kamu dimanaaa?" katanya bingung.
    "Temui saya di belakang kamar tante, di dalam mobil Civiv Putih sekarang.. kita bisa pecahkan masalah ini tanpa ada orang yang tahu," kataku menantang.
    "B..b.baik, saya segera ke sana.. tunggu lima menit lagi," katanya lemah.
    Tak lama kemudian Tante Tika datang dengan hanya memakai piyama masuk ke mobil Roy.
    "Malem Tante," sapaku ramah.
    "Dooon tolong yaaa, kamu jangan buka rahasia ini.." katanya memohon.
    "Jangan khawatir Tante kalau sama saya pasti aman, tapiii..." aku bingung mau meneruskan.

    Aku terus membayangkan tubuh seksi Tante Tika dalam keadaan telanjang bulat sedang merintih-rintih nikmat.
    "Tapi.. apa Dooon..?, ngooomong dooong cepetan, jangan buat aku tengsin di sini.. tolong deh jaga nama baik Tante... Tante baru dua kali begini kook... itu jugaaa...
    Tante udah nggak tahaan lagiii, bener lhooo kamu mau tutup mulut.." katanya merajuk.
    "Tunggu duluu.. emang sama Om, Tante nggak Puas..?" tanyaku.
    "Sebenarnya siih, Mas Har itu udah menuhin kewajibannya.. cuman sekarang dia kan udah agak tua jadinya yaahh, kamu tahu sendiri kan gimana tenaganya kalau orang sudah tua.. makanya kamu harus maklum, kalau kebutuhan yang satu itu belum terpuaskan bisa gila sendiri aku.. kamu kan udah dewasa masalah kayak gitu harusnya udah paham, paling tidak kamu sudah tahu alasannya.. sekarang tolong Tante yaah, jaga rahasia Tante.. please!!" katanya mengiba.

    "Baik Tante, saya akan jaga rahasia ini, tapi tergantung.."
    "Tergantung apa..?
    "tergantung.. imbalannya.. trus yang buat tutup mulut apa dong, masak mulut saya dibiarin terbuka..?"
    "Kamu minta uang berapa juta besok saya kasih," balas Tante Tika agak sombong.
    "Papa saya masih bisa kok ngasih uang berapapun, Emangnya uang bisa untuk tutup mulut, lihat Tante," sambil aku keluarin uang 100
    ribuan lalu kutaruh di mulutku, kemudian uang itu jatuh ke lantai mobil.
    "Tuhh, jatuhkan uangnya." kataku sambil ketawa kecil.
    "Hihi..hi, kamu bisa aja becanda, terus kamu minta apa..?" tanya Tante Tika.
    "Hubungan pacaran saya sama Shinta kan udah lama tapi Dia cuman ngasih ciuman di pipi saja, yang lainnya nggak boleh sama mamanya, sebenarnya saya pengin ngerasain yang lainnya.." kataku.

    "Gila kamu, anakku kan masih perawan, harus bisa jaga diri dong..!"
    "Saya kan laki-laki dewasa Tante, pasti juga kepingin ngerasain gituan, gimana kalau selain ciuman dari Shinta saya belajarnya sama Tante Tika.. saja," tanyaku nakal.
    "Wah kamu semakin kurang ajar saja, mulai besok kamu nggak boleh pacaran lagi sama anakku," ancamnya serius.
    "Memangnya Tante pengin lihat berita di koran, Isteri anggota DPRD Jatim berselingkuh dengan gigolo," aku balik mengancam.
    "Ett.. jangan dong, kamu kok gitu sih, aku cuman bercanda kok, kamu boleh kok ngelanjutin hubungan kamu dengan Shinta, terus kalau mau diajarin gituan.. eee..
    Tante nggak keberatan kok, sekarang juga boleh," katanya, akhirnya dia mengalah.
    "Tante mau ML sama saya sekarang..?" tanyaku nggak percaya.
    "Udahlah, ayo ke kamar Tante tapi.. biar pemuda itu kusuruh pulang dulu," katanya sambil melangkah pergi menuju kamarnya.

    Malam itu kulihat arlojiku sudah menunjukkan jam 23:00 WIB. Kulihat seorang pemuda keluar dari kamar Tante Tika, aku segera masuk ke dalam kamar itu.
    Kulihat Tante Tika sedang duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya menghadap ke cermin.
    "Nggak usah berdandan Tante, udah cantik kok.." kataku memuji kecantikannya.
    "Emang Tante masih cantik..?" tanyanya.
    "Buat apa saya bohong, sudah lama saya mengagumi kecantikan Tante, juga tubuh Tante yang masih seksi," jawabku.
    "Benarkah kamu mengagumi Tante..?"
    "Malah saya sering ngebayangin gimana yahh rasanya ngentot sama Tante Tika, pasti enak." kataku merayunya.
    "Ya udah nggak usah dibayangin, orangnya udah ada di depan kamu kok, siap melayani kamu," katanya sambil berdiri dan berjalan ke arahku.

    Lalu dengan kasar dibukanya reitsleting celanaku dan dilepasnya celanaku ke bawah juga celana dalamku hingga sampai lutut. "Waaww... besar sekali punya kamu Don?" serunya,
    lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku yang ukuran panjangnya 15 cm tapi diameternya kira-kira 3,7 cm kemudian mengelus-elusnya dengan penuh nafsu.
    Akupun semakin bernafsu, piyamanya kutarik ke bawah dan wooww.., kedua buah dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan. "Mm... kamu sudah mulai pintar, Don. Tante mau kamu.." belum lagi kalimat Tante Tika habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan, "Cruppp..." sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya.

    "Aahh... Donny, ooohh... sedooot teruuus aahh.." tangannya semakin mengeraskan genggamannya pada batang kejantananku, celanaku sejak tadi dipelorotnya ke bawah. Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting susunya satu persatu. Tante Tika tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas Tante Tika sudah berpengalaman sekali. Batang kejantananku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.

    "Buka bajumu dulu, Don.." ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas sedotanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku dilepaskannya. Ia sejenak berdiri dan melepas piyamanya, kini aku dapat melihat tubuh Tante Tika yang bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu tegak menantang. Dan bukit diantara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangannya. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas.

    Tante Tika langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudaranya, kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalanku sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Tante Tika menyedot lidahku dengan lembut. "Uhh..." nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu.

    "Hmm... ooohh... Tante... aahh.." kegelian bercampur nikmat saat Tante Tika memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada batang kejantananku.
    Bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.
    "Hmm... pintar kamu Doon.. ooohh.." Desahan Tante Tika mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang lancip.
    "Sekarang kamu ke bawah lagi sayang.." Aku yang sudah terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Tika membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah kewanitaannya. Uhh, liang kewanitaan itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut.

    Aku ingat apa yang harus kulakukan, lidahku menjulur lalu menjilati liang kewanitaan Tante Tika. "Ooohh, yaahh... enaak, Doon, Hebat kamu Doon... ooohh..." Tante Tika mulai menjerit kecil merasakan sedotanku pada klitorisnya. Sekitar lima menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba-tiba ia menjepit kepalaku dengan keras diantara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    "Aahh... Tante nggak kuaat aahh, Doon.." teriaknya panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya yang sejak tadi bergoyang-goyang, dari liang kewanitaannya mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku. "Makasih yaa Don, kamu udah puasin Tante.. makasih Sayang. Sekarang beri Tante kesempatan bersihin badan sebentar saja," ia lalu mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi. Aku tak tahu harus berbuat apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat mendapat sentuhan tangan Tante Tika. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan air maniku ke dalam liang kewanitaannya. Ahh, aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat Tante Tika sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower.

    "Tante Tika.. ayooo cepat," teriakku tak sabar.
    "Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?" ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang kejantananku yang masih tegang.
    "Woooww... Tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Doon... ooohhmm.." ia berjongkok di hadapanku. Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan secepat kilat Tante Tika memasukkan batang kejantananku ke mulutnya.
    "Ouughh... sssttt.. nikmat Tante.. ooohh... ooohh... ahh..." geli bercampur nikmat membuatku seperti melayang. Baru kali ini punyaku masuk ke dalam alat tubuh perempuan. Ternyata, ahh...,
    lezatnya setengah mati. Batang kejantananku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Tika hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.

    "Waaouwww... punya kamu ini lho, Doon... Tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi," tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Tika seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan. Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan membuka kedua pahanya ke arah yang berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan liang kewanitaannya. Hmm.. kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan cepat kutindih tubuhnya, kumasukkan batang kejantananku ke dalam lubang kemaluannya. "Sleeepp..." agak susah juga karena kemaluannya lumayan sempit tapi kemudian amblas juga seluruhnya hingga sampai dasar rahim, lalu kupompa naik turun. "Hmm... ooohh.." Tante Tika kini mengikuti gerakanku. Pinggulnya seperti berdansa ke kiri kanan. Liang kewanitaannya bertambah licin saja.

    Batang kejantananku kian lama kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu pangkal pahaku. "Plak.. plak.. plak.. plak.." aduh nikmatnya perempuan setengah baya ini. Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Tika yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang kesana kemari, mengundang bibirku beraksi.

    "Ooohh Sayang, kamu buas sekali. Hmm... Tante suka yang begini, ooohh... genjot terus.." katanya menggelinjang hebat.
    "Uuuhh... Tante, nikmat Tante.. hmm Tante cantik sekali ooohh.."
    "Kamu senang sekali susu tante yah? ooohh.. sedooot teruuus susu tanteee aahh... panjang sekali peler kamu.. ooohh, Dooony... aahh.." Jeritannya semakin keras
    dan panjang, denyutan liang kewanitaannya semakin terasa menjepit batang kejantananku yang semakin terasa keras dan tegang.
    "Doon..?" dengusannya turun naik.
    "Kenapa.. Tante..."
    "Kamu bener-bener hebat Sayang... ooowwww... uuuhh.. Tan.. Tante.. mau keluar hampiiirr.. aahh..." gerakan pinggulnya yang liar
    itu semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami bersetubuh.

    "Ooohh memang enaak Tante, ooohh... Tante ooohh... tante Tika, ooohh... nikmat sekali Tante, ooohh.." Tak kuhiraukan tubuh Tante Tika yang menegang keras, kuku-kuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang asyik turun naik itu, "Aahh... Doon.. Tante ke..luaarrr laagiii... aahh.." liang senggama Tante Tika terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batang kejantananku dan ia menggigit pundakku sampai kemerahan. Kepala batang kejantananku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya.

    Sesaat kemudian ia lemas lagi. Batang kejantananku masih menancap setia di liang kemaluan Tante Tika. "Sekarang Tante mau puasin kamu, kasih Tante yang di atas ya, Sayang... mmhh, pintar kamu Sayang.." Posisi kami berbalik. Kini Tante Tika menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang kejantananku yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya dan terasa lebih masuk. Tante Tika mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan semakin menantang dalam posisi ini, aku segera meremasnya.

    Tante Tika berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana batang kejantananku keluar masuk liang senggamanya yang terlihat penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat kencang. "Ooohh enaak Tante... oooh Tante.. oooh Tante Tika... oooh Tante... hmm, enaak sekali... ooohh.." kedua buah payudaranya seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Tante Tika. "Remas yang mesra dong susu Tante sayang, ooohh... yaahh.. pintar kamu... ooohh... Tante nggak percaya kamu bisa seperti ini, ooohh... pintar kamu Doon ooohh... ganjal kepalamu dengan bantal ini sayang," Tante Tika meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya padaku.

    "Maksud Tante supaya saya bisa... srup.. srup.." mulutku menerkam puting susunya. "Yaahh.. sedot susu Tante lagi sayang... hmm.. yak begitu teruuus yang kiri sayang ooohh.." Tante Tika menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Cairan mani Tante Tika yang meluber membasahi dinding kemaluannya. Akhirnya dia menjerit panjang, "Ouuhhhgg.. Tante keluuuaaar, lagiii," erangnya.
    Aku yang belum puas memintanya untuk menungging. Tante Tika menuruti perintahku, menungging tepat di depanku yang masih terduduk. Hmm.., lezatnya pantat Tante Tika yang besar dan belahan bibir kewanitaannya yang memerah, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan batang kejantananku dari belakang. Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih buah dada besarnya. "Ooohh... nggg.. Kamu hebaat Donn... ooohh, genjot yang cepat Sayang, ooohh...

    Tambah cepat lagi... uuuhh.." desah Tante Tika tak beraturan. "Ooohh Tante... Taan..teee... ooohh... nikmat Tante Tika.." Kepalanya menggeleng keras kesana kemari, kurasa Tante Tika sedang berusaha menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannya pun makin ngawur.
    "Ooohh... jangan lama-lama lagi Sayang, Tante mau keluar lagi oooh.." rintihnya. Lalu aku mempercepat gerakanku hingga bunyinya kecepak-kecepok akibat banyaknya cairan mani Tante Tika yang sudah keluar, lalu aku merasa ada sesuatu yang mau keluar.

    "Aahh Tante... uuuhh... nikmat sekali, ooohh... Tante sekarang.. Tante Tika, ooohh... saya nggak tahan tanteee... enaak... ooohh.." ceracauku tak beraturan. "Tante juga Doon... ohhh... Doonny sayaanggg, ooohh... keluaar samaan sayaang, oooh.."
    Kami berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar dan, "Croot... crott... croott... croottt.." entah berapa kali batang kejantananku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim Tante Tika yang tampak juga mengalami hal yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras. Tangan Tante Tika meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri. Matanya terpejam seperti merasakan sensasi yang sangat hebat.

    Sejak itu hubunganku dengan Tante Tika bertambah mesra tidak jarang kami mengadakan perjanjian untuk saling ketemu atau saat dia menyuruhku mengantarkannya ke arisan tapi malah dibelokkan ke rumahnya yang satu di daerah perumahan elit yang sepi, sedang aku sama Shinta tetap pacaran tapi perselingkuhanku dengan mamanya tetap kujaga rahasianya.
    Suatu hari aku ke rumah Shinta sepulang sekolah, ternyata Shinta sedang les. Sedangkan ayahnya ada meeting 2 hari di Malang. Karena sudah terbiasa, setelah masuk ke rumah dan kelihatannya sepi, saat bertemu Tante Tika aku langsung memeluknya dari belakang.

    "Mumpung sepi Tante, saya sudah kangen sama Tante.." kataku sambil menciumi leher dan cuping telinga Tante Tika.
    "Jangan di sini Sayang, ke kamar tante saja.." katanya sambil mengandengku masuk ke kamar, aku seperti kerbau yang di cocok hidungnya, hanya menurut saja.
    Setibanya di dalam kamar tanpa ba-bi-bu kami saling berpelukan dan kulumat bibirnya. Nafasnya terengah-engah. Kancing dasternya kubuka satu-persatu hingga semuanya lepas lalu kutarik ke bawah, sedang Tante Tika juga sudah melepas kemejaku, tangannya kini sibuk membuka reitsleting celanaku, aku membantunya. Setelah celanaku lepas lalu dia buang di lantai.

    Aku diam sejenak, kupandangi tubuh Tante Tika yang hanya memakai BH warna putih dan celana dalam yang juga putih. Lalu tali pengikat BH-nya kulepas, maka tersembullah buah dada Tante Tika yang montok dan menantang itu.
    Kemudian tanganku ganti memelorotkan celana dalam Tante Tika. Kini dia sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus memancarkan keindahan alami, aku jadi semakin bernafsu.

    Sesaat kemudian Tante Tika jongkok di hadapanku dan dengan sekali tarik celana dalamku dilepaskannya ke bawah, dengan kakiku CD-ku kulempar ke bawah ranjang Tante Tika.
    Lalu kami saling menatap, bibirnya didekatkan dengan bibirku,
    tanpa buang waktu kupagut bibir yang merah merekah kami saling mengulum, terasa hangat sekali bibir Tante Tika. Tanganku mulai bergerilya di dadanya, gundukan montok itu semakin lama semakin kencang dan putingnya terasa mengeras karena permainan tanganku.
    Kemaluanku tak luput dari tangan hangat Tante Tika yang begitu bernafsu ingin menguasai keperkasaan kejantananku. Tangan lentik itu kini mengocok dan meremas otot kejantananku. Aku semakin tak tahan, lalu aku melepas pelukannya, nafas kami sama-sama ngos-ngosan. Kulihat matanya memerah seperti banteng yang marah, dadanya naik turun inikah yang namanya sedang birahi. Lalu tubuh telanjang Tante Tika kubopong dan kubaringkan terlentang di atas ranjang, dia menekukkan lututnya dan kedua pahanya direnggangkan. Melihat pemandangan liang senggamanya yang sudah basah dan merah merekah, aku jadi semakin tidak sabar.

    Lalu kembali semua bagian dari liang kewanitaannya menjadi daerah operasi lidahku. Klirotisnya terlihat mengkilat karena banyaknya cairan yang membasahi liang senggamanya. Tiba-tiba aku dikagetkan saat secara refleks aku melihat ke pintu. Memang pintu itu hanya di tutup kain gorden sedang daun pintunya tidak kami tutup. Kain gorden itu tersingkap sedikit dan terlihat sepasang mata mengintip perbuatan kami. Aku sempat deg-degan, jangan-jangan Om Har, kalau benar mati aku. Lalu saat gorden itu tertiup angin dari jendela samping aku baru tahu kalau ternyata yang berdiri di balik pintu adalah Tante Merry, adik Tante Tika. Aku jadi lega, paling tidak dia bukan suami Tante Tika ataupun pacarku Shinta.

    Aku meneruskan permainanku dengan harapan semoga Tante Merry bisa melihat bagaimana aku bisa memuaskan kakaknya. Harapanku mendekati kenyataan, ternyata mata itu terus mengawasi permainan kami bahkan saat batang kejantananku hendak masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Tika, aku sempat mendengar Tante Merry menahan nafas. Kembali kugenjot liang kewanitaan itu hingga yang punya mengejang sambil mulutnya keluar erangan dan rintihan yang seperti mungkin pembaca pernah melihat Film Blue versi mandarin saat si cewek digenjot lawan mainnya.

    Aku sendiri semakin tambah bernafsu mendengar rintihan kecil Tante Tika karena suaranya merangsang sekali. Paling tidak 20 menit lamanya aku bisa bertahan dan akhirnya jebol juga pertahananku. "Ccrooot.. croot... crooot.." cairanku banyak yang masuk ke dalam rahim Tante Tika, sedang sebelum itu Tante Tika juga sudah keluar dan setelah aku hampir selesai mengejang dan mengeluarkan spermaku, giliran Tante Tika mengejang yang kedua kalinya. Lalu tubuhku ambruk di samping Tubuh indah Tante Tika. Kulihat mata Tante Tika terpejam sambil tersenyum puas.

    Lalu aku pamit mau ke kamar mandi. Sebenarnya aku hanya ingin menemuai Tante Merry tapi saat kucari dia sudah tidak di belakang gorden lagi. Lalu kucari di kamarnya. Kulihat pintu kamar terbuka sedikit lalu kutengok, ternyata kamarnya kosong. Akhirnya kuputuskan ke kamar mandi karena aku memang mau kencing, dengan tergesa-gesa aku berlari ke kamar mandi, kulihat pintu kamar mandi tidak tertutup. Saat aku di depan pintu, aku samar-samar mendengar bunyi air yang dipancurkan berarti ada yang mandi shower.

    "Ohh... my God.." saat itu terpampang tubuh molek Tante Merry sedang mandi di pancuran
    sambil mendesah-desah, dia menggosok tubuhnya membelakangi pintu. Terlihat bagian pantatnya yang padat dan seksi, karena suara air begitu deras mungkin Tante Merry tidak mendengar saat aku melebarkan pintunya. Dari luar aku memandangnya lebih leluasa, tangannya sedang menggosok buah dadanya dan kadang buah dadanya yang berukuran 36C itu diremasnya sendiri, aku ikut terhanyut melihat keadaan itu.

    Saat dia membalikkan badan, kulihat dia mendesis sambil matanya terpejam seperti sedang membayangkan sesuatu yang sedang dialaminya. Waaouuw..., dari depan aku semakin jelas melihat keindahan tubuh Tante Merry. Buah dadanya yang sedang diremas tangannya sendiri kelihatan masih tegak menantang bulat sekal dengan puting yang mencuat runcing di tengahnya, mungkin karena dia belum pernah menyusui bayi maka kelihatan seperti buah dada seorang perawan, masih segar. Aku sempat terperangah karena berbeda sekali dengan kepunyaan Tante Tika yang sudah agak menggantung sedikit tapi ukurannya lebih kecil sedikit.

    Lalu pandanganku semakin turun, kulihat hutan rimbun di bawah perutnya sudah basah oleh air, kelihatan tersisir rapi dan di bawahnya sedikit daging kecil itu begitu menonjol dan lubangnya lebih kecil dari lubang milik Tante Tika.
    Tak lama kemudian tangannya meluncur ke bawah dan menggosok bagian demi bagian. Saat tangan mungilnya digosokkan pada klirotisnya, kakinya ikut direnggangkan, pantatnya naik turun. Aku baru menyadari bahwa kemaluanku sudah tegak berdiri malah sudah keluar cairan sedikit. Aku semakin tak tahan, aku lalu main spekulasi aku harus bisa menundukkan Tante Merry paling tidak selama ini dia merasa kesepian, selama dua bulan terakhir ini dirinya tidak disentuh laki-laki berarti dia sangat butuh kepuasan batin.

    Satu persatu pakaianku kulepas hingga telanjang bulat, burungku yang sudah berdiri tegak seperti tugu monas ini sudah tidak sabar ingin mencari sarangnya. Lalu diam-diam aku masuk ke kamar mandi dan aku memeluk Tante Merry dari belakang, tanganku ikut meremas buah dadanya dan kuciumi tengkuknya dari belakang. Tante Merry kaget, "Haii.. apa-apaan kamu Doonny!" bentaknya sambil berusaha melepaskan pelukanku. Aku tidak menyerah, terus berusaha.

    "Doonnn.. Lepaaskaan Tanteee.. Jangaaan.." Dia terus berontak.
    "Tenang Tante.. saya cuma ingin membantu Tante, melepaskan kesepian Tante," aku terus menciuminya sedang tanganku yang satunya bergerilya ke bawah, kugantikan tangannya yang tadi menggosok liang kewanitaannya sendiri. Bibir kemaluannya kuremas dan kuusap-usap pelan.
    "Tapi Dooon, Ouhhhg.. Aku kaaan.. ssshah.." dia sepertinya juga sudah menikmati permainanku.
    "Sudah berapa lama Tante mengintip kami tadi... Tante kesepian.. Tante butuh kepuasan... saya akan memuaskan Tante... nikmati saja," aku terus mencumbunya.
    "Ouuuugh.. Ahhh.. Jangaaannn Oohhh.." dia terus melarang tapi sesaat kemudian dia membalikkan badan.

    "Doonn, puaskan dahaga Tante.." katanya sambil melumat bibirku, kini dia begitu agresif, aku ganti kewalahan dan berusaha mengimbanginya, tanganku meremas kedua buah dada Tante Merry.
    "Hmm kamu hebaaat... sayaaang," tanpa sadar keluar ucapan itu dari mulutnya.
    Selama 25 menit kami saling mencumbu, saling meremas dalam keadaan berdiri hingga...
    "Ahhh... Dooon, cukuuuup Doon.. lakukanlah, aku sudah tidaaak tahaaan.. Ohhhh.." rintihnya.

    Lalu kudorong tubuh Tante Merry menepi ke dinding, kurenggangkan kakinya. Sesaat kulihat bibir kemaluannya ikut membuka lebar, klitorisnya terlihat meriang memerah dan sudah banyak cairan yang membasahi dinding kewanitaannya. Lalu kuletakkan batang kejantananku yang sudah mengeras itu di bibir kemaluan Tante Merry, pelan-pelan kumasukkan. "Uhh.. sss, pelaan sayang, punyamu terlalu besar," jeritnya kecil.

    Memang kelihatannya liang kewanitaan yang satu ini masih sempit mungkin jarang dipakai. Perlahan batang kejantananku mulai masuk lebih dalam hingga akhirnya amblas seluruhnya.
    "Aouuuww.." Tante Merry menjerit lagi mungkin dia belum terbiasa dengan batang kejantanan yang berukuran besar. Setelah keadaan agak rileks, aku mulai menggerakkan batang kejantananku maju mundur.
    "Oohhh.. teruskaaan Sayaaang.. gendoong aku," katanya sambil menaikkan kakinya dan dijepitkan di pinggangku. Saat itu batang kejantananku seperti dijepit oleh dinding kewanitaannya tapi justru gesekannya semakin terasa nikmat.
    Tante Merry terus melakukan goyang pinggulnya.
    "Ohhh.. ennaaak Tanteee.." aku semakin terangsang.

    "Tantee jugaaa nikmaaaat.. Doon, punya kamu nikmaat banget.. Ohhh, rasanya lebih nikmat dari punya suamikuu.. Ahhh.. Uhhh.. Tusuk yang lebih keras sayang." desis Tante Merry.
    "Aaahhh... Aaagh.. Ohhh.. Sshhh.." Tante Merry merintih tak karuan dan gerakan pinggulnya semakin tak beraturan.
    "Doon, Ohhh.. genjooot teruuss.." dia setengah menjerit, "Don, masukin yang dalam, yachhh.."
    "Enaaak Tante, mmhhh.." aku merasakan sukmaku seperti terbang ke awan, liang kewanitaan perempuan ini nikmat betul sih, sayang suaminya kurang bisa memuaskannya.
    "Ouuuhhh, Dooon.. Tanteee.. Mauuu Keeel.. Aaahhh..." dia menjerit sambil menekankan pantatnya lebih dalam. "Seerrr.." terasa cairan hangat membasahi batang kejantananku di dalam rahimnya. Tapi aku terus memacu gerakanku hingga aku sendiri merasakan mau mencapai orgasme.

    "Tantee.. dikeluarkan di dalam apa di luar," aku masih sempat bertanya.
    "Di dalam sajaa, berii aku bibitmu sayang," pintanya.
    Tak lama kemudian aku merasakan ada dorongan dari dalam yang keluar, "Crrooott.. crrooott.. crooottt.." cairan maniku langsung memenuhi rahim Tante Merry, lama kami berpelukan kencang hingga akhirnya aku merasa kakiku lemas sekali, tapi aku terus mencumbu bibirnya.
    "Terima kasih Doon, kamu telah menghilangkan dahagaku," kata Tante Merry.
    "Tante, boleh nggak kapan-kapan saya minta lagi sama Tante, tapi sekarang Shinta mau datang dari les, kita sudahi dulu yaa.." tanyaku.
    "Aku yang harusnya meminta, masak cuma Kak Tika yang kamu puasi, sedangkan aku nggaak, tadi aku ngiri deh sama kakakku bisa ngedapatin kepuasan dari pemuda gagah seperti kamu," jawabnya.

    "Baiklah, nanti kita bertiga akan rundingkan, saya yakin dia akan mengerti kok, dan bisa memberi kesempatan sama adiknya sendiri, yang penting kita bisa menjaga rahasia ini, ya nggak.." tanyaku.
    "Benar Sayang, terserah kamu asal kamu mau ngasih aku jatah.. aku sudah puas, kok.." jawabnya.
    Kemudian kami sudah mengenakan pakaian kami masing-masing dan keluar dari kamar mandi. Kulihat ke kamar Tante Tika, dia masih tertidur, lalu kubangunkan.
    "Tante banguun, cepatlah berpakaian.. nanti Shinta curiga kalo Tante masih telanjang begini," kemudian Tante Tika gelagapan sendiri terus bangun.
    "Hahh, hampir jam lima.. Ya ampuun, Tante tertidur yaa, kamu tadi ke mana kok ninggalin Tante?" tanya Tante Tika.

    "Sudahlah, Tante berpakaian dulu nanti saya ceritakan, sekarang saya tunggu di ruang tamu," kataku sambil ngeloyor ke ruang tamu. Di sana Tante Merry sudah menungguku, dia masih menyisir rambutnya yang masih basah. Tak lama kemudian Tante Tika muncul ke ruang tamu.
    "Ehh kamuu Mer, sudah lama datangnya," tanya Tante Tika sambil duduk di hadapanku.
    "Wah sudah hampir 2 jam yang lalu, Mbak sih di kamar terus jadi nggak tahu kalau saya sudah datang, mana pintu depan nggak dikunci lagi, gimana tadi kalau ada Shinta yang datang trus nyari Mamahnya, dan melihat Mamahnya kayak tadi, wah bisa terjadi perang dunia ketiga," katanya santai.

    Tante Tika wajahnya kelihatan pucat, "Jadiii, Kamu sudaaah.."
    "Santai saja Mbaak, saya bisa ngerti kok, rahasia aman," kata Tante Merry.
    "Iya Tante, kita sudah kompakan kok," sahutku, "Tapi misalkan Tante Tika berbagi dengan Tante Merry gimana?"
    "Gini lhoo Mbak, masak cuma Mbak yang dipuaskan, saya kan juga kesepian, boleh dong kita berbagi kejantanan Donny. Saya akui dia hebat Mbak, bisa memuaskan saya," katanya sambil mengerlingkan matanya ke arahku.
    "Ohhh.. jadi kalian juga sudah.." tanya Tante Tika.
    "Benar Tante, sekarang kami sudah terus terang, sekarang tergantung Tante, boleh nggak saya juga main dengan Tante Merry, kasihan kan suaminya jarang pulang dia juga butuh kepuasan seperti Tante."

    "Yahh mau gimana lagi.. aku bisa ngerti kok sama Adikku, asal si Donny bisa bersikap adil aku nggak keberatan."
    Itulah kisahku dengan Ibu pacarku dan Tantenya, hubunganku dengan Shinta terus berlanjut dan perselingkuhanku dengan Mama dan Tantenya juga nggak berhenti, hingga 1 tahun kemudian Tante Merry melahirkan anaknya. Saat aku dan Shinta membesuknya di persalinan, kulihat Om Nanto sedang ngobrol dengan Tante Tika. "Mari silakan masuk.." Om Nanto kelihatan gembira menyambut kelahiran anaknya.

    Kulihat Tante Merry tersenyum pada kami, saat Shinta menghampiri box bayi yang jaraknya tidak begitu jauh dari ranjang ibunya. Tante Merry memanggilku dengan isyarat tangan. Dengan setengah berbisik dia berkata, "Lihat anakmu sangat tampan dan gagah Sayang, seperti kamu," katanya kepadaku. Aku tersenyum penuh arti.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 06/15/11--08:15: Gara Gara Ayam Goreng
  • Cerita Dewasa - Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.

    “Tante..?”
    “Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”
    “Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?”
    “Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”
    “Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.
    “Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”
    “Terserah Tante aja dech..”
    “Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?”
    “Mari saya bantu Tante.”

    Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
    “Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”
    “Ya Tante..” jawabku.

    Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus.

    Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
    “Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”
    “Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur.

    Setelah sampai di pintu dapur.
    “Ada apa Tante?” tanyaku.
    “E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?”
    “Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
    “Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.
    “Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.
    “Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..”
    Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.

    “Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
    “Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya.
    “Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
    “Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”
    “Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.
    “Sama-sama Tante..” kataku.
    “Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.
    “Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.

    Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Sari yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku. Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Sari tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Sari mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi, mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali.

    Tante Sari tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya. Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Sari meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Beberapa saat kemudian..
    “Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.
    “Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan..
    “Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?”
    “Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu.
    “Dik Sony.. burungnya bangun ya?”
    “Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..”
    “Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..”
    “Dik Sony pernah ngesex belum?”
    “Eee.. belum Tante..”
    “Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..”
    “Akhh.. Tante jadi malu, Sony.”

    Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan.
    “Dik Sony, burungnya masih bangun ya?”
    Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.
    “Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.

    “Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.
    “Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding.

    Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.

    “Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!”
    Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya.

    “Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya.
    “Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

    Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.
    “Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?”
    “Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya.
    “Aoghh..” teriak Tante Sari.
    “Kenapa Tante..?” tanyaku kaget.
    “Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..”
    Aku masukkan kepala penisku di vaginanya.
    “Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?”
    ” Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..”
    Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.

    “Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari.

    Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku.
    “Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek.
    “Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Sari.
    “Dik Sony udah mau keluar ya?”
    Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

    “Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..”
    Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari.
    “Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?”
    “Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Sari.
    Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..”

    “Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..”
    Aku kembali mangenakan CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai.
    “Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.
    “Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Sari sambil tersenyum genit.
    Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 06/20/11--23:24: Cerita Kak Zah
  • Cerita Dewasa - Masa tu umur Kak Zah dah 32 tahun dan dah ada 2 orang anak. Suami Kak Zah kena posting ke Bosnia selama enam bulan. Peristiwa yang akan Kak Zah ceritakan ni berlaku semasa suami Kak Zah berada di Bosnia. Peristiwa yang Kak Zah ceritakan nanti bukannya dirancang, tetapi ianya terjadi dengan secara sepontan.

    Malam tu agak panas dari biasa sebab dah lama tak hujan jadi Kak Zah duduk kat luar rumah untuk ambil angin, lagi pun kedua anak Kak Zah dah tidur. Semasa Kak Zah duduk tu, tetiba Abang Hashim, jiran sebelah rumah Kak Zah tegur. Dari situ kami berbual-bual sebab Abang Hashim kata dia pun tak boleh tidur sebab panas, lagi pun dia tinggal sorang kat rumah. Isteri Abang Hashim pulang bercuti ke kampung dan Abang Hashim akan ikut pulang pada hujung minggu.

    Setelah agak lama berbual, Kak Zah jemput Abang Hashim masuk untuk minum kopi tanpa ada apa-apa niat. Semasa Kak Zah sedang tunggu air yang Kak Zah jerang tu mendidih, tetiba Abang Hashim datang dan memeluk Kak Zah dari belakang. Kak Zah cuba untuk melepaskan pelukan Abang Hashim tapi tak berjaya. Masa dipeluk tu Abang Hashim beritahu Kak Zah yang dia memang dah lama menyukai Kak Zah dan dia ingin bersama Kak Zah pada malam tu. Penjelasan Abang Hashim tu membuat Kak Zah panik.

    Belum sempat Kak Zah berbuat apa-apa, tetiba tengkuk Kak Zah dah kena kucup dan dicium. Terasa geli jugak sebab Abang Hashim tu ada jambang dan misai. Kak Zah pulak memang lemah kalau kena cium dan kucup kat pangkal tengkuk, meremang bulu roma Kak Zah. Disebabkan oleh kucupan dan ciuman Abang Hashim tu membuat badan Kak Zah menjadi hangat dan Kak Zah mengeliat sedikit. Pelukan Abang Hashim menjadi longgar. Kak Zah sangka Abang Hashim dah nak lepaskan badan Kak Zah, tapi rupa-rupanya tangan Abang Hashim beralih ke buah dada Kak Zah.

    "Abang?.janganla?Zah tak nak", kata Kak Zah perlahan. Pada masa tu buah dada Kak Zah dah mula diramas-ramas perlahan oleh Abang Hashim dan Kak Zah pun dah mula rasa seronok. Abang Hashim buat tak dengar dengan kata-kata Kak Zah. Buah dada Kak Zah terus diramas sementara bibirnya masih melekat di pangkal tengkuk Kak Zah.

    Badan Kak Zah yang sudah hampir 3 bulan tidak disentuhi lelaki mula memberi reaksi sendiri. Buah dada Kak Zah masa tu dah tegang dan nafas pun dah rasa sesak. Tangan Abang Hashim dah beralih dari buah dada ke perut Kak Zah. Perut Kak Zah diusap-usap dan perlahan-lahan tangan Abang Hashim turun hingga ke bahagian kangkang Kak Zah. Telapak tangan Abang Hashim mencekup cipap Kak Zah yang tembam. Daging cipap Kak Zah ditekan-tekan membuatkan Kak Zah menonggekkan sedikit punggung Kak Zah. Masa tu Kak Zah rasa batang Abang Hashim mencucuk lurah punggung Kak Zah.

    "Zahhhh", bisik Abang Hashim sambil menyelak baju tidur kelawar Kak Zah. Punggung Kak Zah terdedah kerana Kak Zah memang tidak memakai seluar dalam. Tangan Abang Hashim terus melekap ke daging punggung Kak Zah membuatkan punggung Kak Zah terangkat sedikit menahan kesedapan akibat diramas-ramas.

    Kemudian Kak Zah rasai tangan Abang Hashim beralih ke cipap Kak Zah. Alur cipap Kak Zah digosok-gosok. Kak Zah mengangkang sedikit lalu jari Abang Hashim berjaya menemui mutiara nikmat Kak Zah.

    "Banggg?abanggg?.uhhh..uhhh?emmpphhh", rintih Kak Zah bila mutiara Kak Zah digentel dan digosok sehingga alur cipap Kak Zah mulai berair. Abang Hashim terus menyerang alur cipap Kak Zah dengan jari-jemarinya sehingga lecak alur cipap Kak Zah.

    Beberapa ketika kemudian, setelah alur cipap Kak Zah betul-betul berair Kak Zah dapati tangan Abang Hashim telah memegang pinggang Kak Zah dan batangnya yang keras sedang menekan lurah punggung Kak Zah. Dengan pengalaman yang ada Kak Zah tahu yang Abang Hashim mahu memasukkan batangnya ke dalam lubang cipap Kak Zah lalu Kak Zah membongkokkan badan Kak Zah dengan menopangkan tangan Kak Zah ke birai meja makan.

    Kepala batang Abang Hashim menekan pintu lubang cipap Kak Zah lalu Kak Zah meletakkan sebelah kaki Kak Zah ke atas kerusi. Bibir cipap Kak Zah merekah lantas kepala batang Abang Hashim merodok ke dalam lubang cipap Kak Zah. Huh?rasa gelap dunia sekejap masa tu. Kemudian sedikit demi sedikit batang Abang Hashim masuk ke dalam lubang cipap Kak Zah.

    "Zahhhh?.ketatnya", bisik Abang Hashim setelah hampir keseluruhan batangnya terbenam ke dalam lubang cipap Kak Zah. Tercungap-cungap jugak Kak Zah dibuatnya. Batang Abang Hashim lebih kurang sama aje besarnya dengan batang suami Kak Zah tapi batang Abang Hashim lebih panjang. Tu yang buat Kak Zah rasa macam senak aje.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Abang Hashim membiarkan batangnya terbenam di dalam lubang cipap Kak Zah buat beberapa ketika. Berdenyut-denyut Kak Zah rasa batang Abang Hashim. Abang Hashim memegang pinggang Kak Zah lantas dia menarik batangnya keluar, dan kemudian dimasukkan balik dengan perlahan-lahan. Kak Zah boleh rasa batangnya masuk sedikit demi sedikit, membuat Kak Zah rasa sedap yang amat sangat. Setelah masuk hampir keseluruhan, Abang Hashim akan menarik keluar batangnya dengan cepat. Abang Hashim mengulanginya untuk beberapa kali. Kemudian dia menukar temponya. Kali ini Abang Hashim memasukkan batangnya dengan laju dan menarik kelaur perlahan-lahan.

    Masa tu Kak Zah dah rasa sedap dan nikmat yang amat sangat dan dah tak ingat apa yang Kak Zah katakan atau renggekkan. Yang Kak Zah ingat, setelah beberapa lama lubang cipap Kak Zah dirodok dan dijolok oleh batang Abang Hashim, Kak Zah mulai merasa nak terkencing iaitu tanda yang Kak Zah sudah hampir klimaks. Beberapa kali ditojah-tojah oleh batang Abang Hashim, badan Kak Zah mulai bergetar dan beberapa ketika kemudian terus menjadi kejang dan brussssss??.. berpinar-pinar mata Kak Zah bila mencapai klimaks yang sungguh nikmat rasanya. Pangkal peha Kak Zah berlendir dan Kak Zah tercungap-cungap kepenatan.

    Abang Hashim mencabut batangnya yang masih keras keluar dari lubang cipap Kak Zah. Dia memeluk Kak Zah erat dari belakang. Kemudian dia membawa Kak Zah duduk ke atas lantai kerana kaki Kak Zah pun dah tak larat masa tu. Abang Hashim membaringkan Kak Zah dan kemudian kedua belah kaki Kak Zah dibukanya. Abang Hashim menolak kedua belah kaki Kak Zah ke atas sehingga lutut Kak Zah bertemu dengan buah dada Kak Zah.

    Sambil tersenyum Abang Hashim menekan batangnya ke dalam lubang cipap Kak Zah yang masih berair. Sekali lagi lubang cipap Kak Zah menjadi sasaran batang Abang Hashim dan kali ini rasanya lebih sedap kerana mutiara Kak Zah bergesel-gesel dengan bulu-bulu kasar Abang Hashim dan tambahan pula, dengan kedudukan begitu seluruh batang Abang Hashim dapat meneroka jauh ke dalam lubang cipap Kak Zah.

    Setelah agak lama ditojah dan dirodok Kak Zah mulai merasa tanda-tanda untuk klimaks. Tempo Abang Hashim juga semakin laju yang menandakan dia juga mahu klimaks. Abang Hashim menjadi semakin ganas, menghempap punggung Kak Zah. Keganasan Abang Hashim membuatkan Kak Zah semakin hampir untuk klimaks. Beberapa ketika kemudian Kak Zah memeluk badan Abang Hashim dengan erat. Abang Hashim juga memeluk badan Kak Zah. Dia mendengus-dengus dan crutttttttt?crutttttt??..air mani Abang Hashim menembak rahim Kak Zah dan pada masa yang sama?.brusssssss?.Kak Zah pun klimaks buat kali yang kedua.

    Setelah reda pernafasan kami, Abang Hashim bangun dan mengenakan kain pelikatnya. Kak Zah membetulkan baju tidur kelawar Kak Zah sebelum turut bangun. Abang Hashim mencium pipi Kak Zah lalu Kak Zah memaut bahunya. "Abang nak balik?" Tanya Kak Zah. Abang Hashim angguk. "Tidur sinila??", pelawa Kak Zah sambi tersenyum. Abang Hashim memeluk pinggang Kak Zah dan kami berjalan berpimpinan tangan menuju ke bilik tidur.

    Sebaik saja berada di dalam bilek tidur Abang Hashim terus merangkul badan Kak Zah. Kami berpelukan dan kemudian bibir Abang Hashim mencari bibir Kak Zah. Kami berkucup-kucupan sambil berpeluk-pelukan. Abang Hashim merebahkan Kak Zah ke atas katil. Kaki Kak Zah dikucup-kucupnya, bermula dari betis sehingga ke peha. Perbuatan Abang Hashim membuat Kak Zah rasa geli dan kegelian itu menyerap ke cipap Kak Zah. Punggung Kak Zah terangkat-angkat apabila pangkal peha Kak Zah menerima serangan bibir dan lidah Abang Hashim. Harapan Kak Zah agar cipap Kak Zah mendapat layanan dari mulut dan lidah Abang Hashim hampa kerana Abang Hashim terus saja mencium dan mengucup perut Kak Zah pula.

    Sewaktu mencium-cium perut Kak Zah, Abang Hashim menolak baju tidur kelawar Kak Zah ke atas. Coli Kak Zah juga ditolaknya ke atas. Buah dada Kak Zah diramas-ramas perlahan membuat Kak Zah mengeliat kesedapan. Sesekali Abang Hashim memicit muncung buah dada Kak Zah. Puting Kak Zah masa tu dah tegang dan beberapa ketika kemudian mulut Abang Hashim pun sampai ke muncung buah dada Kak Zah. Kak Zah mengeliat sambil mengeluh dan merintih kecil bila puting dan buah dada Kak Zah diuli, diramas dan dinyonyot dengan rakus. Tindakan Abang Hashim membuatkan buah dada Kak Zah menjadi tegang dan keras. Nafas Kak Zah masa tu sesak kerana dah betul-betul stim. Kak Zah lalu merebahkan Abang Hashim. Kain pelikat Abang Hashim terurai lalu koneknya yang separuh tegang Kak Zah pegang dan Kak Zah urut-urut dari pangkal hingga ke kepala.


    Sambil mengurut-urut koneknya, Kak Zah mencium dan mengucup dada Abang Hashim. Kemudian lidah dan bibir Kak Zah menjalar hingga ke perutnya. Tindakan Kak Zah membuatkan konek Abang Hashim menjadi tegang dan keras serta berdenyut-denyut. Kak Zah memandang Abang Hashim sambil tersenyum manja. Perlahan-lahan Kak Zah mengucup kepala konek Abang Hashim beberapa kali. Abang Hashim mengeluh kecil.

    "Ndak lagi?" Tanya Kak Zah sambil tersenyum. Abang Hashim angguk. Kak Zah memusingkan badan Kak Zah sehingga cipap Kak Zah hampir dengan muka Abang Hashim. "Kalau ndak?kita sama-sama", kata Kak Zah lalu kepala konek Abang Hashim Kak Zah jilat beberapa kali sebelum Kak Zah mencelapak muka Abang Hashim. Kak Zah baru saja mengulum kepala konek Abang Hashim bila Kak Zah rasai cipap Kak Zah sudah mulai dijilat dan dicium oleh Abang Hashim.

    Nikmatnya tidak dapat Kak Zah bayangkan dengan perkataan bila alur cipap Kak Zah dijilat-jilat oleh lidah yang hangat, basah dan lembut. Kesedapan yang Kak Zah rasai membuatkan Kak Zah semakin ganas mengerjakan konek Abang Hashim.

    Habis batang dan kepala koneknya Kak Zah hisap dan kulum. Kak Zah tidak lupa untuk menjilat dan menghisap buah Abang Hashim yang membuat konek Abang Hashim makin kuat berdenyut. Setelah agak lama juga Kak Zah menghisap konek Abang Hashim dan Abang Hashim menjilat cipap Kak Zah, tanda untuk klimaks mulai menyerang badan Kak Zah. Cipap Kak Zah yang sudah lenjun Kak Zah tekankan ke muka Abang Hashim dan beberapa detik kemudian?..zrusssssss??habis basah muka Abang Hashim dengan cairan kenikmatan yang keluar dari cipap Kak Zah.

    Abang Hashim lalu membaringkan Kak Zah yang masih tercungap-cungap. Dia mencelapak di atas dada Kak Zah dan kemudian meletakkan koneknya di antara kedua belah buah dada Kak Zah. Abang Hashim mengepit koneknya dengan buah dada Kak Zah dan dia mulai mengesel-geselkan koneknya ke depan dan belakang.

    "Emmm?Zahhh?abang nak pancut kat tetek Zah", kata Abang Hashim sambil mendengus-dengus. Kak Zah membantu dengan memegang buah dada Kak Zah dengan lebih rapat. Beberapa ketika kemudian Abang Hashim memegang koneknya lalu memancut-mancut air mani yang pekat mengenai buah dada dan dagu Kak Zah.

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 06/26/11--16:16: Asyiknya Jadi Instruktur
  • Cerita Dewasa - Kejadian ini aku alami saat aku masih bekerja part-time di salah satu lembaga pendidikan komputer di Jakarta. Waktu itu salah seorang temanku ada yang menawarkan lowongan di tempat tersebut sebagai instruktur komputer part-time. Aku pikir boleh juga, toh mata kuliahku juga tinggal sedikit sehingga dalam seminggu paling cuma dua hari kuliah. Sisanya ya nongkrong di tempat kost atau jalan sama temen-temen.

    Kira-kira di bulan ketiga aku menjadi instruktur, aku mendapat murid yang mengambil kelas privat untuk Microsoft Office for Beginner. Sebetulnya aku paling malas mengajar beginner di kelas privat. Toh kalo cuma pengenalan ngapain mesti privat. Kalo advanced sih ketauan. Hampir saja aku tolak kalau waktu itu aku tidak melihat calon muridku tersebut.

    Namanya Felice, siswi kelas tiga SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup borju di Jakarta. Secara tak sengaja aku melihatnya mendaftar diantar maminya, saat aku mau mengambil beberapa CD di ruang administrasi. Tubuh Felice terbilang tinggi untuk gadis seusianya, mungkin sekitar 168 cm (aku mengetahuinya karena saat dia berdiri tingginya kira-kira sedaguku, sementara tinggiku 182 cm) dengan berat mungkin 45-an kg. Kulitnya putih bersih, wajahnya oval dengan kedua mata yang cukup tajam, hidung yang mancung dan bibir yang mungil. Rambut coklatnya yang dihighlight kuning keemasan tergerai sebatas tali bra.

    Felice cukup cepat menangkap materi yang kuberikan. Materi beginner yang sedianya diselesaikan 24 session, dituntaskan Felice hanya dengan 19 session. Apa boleh buat, sisa waktu yang ada hanya bisa kugunakan untuk memberinya latihan-latihan, karena kebijakan dari lembaga pendidikan tidak memperbolehkan murid mengakhiri term meskipun materi telah selesai. Aku juga tidak diperbolehkan memberi materi yang lebih dari kurikulum yang diambil si murid. Ya sudah, aku hanya menjaga integritas saja.

    Di sisa session, sambil latihan aku banyak mengobrol dengan Felice. Gadis manis itu sangat terbuka sekali denganku. Felice cerita mulai dari keinginannya kursus untuk persiapan kuliah di bidang kesekretarisan nanti, tentang pacarnya, keluarganya yang jarang memberinya perhatian karena kedua orang tuanya sangat sibuk, sampai urusan.. ehm seks. Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa Felice sudah mulai berhubungan seks semenjak kelas tiga SMP dengan pacarnya yang berusia 7 tahun lebih tua darinya. Semenjak itu Felice merasa ketagihan dan selalu mencari cara untuk memuaskan nafsunya. Dia pernah pacaran dengan 4 cowo sekaligus hanya untuk mendapatkan kepuasan seksnya.

    Kami saling bertukar cerita. Dan Felice juga terkejut ketika mengetahui bahwa hubungan badanku yang pertama malah dengan ibu kost. Kami pun banyak bertukar pengalaman. Sampai akhirnya Felice telah menyelesaikan term kursusnya, kami tetap kontak lewat telephone.

    Suatu ketika Felice memintaku untuk mengajar di rumahnya. Rupanya setelah mahir menggunakan Microsoft Office, banyak teman-teman sekolahnya yang tertarik ingin belajar juga. Felice pun menawarkan mereka untuk ‘main belakang’. Karena biaya kursus di lembaga tempatku mengajar cukup mahal, Felice mengajak teman-temannya untuk membayarku mengajar di rumahnya dengan separuh harga. Sementara mereka minta kepada orang tua mereka harga kursus di lembaga.
    Felice and the gank ada enam orang termasuk Felice sendiri. Dan aku baru tahu bahwa mereka korban kesibukan orang tuanya masing-masing. Yah, tipikal anak-anak metropolitan yang diberi kasih sayang hanya dengan uang. Angie, Vanya, Sisil, Lala dan Ike adalah teman-teman sekolah Felice. Seru juga ngajarin mereka. Kadang aku mesti meladeni candaan mereka, atau rela menjadi bahan ledekan (karena hanya aku yang cowo).

    Hari itu baru jam 11 ketika Felice meneleponku. Dia memintaku untuk datang lebih cepat dari waktu belajar biasanya. Aku oke-oke saja karena waktunya memang cocok. Jam 2 aku sudah berada di rumah Felice.
    “Tumben Fel, jam segini udah nyuruh gue dateng.” tanyaku.
    “Iya, lagi bete..” jawabnya dengan wajah agak kusut. Aku mengacak-acak rambutnya pelan, lalu mencubit hidungnya.
    “Kenapa nih? Cerita dong..” Felice tersenyum sambil mencubit pinggangku. Tiba-tiba gadis itu menarik lenganku dan mengajak ke kamar tidurnya.
    “Hei..hei.. apa-apaan nih..” seruku.
    “Nggak apa-apa hihihi..” Felice terus menarikku hingga ke atas ranjangnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera merengkuh tubuh langsingnya yang terbungkus kaus ketat dan celana pendek. Aku lumat bibir mungilnya yang lembut.
    “Mmmhh.. mm..” bibir kami saling melumat. Felice kelihatan asyik sekali menikmati bibirku. Kedua tangannya sampai meremas rambutku. Sementara kedua tanganku masuk dari bawah kaus untuk merengkuh payudaranya yang masih terbungkus bra. Ugh.. bulat sekali, bentuknya betul-betul sempurna. Aku meremas-remas payudara Felice. Gadis itu semakin bernafsu. Lidahnya semakin liar menjelajahi mulutku, dan remasan tangannya semakin erat.

    Tanpa aku minta Felice melepas sendiri kaus yang ‘mengganggunya’ berikut dengan bra-nya. Hmm.. terlihat jelas sudah dua gundukan payudaranya yang bulat dan montok. Yang aku heran kenapa kedua puting susunya masih berwarna merah muda. Padahal Felice cerita bahwa dia sudah sering sekali berhubungan badan. Tanpa ampun aku langsung menyambar payudaranya dengan mulutku. Lidahku menari-nari lincah mengikuti lekukan payudaranya yang indah.

    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
    Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

    “Sshh.. Riioo.. aahh..” Felice mendesah keasyikkan. Kepalaku dipeluk erat ke dadanya. Upss.. hampir aku sesak nafas dibuatnya. Lidahku terus bermain di kedua payudaranya. Juga putingnya. Hhmm.. nikmat sekali, putingnya betul-betul kenyal. Aku menggigitinya pelan-pelan untuk memberikan sensasi di puting Felice.
    “Aahh.. Yoo..” tubuh Felice menggelinjang menahan rasa nikmat. Kami saling berpelukan erat, dan tubuh kami bergulingan tak karuan di atas ranjang. Gairah Felice semakin memuncak. Dengan liar gadis itu mencopoti semua kancing bajuku dan menanggalkannya dari tubuhku.
    “Uuhh.. awas ya, sekarang gantian..” katanya. Aku diam saja ketika Felice dengan penuh hasrat melepas celana panjang dan celana dalamku. Tubuhku sudah bugil tanpa busana.

    Dengan penuh nafsu, Felice langsung menyambar batang penisku yang mulai mengeras, dan mengisapnya. Aku tersenyum melihat gayanya yang buas. Aku sedikit memiringkan tubuhku agar bisa mencapai celana pendeknya. Tanpa kesulitan aku melepas celana pendeknya dari tubuh Felice, sekaligus dengan celana dalamnya. Hmm.. paha gadis itu benar-benar putih dan mulus. Aku segera merangkul kedua pahanya untuk melumat kemaluan Felice yang tersembunyi di pangkal pahanya.

    Kami ‘terjebak’ dalam posisi 69. Dengan liar lidahku menjelajahi permukaan vagina Felice. Jemari-jemariku membantu membeleknya. Aahh.. aroma khas itu langsung tercium. Aku langsung mengulum klitoris Felice yang seolah melambai padaku.
    “Uughh.. aahh.. Yoo.. gila lo.. aahh..” Felice sampai menghentikan kulumannya di penisku untuk meresapi kenikmatan yang kuberikan di vaginanya. Aku tak mempedulikan desahan Felice yang keasyikan, lidahku semakin liar menjelajahi vaginanya. Klitoris Felice sampai basah mengkilat oleh air liurku.
    Tak tahan oleh kenikmatan yang kuberikan lewat mulut, Felice segera bangkit dari posisinya dan memutar tubuhnya yang indah. Dalam sesaat saja tubuh putih mulus itu telah menindih tubuhku. Kedua tangannya bertumpu di ranjang mengapit leherku.
    “Come on Yo.. give me the real one.. sshh..” desahnya penuh nafsu sambil mendekatkan vaginanya ke batang penisku. Aku membantunya dengan menuntun penisku untuk masuk ke dalam liang kenikmatan itu. Ssllpp.. bbleess..
    “Sshh.. sshh.. oohh.. Yoo..” Felice merintih keasyikan seiring dengan tubuhnya yang naik turun. Sementara kedua tanganku asyik memainkan kedua puting susunya yang kenyal. Bibir mungil Felice yang terus mendesah kubungkam dengan bibirku. Lidahku bermain menjelajahi rongga mulutnya. Tubuh Felice mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan dari segala arah. Pantatnya semakin cepat naik-turun.

    Dengan gemas aku memeluk tubuh indah itu, dan berguling ke arah yang berlawanan. Sekarang aku yang menguasai permainan. Felice merentangkan kedua belah kakinya yang putih mulus itu. Tanpa ampun aku kembali menghujamkan batang penisku yang sudah basah ke dalam vaginanya. Felice kembali merintih tak karuan. Sementara kedua tanganku bergerilnya menjelajahi pahanya yang mulus. Dengan jemariku aku berikan sensasi di sekitar paha, pantat dan selangkangan Felice. Tubuh Felice semakin menggelinjang. Gadis itu tak kuasa lagi menahan nikmat yang dirasakannya. Dinding vaginanya mulai berdenyut.

    “Rioo.. sshh.. aahh..” akhirnya Felice mencapai klimaksnya. Cairan kewanitaannya membanjiri penisku di dalam sana. Tubuhnya langsung tergolek pasrah. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tiba-tiba Felice merengkuh leherku dan mendekatkan ke wajahnya.
    “Awas ya, bentar lagi tunggu pembalasan gue..” desahnya dengan nada menantang.
    “Coba kalo bisa, gue mau liat..” jawabku balik menantang seraya mengecup bibirnya. Kemudian kami bersih-bersih bersama di kamar mandi. Aku dan Felice mengulangi lagi permainan tadi di kamar mandi, dan untuk kedua kalinya gadis manis itu mencapai klimaksnya.

    Sekitar jam setengah empat sore sebenarnya waktu belajar akan dimulai, namun Felice memaksaku untuk melakukannya sekali lagi di ranjangnya. Gadis itu penasaran sekali karena aku belum mencapai klimaks. Semula aku menolak karena takut sebentar lagi yang lain datang. Namun Felice membungkam mulutku dengan puting susunya. Apa boleh buat, kami kembali melanjutkan permainan.

    Benar saja, sepuluh menit sebelum jam empat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rupanya kami baru sadar kalau pintu depan dari tadi tidak dikunci. Sisil dan Ike yang baru saja datang langsung nyelonong ke kamar setelah tidak mendapatkan Felice di ruangan lain.

    “Hei.. gila lo berdua..!!” Sisil menjerit heboh. Aku dan Felice yang sedang dalam posisi doggie style terkejut dengan kedatangan mereka. Aku menatap Felice dengan bingung, tapi gadis itu tenang-tenang saja.
    “Aduh Fel, lo kok gak bilang-bilang sih kalo mo barbequean.. ajak-ajak dong..” cetus Ike tak kalah hebohnya. Felice menanggapi dengan tenang.
    “Udah nggak usah ribut, lo join aja langsung sini..” tanpa dikomando dua kali kedua gadis itu langsung melepas pakaiannya dan bergabung dengan aku dan Felice di ranjang. Hmm.. aroma sabun dan shampoo yang masih segar segera tercium karena mereka berdua baru saja mandi.

    Entah kenapa hari itu Angie, Vanya dan Lala kebetulan tidak datang. Angie sempat menelpon untuk memberitahu bahwa dia harus mengantar kakaknya ke dokter. Vanya ada acara weekend dengan keluarganya, sehingga harus berangkat sore itu juga. Sedangkan Lala tidak ada kabar.

    Hari itu otomatis tidak ada session. Kami berempat bersenang-senang di kamar Felice sampai menjelang malam. Aku sempat tiga kali mencapai klimaks. Yang pertama saat dengan Felice, tapi aku harus membuang spermaku di mulutnya karena Felice tidak mau ambil resiko. Klimaks yang kedua ketika Ike dan Felice melumat batang penisku berdua. Aku betul-betul tak tahan saat mulut mereka mengapit batang penisku dari sisi kiri dan kanan. Dan yang terakhir aku tuntaskan di dalam vagina Sisil. Semula aku akan mencabut penisku untuk mengeluarkan spermaku di luar. Namun Sisil yang sudah kepalang nafsu malah mempererat pelukannya di tubuhku, hingga akhirnya spermaku menyembur di dalam. Dan pada saat yang bersamaan Sisil juga mencapai klimaksnya.

    Setelah makan malam, Sisil dan Ike menelpon ke rumah masing-masing untuk memberitahu bahwa mereka menginap. Dan kami pun mengulangi kenikmatan-kenikmatan itu semalam suntuk. Di rumah Felice betul-betul bebas, sehingga permainan kami berempat betul-betul variatif. Kadang di ranjang, di ruang tamu, di sofa, di meja makan, di kamar mandi, di kolam renang. Yang paling gila waktu Ike mengajakku bermain di gazebo kecil yang dibangun di halaman belakang rumah Felice. Waktu itu sudah jam 1 pagi. Asyik sekali ditemani hawa dingin kami saling menghangatkan.

    Malam itu aku betul-betul akrab dengan Sisil dan Ike. Tak seperti sebelumnya, meskipun akrab namun mereka masih menganggapku seperti guru mereka, jadi masih ada rasa segan. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa sebetulnya mereka berenam sama-sama pecandu seks. Felice cerita bahwa mereka sering sekali ngerjain anak-anak kelas satu yang baru di sekolah mereka. Rumah Felice ini sering sekali dijadikan ajang pesta seks mereka. Aku sampai geleng-geleng mendengar kegilaan mereka.

    Hari-hari berikutnya aku jadi akrab dengan mereka berenam. Di kesempatan lain aku berhasil menikmati tubuh keenam abg itu pada hari yang sama. Hubungan aku dan mereka sempat berlangsung lama, hingga akhirnya setelah mereka lulus sekolah dan mereka saling berpencar. Vanya, Sisil dan Lala melanjutkan studi mereka ke Aussie, sedangkan Ike memilih belajar di USA, Angie dan Felice sama-sama ke Singapore. Tapi kami masih kontak via chat dan email. Beberapa bulan lagi rencananya mereka akan sama-sama pulang ke Indonesia, dan kami sudah mempersiapkan rencana pesta yang luar biasa. Tunggu aja ceritanya..

    * TAMAT *

    Download cerita dewasa ini??? klik disini

  • 08/08/20--07:25: Cerita Dewasa
  • cerita dewasa

    Kata Pengantar

    MySpace
    Selamat Datang di Situs Cerita Dewasa ini.
    Situs ini merupakan Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, dan Cerita Serem

    MySpace
    Saya ucapkan terima kasih buat anda yang sudah setia hadir untuk membaca cerita dewasa di situs Cerita Dewasa ini.

    MySpace
    Saya pribadi selaku admin, menghimbau kepada pengunjung supaya menyesuaikan umur anda untuk membaca Situs Cerita Dewasa ini. Bagi anda yang masih berumur di bawah 17 tahun diharap untuk menutup Situs Cerita Dewasa ini, karena Situs Cerita Dewasa ini hanya untuk anda yang sudah berumur 17 tahun ke atas pada umumnya dan bagi anda yang sudah mempunyai pasangan pada khususnya.
    Situs Cerita Dewasa ini di Dukung oleh sponsor-sponsor yang telah mengiklankan iklannya di Situs Cerita Dewasa ini. Maka dari itu saya berharap kepada anda untuk berpartisipasi meng-KLIK iklan yang ada di situs Cerita Dewasa ini demi makin majunya situs Cerita Dewasa ini.

    MySpace
    Bagi anda yang punya cerita, dan ceritanya mau ditampilkan di situs ini, silakan kirim cerita anda ke cerita.dewasa17@gmail.com
    OK... mungkin itu saja prakata dari saya, saya ucapkan selamat membaca dan happy slalu..

    Untuk Daftar Judul Cerita Dewasa KLIK DISINI

    MySpace